Rusia Kembangkan Helm dengan Detektor Drone dan Perangkat Jammer Portabel untuk Prajurit

Eskalasi pertempuran modern yang didominasi oleh ancaman drone di garis depan mendorong militer Rusia untuk terus melahirkan inovasi teknologi untuk perlindungan pada level individu.
Gubernur Wilayah Khabarovsk, Dmitry Demeshin, dalam konferensi pers di pusat informasi regional TASS Far East mengungkapkan bahwa para spesialis di wilayahnya telah berhasil merancang helm khusus bagi personel militer yang dilengkapi dengan sistem deteksi drone terintegrasi.
Perangkat inovatif ini dirancang mampu menampilkan jarak keberadaan drone musuh secara otomatis langsung ke hadapan prajurit tanpa mengharuskan mereka menolehkan kepala. Langkah ini menjadi wujud nyata komitmen industri pertahanan regional dalam memasok perlengkapan taktis mutakhir, mulai dari kendaraan segala medan hingga perangkat deteksi dini, guna menjamin keselamatan prajurit infanteri dari intaian drone musuh yang kian mematikan.
Inovasi perlindungan perorangan tersebut juga berjalan seiring dengan kemunculan sistem electronic warfare (EW) portabel baru yang dirancang untuk dikenakan langsung oleh prajurit di medan laga. Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, sistem anti-drone tenteng ini terdiri dari modul yang dipasang di bagian belakang helm dengan dua antena mencuat ke atas, rangkaian kabel penghubung, layar tampilan yang dipasang di lengan, serta sebuah unit baterai portabel.

Berbeda dari perangkat jammer konvensional pada umumnya yang fokus mengganggu frekuensi navigasi atau kendali jarak jauh (control link), sistem inovatif buatan Rusia ini bekerja dengan cara mendeteksi pancaran emisi radio drone secara pasif, mencegat sinyal transmisi video, lalu menampilkannya ke layar lengan sebelum prajurit memilih untuk mengaktifkan fungsi pengacakan (jamming) pada tayangan video tersebut.
Pendekatan teknis yang dipilih Rusia ini dinilai sangat unik karena fokus untuk melumpuhkan transmisi video alih-alih melakukan broadband noise jamming berskala besar yang membutuhkan daya listrik tinggi. Mengingat sinyal video dipancarkan dari drone dengan daya kuat agar sampai ke operator, sistem presisi tinggi ini mampu mengidentifikasi frekuensi tepat tanpa harus membanjiri berbagai spektrum frekuensi yang justru berisiko membahayakan komunikasi internal pasukan sendiri sekaligus memperkecil jejak elektromagnetik pemakainya.
Hadapi Drone FPV Serat Optik, Rusia Patenkan Sistem ‘Wall of Fire’ untuk Melindungi Objek Vital
Kendati demikian, sistem canggih ini tetap memiliki keterbatasan operasional, terutama ketidakmampuannya dalam menghadapi ancaman drone FPV (First Person View) berbasis serat optik (fiber-optic drones) yang menggunakan koneksi kabel fisik untuk mengirimkan data video tanpa terpengaruh sinyal gelombang radio.
Perlombaan pengembangan teknologi penangkal drone perorangan ini mencerminkan betapa krusialnya perlindungan bagi pasukan infanteri di tengah pertempuran urban yang padat, di mana drone kini bertanggung jawab atas sebagian besar korban jiwa dan kehancuran taktis di garis depan.
Baik Rusia maupun Ukraina terus berpacu memodifikasi taktik serta perangkat keras mereka untuk mengatasi dominasi udara tingkat taktis. Kehadiran helm berdetektor jarak dan sistem penangkal video drone portabel menandai babak baru evolusi perang asimetris, di mana keselamatan prajurit di parit pertahanan sangat ditentukan oleh kecepatan adaptasi teknologi di tingkat infanteri paling dasar. (Gilang Perdana)
Related Posts
-
Army 2022 Resmi Dibuka, Rosoboronexport Pamerkan Persenjataan Canggih Rusia ke 50 Negara
3 Comments | Aug 15, 2022
-
Di Balik Kunjungan Macron ke Indonesia, Potensi Tambahan 12 Unit Rafale Sampai Kontrak Efektif Scorpene Class
12 Comments | May 28, 2025 -
RFS Kommuna – Salvage/Rescue Ship Berusia Satu Abad, Dikerahkan ke Titik Tenggelamnya RTS Moskva
10 Comments | Apr 24, 2022
-
LCT20 Turret: Adopsi Kubah Kanon 20mm di Ranpur Anoa 2 6×6
13 Comments | Nov 20, 2014


