Bukan Hanya MiG-29, Helikopter Serang Eks Soviet Rupanya Juga Jadi Wahana Tanding ‘Aggressor’ Militer AS

Dalam dunia pelatihan tempur udara, penggunaan nama jet tempur buatan Soviet seperti MiG-29 Fulcrum atau Su-27 Flanker kerap kali diasosiasikan sebagai pesawat tanding (aggressor/red air) oleh militer Amerika Serikat. Sebagai catatan, militer AS secara resmi memang tidak memiliki skuadron aggressor aktif berkekuatan MiG-29 dalam jajaran penugasan reguler.
Baca juga: Kejutan! Jet Tempur MiG-29 Fulcrum Berpeluang Lengkapi Skadron Agresor TNI AU
Namun, melalui berbagai program rahasia (classified programs), AS secara tertutup pernah mengevaluasi dan menerbangkan jet MiG-29 yang berhasil didapatkannya untuk kebutuhan pelatihan adversary. Di luar jalur militer resmi, beberapa unit MiG-29 milik sipil/swasta juga terkadang dilibatkan dalam peragaan udara (flyover) atau demonstrasi militer khusus.
Namun, skenario pertempuran tidak homogen (dissimilar combat training) ini ternyata tidak hanya terbatas pada panggung jet tempur berkecepatan tinggi. Di lini helikopter, militer AS rupanya juga memelihara dan menerbangkan helikopter serang eks-Soviet/Rusia secara aktif untuk mereplikasi ancaman nyata di udara.
Sorotan terhadap taktik ini kembali mengemuka setelah Korps Marinir Amerika Serikat (US Marine Corps) mempublikasikan keterlibatan helikopter serang berat Mil Mi-24 Hind dalam latihan skala besar Adversary Force Exercise (AFX) di Marine Corps Air Ground Combat Center, Twentynine Palms, California. Menerbangkan airframe berkode ‘118’ dengan balutan kamuflase khas, helikopter tempur buatan Rusia tersebut bertindak sebagai kekuatan musuh (opposing force) yang mensimulasikan serangan udara ke darat secara intensif terhadap posisi pasukan marinir AS.
An ex-Bulgarian Air Force Mi-24D Hind-D (N118NX) provides air support during a company attack as a part of Adversary Force Exercise 4-26 at Marine Corps Air-Ground Combat Center Twentynine Palms, California, Aug. 1, 2026.
(📸/U.S. Marine Corps photo by Sgt. Vincent Needham) https://t.co/I2LtujCXeQ pic.twitter.com/ro7Ze3Uy1G
— Guy Plopsky (@GuyPlopsky) August 10, 2026
Menariknya, praktik menggunakan helikopter asal Rusia sebagai peniruan ancaman (threat replication) oleh militer AS bukanlah hal baru yang mendadak muncul. Jejak historikal pengoperasian Mi-24 sebagai wahana tanding sudah dimulai sejak akhir era 1990-an, tepatnya saat helikopter monster ini diterbangkan oleh unit Optec Threat Support Activity dalam latihan Exercise Roving Sands ‘97 pada April 1997. Kala itu, Mi-24 dikerahkan untuk mensimulasikan serangan udara ke darat serta ancaman serangan senjata kimia terhadap garis pertahanan pasukan Amerika Serikat.
Dua unit Mi-24D Hind yang dioperasikan saat ini—dengan nomor registrasi ‘118’ dan ‘120’—memiliki riwayat panjang. Airframe ini dulunya tersimpan di Cold War Air Museum hingga 2017, sebelum akhirnya diakuisisi dan dikontrak melalui perusahaan kontraktor pertahanan swasta (VTS Aviation/S3 Inc.).
This is one hell of a Desert Storm photo. A 1st Cavalry Division AH-64A sitting alongside a captured Iraqi Mi-25 at West Heliport, Saudi Arabia (January 1991). Two very different answers to the same attack helicopter problem. Big, fast, heavily armored, and capable of carrying… pic.twitter.com/aCJ3ljCQ1q
— Air Power (@RealAirPower1) August 10, 2026
Pada Januari 2020, helikopter ini mulai rutin terlihat mengudara mendukung latihan pertempuran bersama 55th Rescue Squadron (55th RQS) US Air Force di Davis-Monthan AFB. Memasuki periode 2024 hingga sekarang, pengoperasian armada “Tank Terbang” ini semakin terintegrasi secara rutin di bawah naungan unit elite Marine Aviation Weapons and Tactics Squadron One (MAWTS-1) USMC untuk mendukung latihan Weapons and Tactics Instructor (WTI) Course.
Kehadiran Mi-24 Hind di langit AS memberikan nilai simulasi tempur yang sangat realistis dan sulit ditandingi jika hanya menggunakan helikopter buatan Barat. Karakteristik aerodinamis, jejak akustik, hingga profil ancaman visual yang diusung Mi-24 memberi kesempatan bagi para pilot helikopter penyelamat dan transportasi AS—seperti HH-60G Pave Hawk dan UH-60 Black Hawk—untuk menguji taktik manuver bertahan serta pertempuran jarak dekat helicopter-on-helicopter. Bagi unit pertahanan udara darat, latihan melacak dan mengunci target helikopter tempur asli Rusia menjadi tolok ukur kesiapan kelaikan tempur yang paling mendekati situasi perang sebenarnya.
Rahasia di Langit Arizona: Militer AS Ternyata Andalkan Mi-171E Rusia untuk Operasi Khusus
Selain Mi-24 Hind yang memerankan figur helikopter tempur berat, militer AS juga memanfaatkan keluarga helikopter Mil Mi-8 / Mi-17 Hip sebagai aset aggressor. Diperkirakan terdapat sekitar 30 unit seri Mi-17 tanpa tanda pengenal (unmarked) yang dioperasikan oleh lembaga intelijen CIA serta Aviation Technology Office (ATO) U.S. Army.
Jika Mi-24 mensimulasikan peran bantuan tembakan dan rudal, maka armada Mi-17 bertugas mereplikasi ancaman taktis berupa penerobosan udara (air assault), penyusupan pasukan khusus musuh, hingga evakuasi medis di wilayah konflik.
Helikopter Serang Mi-24 Hind dengan Cat dan Logo US Coast Guard, Ini Faktanya!
Strategi memelihara dan menerbangkan armada helikopter tempur eks-Soviet yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade ini membuktikan komitmen militer Amerika Serikat dalam mempertahankan keunggulan taktis.
Dengan menghadapi langsung wujud, suara, dan kemampuan manufaktur helikopter musuh sejak era Perang Dingin hingga masa kini, para awak penerbang dan pasukan darat AS dipastikan tidak akan terkejut saat harus berhadapan dengan alutsista buatan Rusia maupun Tiongkok di medan perang yang sesungguhnya. (Gilang Perdana)


