Pembom Strategis B-52H AS Jatuh dan Hancur Total di California, 8 Kru Tewas

Hanya sesaat setelah publik dikejutkan oleh kabar jatuhnya pengebom strategis supersonik Tu-22M3 milik Angkatan Udara Rusia di Siberia, insiden yang jauh lebih fatal menimpa pilar utama triad nuklir Amerika Serikat. Sebuah pesawat pengebom raksasa B-52H Stratofortress dilaporkan jatuh dan hancur menjadi puing sesaat setelah lepas landas dari Edwards Air Force Base (AFB) di California, Amerika Serikat.

Baca juga: Alami Masalah Mesin, Pembom Strategis Tu-22M3 Rusia Jatuh di Siberia Saat Latihan Terbang

Jika dalam insiden Tu-22M3 di wilayah Siberia seluruh awak Rusia dilaporkan berhasil selamat lewat kursi pelontar, tragedi yang menimpa B-52H milik Angkatan Udara AS (USAF) ini membawa kabar duka yang mendalam karena otoritas militer memastikan tidak ada satu pun kru yang selamat.

Tragedi mematikan ini terjadi di pangkalan uji coba militer utama yang terletak di Gurun Mojave, California, pada Senin, 15 Juni 2026, sekitar pukul 11:20 waktu setempat. Pesawat pengebom dengan nomor registrasi 60-0061 tersebut diketahui sedang melaksanakan misi penerbangan uji coba rutin.

Sesaat setelah melakukan lepas landas dan roda pesawat baru saja melipat masuk, raksasa udara ini dilaporkan mengalami masalah kritis pada sistem propulsi atau kendali penerbangan. Pesawat kehilangan ketinggian dengan sangat cepat, menghantam area dekat ujung landasan pacu, dan memicu ledakan bola api yang sangat besar. Kepulan asap hitam pekat langsung membubung tinggi ke langit gurun dan terlihat jelas dari jarak bermil-mil di sekitar pangkalan udara.

Penerbangan uji coba ini sendiri membawa manifes yang tidak biasa jika dibandingkan dengan misi operasional standar. Jika dalam penerbangan biasa armada B-52H umumnya diawasi oleh lima orang awak pesawat, penerbangan khusus ini membawa delapan orang di dalamnya.

Pihak 412th Test Wing selaku otoritas tertinggi di Edwards AFB mengonfirmasi bahwa manifes tersebut terdiri dari kombinasi personel militer USAF, warga sipil, serta kontraktor ahli, termasuk dua karyawan dari pabrikan Boeing yang bertugas memantau kinerja instrumen uji coba di udara. Mengingat dahsyatnya benturan dan kobaran api hebat pasca-tabrakan, otoritas menyatakan insiden ini tidak dapat diselamatkan dan seluruh delapan kru di dalamnya dinyatakan gugur di tempat kejadian.

Pembom B-52H Mendarat di Kualanamu, Jadi Jenis Pembom Kedua AS yang Mendarat di Indonesia

Ada alasan krusial mengapa pengebom ikonik bersayap besar ini berada di Edwards AFB dan bukan di pangkalan operasionalnya. Pesawat yang jatuh tersebut merupakan bagian dari proyek vital Angkatan Udara AS yang dikenal sebagai Radar Modernization Program (RMP). Pesawat nahas ini baru saja mendarat di Edwards AFB pada akhir tahun lalu setelah menerima peningkatan sistem radar modern berbasis AESA untuk menggantikan sistem penjejak usang yang sudah dipakai sejak era 1960-an. Investigasi mendalam kini menjadi sangat sensitif karena menyangkut integrasi teknologi mutakhir pada aset udara yang krusial.

B-52H Stratofortress sendiri memegang peran yang tidak tergantikan sebagai salah satu deteren nuklir jarak jauh paling ikonik dalam sejarah militer dunia. Meskipun rata-rata usia airframe pesawat ini sudah berada di atas 64 tahun, Pentagon tetap berencana untuk terus merawat dan menerbangkannya hingga tahun 2050 mendatang lewat berbagai program peremajaan.

Kehilangan total atau Class A mishap ini menjadi insiden fatal pertama yang menimpa armada B-52 sejak kecelakaan serupa yang terjadi di Guam pada tahun 2016 silam. Dewan Keselamatan Angkatan Udara AS saat ini telah diterjunkan secara penuh untuk menyelidiki apakah kecelakaan dipicu oleh kegagalan mekanis murni pada mesin atau ada sangkut pautnya dengan malafungsi integrasi sistem radar baru pada pesawat gaek tersebut. (Gilang Perdana)

Manfaatkan Weapon Bay, Pembom Strategis B-52H Stratofortress Angkut Kontainer Kargo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *