Drama Panjang Berakhir, Jerman dan Perancis Resmi Batalkan Proyek Jet Tempur FCAS Senilai 100 Miliar Euro

Ambisi besar benua biru untuk melahirkan jet tempur generasi keenam secara mandiri akhirnya resmi menemui ajal. Setelah melewati drama perselisihan, ego politik, dan ketegangan industri yang berlarut-larut selama bertahun-tahun, Pemerintah Jerman dan Perancis dilaporkan telah sepakat untuk membatalkan proyek Future Combat Air System (FCAS).
Menurut pernyataan resmi dari dua pejabat tinggi Jerman yang dikutip oleh kantor berita Reuters, para pemimpin kedua negara telah mencapai titik buntu dan memilih untuk menyudahi program pertahanan paling ambisius dalam sejarah modern Eropa tersebut. Dengan keputusan tragis ini, proyek raksasa yang diperkirakan bernilai investasi hingga 100 miliar Euro tersebut kini resmi berakhir menjadi tumpukan cetak biru tak terpakai, sekaligus menandai runtuhnya pilar utama integrasi pertahanan Uni Eropa yang selama ini digadang-gadang sebagai simbol kemandirian taktis dari hegemoni teknologi militer Amerika Serikat.
Jika menengok ke belakang, perjalanan proyek FCAS sejatinya dipenuhi oleh lika-liku dan benturan kepentingan yang tajam sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 2017 oleh Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Emmanuel Macron. Proyek ini awalnya dirancang bukan sekadar untuk membangun jet tempur siluman baru pengganti Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale, melainkan sebuah ekosistem tempur udara masa depan terintegrasi (Next Generation Weapon System) yang mencakup armada drone pengawal otonom (Loyal Wingman) serta jaringan awan tempur (combat cloud) berbasis kecerdasan buatan.
Langkah awal tersebut sempat memicu optimisme tinggi di pasar alutsista global, bahkan sempat berhasil menarik Spanyol untuk bergabung sebagai mitra ketiga guna memperkuat struktur pendanaan dan riset. Namun, riak-riak perpecahan segera muncul ke permukaan ketika proyek ini mulai memasuki fase pembagian kerja teknis, di mana panggung diplomasi pertahanan justru berubah menjadi arena perebutan pengaruh yang sengit.
⚡🇫🇷🇩🇪 France and Germany clash over future of Europe’s next generation fighter jet
Europe’s flagship 6th generation combat aircraft program is facing growing uncertainty as disagreements between Dassault and Airbus reportedly stall progress on the FCAS/SCAF project.
The… pic.twitter.com/8rYXG80K2X
— Defence Index (@Defence_Index) June 9, 2026
Titik krusial yang menjadi motor penggerak kehancuran FCAS adalah perselisihan sengit mengenai hak kekayaan intelektual (IPR) dan dominasi kepemimpinan teknologi antara raksasa dirgantara Perancis, Dassault Aviation, dengan raksasa pertahanan Jerman, Airbus Defence and Space.
Dassault, yang memiliki pengalaman panjang dalam mendesain jet tempur murni secara mandiri lewat keluarga Rafale, bersikeras menuntut peran sebagai arsitek utama dengan kendali penuh atas sistem kendali terbang (flight control). Di sisi lain, Airbus dan Berlin menolak didikte dan menuntut pembagian kerja yang setara secara proporsional demi melindungi kepentingan industri domestik mereka.

Drama perselisihan sempat mereda pada akhir tahun 2022 melalui kesepakatan politik yang dipaksakan di tingkat menteri, namun api dalam sekam kembali membara ketika Jerman secara sepihak memutuskan untuk membeli jet tempur F-35 dari Amerika Serikat sebagai solusi taktis jangka pendek untuk mengangkut bom nuklir NATO—sebuah langkah yang dinilai Paris sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat kemandirian alutsista Eropa.
Kematian tragis proyek FCAS dipastikan akan mengubah peta geopolitik dan doktrin pengadaan alutsista global secara masif. Bagi Perancis, kegagalan ini kemungkinan besar akan memaksa Dassault dan industri pertahanan domestik mereka untuk kembali berjalan sendiri (going solo) dalam mengembangkan jet tempur masa depan mereka, sebuah tradisi yang pernah mereka lakukan dengan sukses ketika keluar dari proyek Eurofighter di masa lalu untuk melahirkan Rafale.
Sosok J-XX ‘Tampak’ di Udara, Inilah Jet Tempur Generasi Keenam Cina
Sementara bagi Jerman, pembatalan ini membuka peluang besar bagi Berlin untuk mengalihkan pandangan dan potensi anggarannya demi bergabung dengan proyek rival setaranya, Global Combat Air Programme (GCAP), sebuah konsorsium jet generasi keenam bentukan Inggris, Italia, dan Jepang.
Pada akhirnya, runtuhnya FCAS menjadi pelajaran sejarah yang mahal dalam dunia militer internasional bahwa menyatukan visi pertahanan berteknologi tinggi di atas meja diplomasi sering kali jauh lebih sulit daripada memenangkan pertempuran itu sendiri di medan laga. (Gilang Perdana)


