Inggris Ungkap Drone ‘Brontanax’: Seukuran Jet Latih Hawk, Siap Jadi Loyal Wingman Typhoon dan GCAP

Kementerian Pertahanan Inggris resmi mendemonstrasikan rancangan drone Collaborative Combat Aircraft (CCA) terbaru yang diberi nama Brontanax. Pesawat nirawak bermesin jet ini dirancang khusus untuk mendampingi jet tempur utama Angkatan Udara Inggris (RAF), Eurofighter Typhoon, serta diproyeksikan berintegrasi penuh dengan platform tempur masa depan dalam skema Global Combat Air Programme (GCAP).
Baca juga: Selamat dari Krisis Finansial, Proyek Jet Tempur Generasi Keenam GCAP Resmi Diperpanjang!
Pengungkapan Brontanax menandai keseriusan Inggris dalam mengadopsi doktrin Loyal Wingman, yakni mengombinasikan jet tempur berawak dengan armada drone pendamping murah berteknologi tinggi guna memperkuat daya gempur serta ketahanan udara (air survivability) di medan tempur modern.
Dari segi dimensi dan desain aerodinamis, Brontanax memiliki panjang sekitar 12,5 meter dan rentang sayap 10 meter—seukuran dengan pesawat latih jet legendaris BAE Hawk. Meskipun berukuran cukup masif, drone ini dirancang dengan fitur kasat radar (Low Observable) yang menonjol, memanfaatkan sayap trapesium lebar, sirip ekor ganda miring ke luar (canted vertical stabilizers), bodi bergaris tegas (chine line), serta saluran masuk udara tipe serpentin (S-duct) untuk menyembunyikan bilah mesin dari pantulan radar musuh.
Dapur pacu awal prototipe ini ditenagai mesin turbofan Williams International dengan rencana penggunaan Rolls-Royce Orpheus pada varian produksi massal. Struktur kompartemen senjata internalnya (internal weapons bay) disesuaikan untuk membawa amunisi standar RAF, sementara roda pendarat utamanya yang kokoh (twin-wheel nose unit) dirancang siap beroperasi dari landasan darurat (austere airfields) hingga opsi operasional dari kapal induk.
🇬🇧 Meet Brontanax: BAE Systems has unveiled the UK’s first uncrewed autonomous Collaborative Combat Aircraft at Farnborough. Designed to fly alongside Typhoon and extend combat mass at lower cost, it’s set for ground testing at Warton ahead of a first flight next year. 🎥👇 pic.twitter.com/SKRTP1Yf4W
— UK Defence Journal (@UKDefJournal) July 22, 2026
Efisiensi biaya menjadi keunggulan utama platform ini, di mana biaya produksi satu unit Brontanax diperkirakan hanya seperempat (25 persen) dari harga satu unit jet tempur Eurofighter Typhoon. Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, menyebut peluncuran Brontanax sebagai momen terobosan (groundbreaking moment) bagi modernisasi kekuatan udara Inggris karena mampu menghadirkan kuantitas armada tempur (combat mass) berbiaya terjangkau.
Dibangun di atas arsitektur sistem terbuka (Open Architecture), Brontanax memungkinkan integrasi pembaruan sensor, Perang Elektronik (EW), maupun algoritma Kecerdasan Buatan (AI) secara cepat. Dalam skenario tempur Manned-Unmanned Teaming (MUM-T), drone ini sanggup terbang otonom, dikendalikan dari stasiun darat/AWACS, atau dipandu langsung oleh pilot dari kokpit Typhoon untuk melakukan jamming radar musuh, serangan presisi, hingga menjadi ujung tombak sensor (sensor node) di garis depan.
Saab dan Airbus Jajaki Kerja Sama Pengembangan Loyal Wingman untuk Gripen E dan Eurofighter Typhoon
Dikembangkan secara intensif oleh lebih dari 500 tenaga ahli divisi FalconWorks BAE Systems sejak tahun 2022, keberadaan Brontanax sekaligus memperkuat posisi pabrikan dalam memenangkan kompetisi program Storm Fighter milik RAF. Selain dipasangkan dengan Eurofighter Typhoon dan F-35B dalam jangka pendek, arsitektur sistem Brontanax sejak awal telah dirancang agar kompatibel dan siap menjadi elemen pendamping bagi jet tempur generasi keenam GCAP yang dikembangkan bersama Jepang dan Italia.
Berdasarkan jadwal pengembangannya, pengujian di darat (ground tests) untuk prototipe Brontanax akan dimulai dalam waktu dekat, sementara uji terbang perdana (maiden flight) ditargetkan berlangsung pada tahun 2027. (Gilang Perdana)
Gunakan Eurofighter Typhoon Sebagai Testbed, Airbus Bersiap Uji Coba Manned-Unmanned Teaming


