Gandeng Tiga Galangan, US Navy Borong 30 Kapal Perang Nirawak MUSV Senilai $1,2 Miliar

Angkatan Laut AS (US Navy) secara resmi mengumumkan rencana pengadaan 30 unit kapal permukaan nirawak kelas menengah atau Medium Unmanned Surface Vessel (MUSV) setelah berhasil menyelesaikan rangkaian uji coba operasional di laut (Phase I at-sea testing).

Baca juga: Ukraina Luncurkan MV11: USV Terbesar Keluarga MAGURA, Tanggalkan Misi Kamikaze

Demi mempercepat proses produksi dan pengerahan di lapangan, Pentagon membagi kontrak produksi secara merata kepada tiga produsen galangan kapal terkemuka, yaitu Saronic Technologies, Huntington Ingalls Industries (HII), dan Galliano Marine Services. Masing-masing galangan menerima pesanan pembuatan 10 unit kapal dengan nilai rata-rata sekitar $40 juta per unit, menjadikan total nilai investasi pengadaan armada nirawak ini mencapai US$1,2 miliar.

Keputusan pengadaan masif ini dipicu oleh performa luar biasa yang ditunjukkan selama fase pengujian operasional 24 jam nonstop yang sangat berat. Salah satu entitas yang paling mencuri perhatian adalah kapal Marauder sepanjang 180 kaki (sekitar 54,8 meter) besutan Saronic Technologies.

Dalam pengujian MUSV Marketplace, Marauder berhasil melewati serangkaian skenario pengujian paling rumit, termasuk kemampuan pelacakan otomatis (autonomous tracking), olah gerak taktis (maneuvering), hingga navigasi berbasis sensor pasif (passive perception tests) tanpa mengandalkan gelombang radar aktif sama sekali. Pemanfaatan sensor pasif ini sangat vital dalam peperangan maritim modern agar posisi kapal tidak mudah terlacak oleh sistem intelijen sinyal (ELINT) musuh.

Saronic Marauder dirancang dari awal (from the keel up) sebagai kapal otonom serbaguna dual-use bermesin ganda. Kapal ini sanggup melaju hingga kecepatan puncak di atas 25 knot dengan jarak jelajah mencapai 5.400 mil laut (sekitar 10.000 km) pada beban standar 25 metrik ton.

Geladak utamanya memiliki kapasitas muatan modular hingga 150 metrik ton—sanggup mengangkut empat kontainer ISO 40-kaki atau delapan kontainer ISO 20-kaki. Ruang payload ini dapat dikonfigurasi secara fleksibel untuk mengangkut sistem perang elektronik (electronic warfare/EW), sonar penjejak kapal selam (towed-array sonar), hingga modul peluncur rudal vertikal (containerized VLS).

Proses manufaktur Marauder juga mencatatkan rekor kecepatan industri pertahanan. CEO sekaligus Co-Founder Saronic, Dino Mavrookas, mengungkapkan bahwa Marauder berhasil dikembangkan dari desain awal hingga mengapung di air dalam waktu kurang dari satu tahun.

Kecepatan ini dicapai berkat pendekatan integrasi vertikal (vertikal integration), di mana arsitektur otonom, perangkat lunak (software), perangkat keras (hardware), serta proses pembuatan kapal dirancang secara simultan dalam satu ekosistem terpadu. Saat ini, lambung (hull) ketiga Marauder sudah mulai dirakit di galangan kapal terintegrasi milik Saronic untuk mengejar target pengerahan skala besar.

Pengadaan masif ini sekaligus melengkapi rekam jejak pengembangan kapal permukaan tanpa awak yang sebelumnya telah dioperasikan US Navy melalui unit eksperimental Unmanned Surface Vessel Division 1 (USVDIV-1) dan program Ghost Fleet Overlord.

Di kelas menengah, US Navy telah menguji keberadaan USV Sea Hunter dan USV Seahawk yang difokuskan pada misi pemburu kapal selam (Anti-Submarine Warfare). Sementara di kelas berukuran besar (Large USV), kapal eksperimental seperti USV Ranger, USV Nomad, USV Mariner, dan USV Vanguard telah mencatatkan rekor pelayaran otonom ribuan mil laut menyeberangi Samudra Pasifik.

Timur Tengah Memanas, Armada Kelima AS Operasikan High Speed Drone USV T-38 Devil Ray

Kendati armada USV ini utamanya difungsikan untuk misi intelijen, pengawasan, pengintaian (ISR), dan perang elektronik, US Navy sebenarnya sudah melangkah ke tahap pengujian sistem senjata modular. Hal ini dibuktikan dengan kesuksesan uji coba penembakan rudal pencegat SM-6 (Standard Missile 6) dari peluncur peti kemas VLS di atas geladak USV Ranger, serta pengujian rudal ringan AGM-114 Hellfire pada platform bot cepat otonom.

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Angkatan Laut AS, Hung Cao, menegaskan bahwa pengerahan armada kapal nirawak ini merupakan elemen kunci dalam mewujudkan visi “Golden Fleet” Amerika Serikat. Strategi pengadaan ini menerapkan model pasar cepat (speedy marketplace model) untuk mengadopsi teknologi komersial canggih secara kilat guna merespons dinamika ancaman maritim global yang terus berkembang.

Pengerahan armada kapal otonom pendamping ini diharapkan mampu bertindak sebagai pengganda kekuatan (force multiplier) yang memperluas jangkauan deteksi radar kapal perang berawak utama sekaligus menekan risiko jiwa para prajurit di garis depan. Pengiriman unit pertama dari kapal perang nirawak ini dijadwalkan dimulai secara bertahap pada akhir tahun fiskal 2027. (Gilang Perdana)

Garda Revolusi Iran Rilis Video Pembakaran USV Intai AS Saildrone Explorer 5838 di Pintu Selat Hormuz

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *