Laporan CNN: Stok Rudal Pencegat AS Kritis Pasca Perang Iran, Persediaan THAAD Terkuras Hingga 80 Persen

Laporan mengejutkan yang dirilis media AS, CNN, mengungkapkan bahwa persediaan rudal pencegat dan amunisi presisi jarak jauh milik militer Amerika Serikat telah berada pada tingkatan yang sangat mengkhawatirkan. Rentetan konfrontasi militer dengan Iran dalam operasi bertajuk Operation Epic Fury dikabarkan telah menghabiskan hampir 80 persen (empat perlima) dari total stok rudal pencegat THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).

Baca juga: Stok Rudal Patriot Anjlok 65% Pasca konflik Iran, AS Kucurkan Kontrak Jumbo US$58,6 Miliar ke Lockheed Martin

Tidak hanya THAAD, sekitar separuh dari persediaan rudal pencegat Patriot serta rudal jelajah Tomahawk milik AS juga dilaporkan telah dimuntahkan sejak konflik memanas.

Kondisi menipisnya amunisi ini memicu peringatan keras dari para komandan senior Pentagon kepada Presiden Donald Trump. Laporan internal menyebutkan bahwa Angkatan Darat AS (US Army) bahkan telah menghabiskan hampir seluruh stok senjata permukaan-ke-udara jarak jauh berpresisi tinggi, seperti Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM).

Temuan ini dilaporkan menjadi salah satu pertimbangan utama yang mendasari keputusan mendadak Presiden Trump untuk membatalkan rencana serangan udara berskala besar terhadap infrastruktur krusial Iran. Selain tekanan dari sekutu kawasan Teluk yang mengkhawatirkan serangan balasan Iran terhadap fasilitas energi mereka, keterbatasan stok rudal pertahanan membuat para penasihat militer mendesak Gedung Putih untuk menahan diri.

Intersepsi Serangan Rudal Balistik Iran di Al Udeid Ternyata Jadi Momen Peluncuran Rudal Patriot Terbesar dalam Sejarah AS

Menipisnya cadangan logistik ini tidak hanya membayangi kemampuan tempur AS dalam menghadapi perang berkepanjangan dengan Iran, tetapi juga dinilai para analis dapat melemahkan kesiapan strategis Washington jika harus berhadapan dengan potensi konflik masa depan melawan Cina, Rusia, atau Korea Utara.

Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengalkulasikan bahwa sebelum perang dimulai, AS diperkirakan memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot varian modern dan 452 rudal THAAD. Dengan tingkat produksi industri pertahanan AS saat ini—yang hanya mampu memasok sekitar 15 Tomahawk dan 20 Patriot baru per bulan—diperkirakan butuh waktu sedikitnya tiga tahun atau lebih bagi Pentagon untuk memulihkan cadangan THAAD ke tingkat semula.

Eskalasi Timur Tengah Memanas: Lockheed Martin Genjot Produksi Rudal THAAD Hingga Tiga Kali Lipat

Meski demikian, pusat kekuasaan di Washington memberikan bantahan resmi atas kekhawatiran tersebut. Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap menjadi kekuatan paling ampuh di dunia dan memiliki kapabilitas arsenal yang sangat memadai untuk melindungi kepentingan nasional.

Senada dengan hal tersebut, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa AS memiliki lebih dari cukup amunisi untuk mencapai seluruh target strategis Presiden Trump, sembari menekankan bahwa pemerintah terus mendorong para kontraktor pertahanan domestik untuk memacu kecepatan produksi senjata secara masif. (Bayu Pamungkas)

Perkuat Stok Sekutu dan Tangkal Ancaman Armada Cina, Angkatan Laut AS Borong Rudal Murah Jarak Jauh RAACM-ER

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *