Raytheon Uji Hadalus, Drone Bawah Laut (XLUUV) Murah Berdaya Jelajah Tinggi Pesanan US Navy

Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) terus mengakselerasi peningkatkan kapasitas tempur bawah lautnya melalui pengembangan teknologi otonom berbiaya terjangkau. Langkah ini menjadi strategi krusial di tengah wacana ekspansi armada kapal perang utama berawak yang berbiaya sangat tinggi.
Sebagai bentuk penguatan armadanya, pertukaran peran antara platform berawak dan nirawak kini mulai diwujudkan melalui pengujian drone bawah laut (Unmanned Underwater Vehicle/UUV) terbaru bernama Hadalus, sebuah kendaraan bawah laut nirawak jarak jauh yang dirancang efisien namun tetap tangguh.
Pengujian Hadalus dikonfirmasi secara resmi oleh Raytheon (anak perusahaan RTX) bersama Composite Energy Technologies (CET) setelah drone ini menyelesaikan serangkaian misi uji coba di area latihan bawah laut milik US Navy.
Dalam pengujian tersebut, Hadalus tidak hanya mendemonstrasikan navigasi otonom, tetapi juga berhasil menguji kapabilitas peluncuran muatan (payload) dari dalam dirinya saat berada dalam posisi menyelam di bawah air (undersea launch capabilities while submerged). Demonstrasi terintegrasi ini menjadi tonggak penting karena membuktikan bahwa Hadalus dapat berfungsi sebagai platform peluncur mandiri untuk mendeteksi, mendeteksi ulang, hingga mengeksekusi sasaran secara langsung di kedalaman laut.
Raytheon, an RTX business, and Composite Energy Technologies (CET) have successfully demonstrated the undersea launch capabilities of Hadalus, a new, low-cost, long-endurance unmanned undersea vehicle (UUV). pic.twitter.com/qc58YBUPlz
— Valhalla (@ELMObrokenWings) August 10, 2026
Dari spesifikasi, Hadalus masuk dalam kategori UUV berukuran besar (Extra Large Unmanned Underwater Vehicle/XLUUV) dengan dimensi panjang 34 kaki (sekitar 10,4 meter) dan penampang melintang (cross-section) berdiameter 6 kaki (sekitar 1,8 meter). Kerangka luar (exoskeleton) platform ini menggunakan material serat karbon dengan sistem free-flooded yang memberikan kekuatan serta kekakuan struktural tinggi tanpa menambah bobot secara berlebihan. Konstruksi material komposit canggih yang terinspirasi dari penamaan zona laut dalam (Zona Hadal) ini memungkinkan Hadalus untuk menyelam hingga kedalaman maksimum 9.800 kaki (sekitar 3.000 meter).
Dari segi daya jelajah, Hadalus dibekali sistem pendorong efisiensi tinggi yang sanggup membawanya menempuh jarak operasional hingga lebih dari 2.000 mil laut (sekitar 3.700 kilometer). Kendaraan nirawak ini dirancang untuk beroperasi pada kecepatan ekonomis sedang guna memaksimalkan ketahanan baterai hingga berminggu-minggu di bawah air.
Composite Energy Technologies reportedly conducted testing of its HADALUS-XL unmanned underwater vehicle, a large platform designed for long-range logistics and reconnaissance missions.
The HADALUS-XL reportedly measures 10.4 meters in length and 1.8 meters in diameter.… pic.twitter.com/eTNONJX45k
— Drone Wars (@Drone_Wars_) August 11, 2026
Hadalus mampu membawa muatan misi hingga seberat 5.000 pon (sekitar 2,27 ton) yang mencakup sistem sonar canggih, perangkat elektronik terintegrasi, serta modul peluncur internal. Desainnya yang bersifat modular dan berkonsep flat-pack memungkinkan platform ini dirakit atau dikonfigurasi ulang secara cepat di lapangan tanpa memerlukan peralatan khusus maupun tenaga ahli berketerampilan tinggi.
Salah satu keunggulan utama Hadalus terletak pada efisiensi biaya produksinya. Raytheon dan CET berhasil menekan biaya manufaktur platform ini hingga berada di kisaran sepertiga sampai seperlima dari biaya pembuatan UUV jarak jauh konvensional sekelasnya. Selain murah, proses pengembangannya bergerak sangat dinamis, di mana tim gabungan mampu merealisasikan Hadalus dari sketsa konsep hingga menjadi prototipe siap uji dalam kurun waktu kurang dari 18 bulan.
Perancis Tunjuk Naval Group Kembangkan Desain XLUUV Masa Depan, Saingi XLUUV Baru Cina-Israel
Langkah pengujian Hadalus sejalan dengan visi US Navy untuk membangun Hybrid Fleet atau armada campuran yang memadukan kapal perang berawak dengan sistem otonom di udara, permukaan, dan bawah laut. Penggunaan drone bawah laut berdaya jelajah tinggi seperti Hadalus memungkinkan penyebaran sensor stasioner, pemetaan dasar laut, pembersihan ranjau, hingga pengawasan persisten di perairan terpencil atau berbahaya tanpa mempertaruhkan nyawa personel.
Dengan jejak akustik yang jauh lebih rendah ketimbang kapal permukaan serta kemampuan beroperasi secara mandiri dalam durasi panjang, Hadalus menjadi salah satu pengganda kekuatan (force multiplier) masa depan bagi armada tempur Amerika Serikat. (Bayu Pamungkas)
Jepang Tampilkan Desain XLUUV untuk Beragam Misi Peperangan Bawah Laut


