Iran Klaim Sita Drone Bawah Laut AS Dive-LD Buatan Anduril di Selat Hormuz

Ketegangan di jalur logistik energi global kembali meningkat setelah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menyita sebuah kendaraan bawah laut tak berawak (Autonomous Underwater Vehicle/AUV) milik Amerika Serikat. Penangkapan drone bawah laut tersebut dilakukan oleh armada Angkatan Laut IRGC (IRGCN) di area strategis pintu masuk Selat Hormuz.

Baca juga: Mengenal ‘Remus 600’: Drone Bawah Laut (AUV) Milik AS yang ‘Diciduk” Houthi

Media pemerintah Iran merilis sejumlah foto yang menampilkan fisik drone sepanjang 5,8 meter tersebut lengkap dengan penanda (markings) identitas Amerika Serikat yang masih terlihat jelas. Pihak militer Amerika Serikat membenarkan adanya unit AUV yang jatuh ke tangan Iran, namun memberikan narasi balasan yang berseberangan terkait urgensi alutsista tersebut.

Pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa drone yang disita Iran merupakan unit generasi lama yang telah mengalami kegagalan fungsi (malfunction) serta mati total (dead in the water) lebih dari sehari sebelum ditemukan. AS juga menegaskan bahwa platform tersebut bukan alutsista rahasia (non-classified) dan sama sekali tidak mengangkut data intelijen sensitif saat hanyut di perairan sengketa tersebut.

Berdasarkan analisis visual dan spesifikasi awal, drone bawah laut ini teridentifikasi sebagai varian Dive-LD (Dive Large Displacement) buatan vendor teknologi pertahanan AS, Anduril Industries. Meskipun tidak membawa identitas skuadron spesifik, platform Dive-LD di kawasan Timur Tengah umumnya dioperasikan oleh armada marinir atau komando intelijen Angkatan Laut AS (US Navy)—seperti Task Force 59 yang bermarkas di Bahrain—guna mendukung pemetaan bawah laut dan deteksi ancaman ranjau.

Lokasi ditemukannya drone di pintu masuk Selat Hormuz menjadi poin krusial mengingat perairan ini merupakan titik jepit (chokepoint) maritim paling penting di dunia yang mengalirkan porsi signifikan pasokan minyak mentah global.

Pengoperasian AUV oleh AS di kawasan ini bertujuan memetakan kontur dasar laut serta mendeteksi potensi penyebaran ranjau laut oleh militer Iran, sementara aksi penyitaan oleh IRGC menegaskan ketatnya pengawasan sensor bawah air Iran di sepanjang koridor pelayaran strategis tersebut.

Anduril Dive-LD dirancang sebagai AUV modular berukuran besar yang mengutamakan daya jelajah dan fleksibilitas misi bawah air tanpa awak. Memiliki panjang 5,8 meter dengan konstruksi material komposit berdaya tahan tinggi, drone ini dirancang menggunakan teknik cetak 3D (3D-printed hull) untuk mempercepat produksi dan memangkas biaya manufaktur.

Platform ini sanggup menyelam hingga kedalaman ekstrim 6.000 meter (20.000 kaki) di bawah permukaan laut, memungkinkannya menjangkau lebih dari 95% dasar laut bumi. Dibekali sistem daya baterai canggih, Dive-LD memiliki ketahanan operasional (endurance) tinggi yang sanggup menyokong misi mandiri hingga 10 hari nonstop dengan jarak jelajah mencapai ratusan mil laut.

Sotong AUV: Prototipe Drone Bawah Laut Rancangan Dalam Negeri

Didesain untuk mengusung sensor Side-Scan Sonar, pemeta topografi dasar laut (seabed mapping), sensor Perang Elektronik (EW) bawah air, serta sistem deteksi ranjau (mine countermeasures), AUV ini mengintegrasikan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI) Lattice OS buatan Anduril yang memungkinkan navigasi mandiri, pemrosesan data sensor secara real-time, dan penyesuaian rute tanpa mengandalkan sinyal kendali jarak jauh.

Insiden di Selat Hormuz ini memperjelas pergeseran doktrin pertempuran laut modern di kawasan Teluk, di mana persaingan intelijen dan pertempuran asimetris kini kian bergeser ke ranah sistem tak berawak di bawah permukaan air (unmanned underwater vehicles). (Bayu Pamungkas)

Incar Pasar Australia, IAI Israel Tawarkan Drone Bawah Laut ‘BlueWhale’ untuk Intai Koridor Utara dan Laut Cina Selatan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *