Ujung Pengabdian KRI Ki Hajar Dewantara 364: Korvet Latih Legendaris TNI AL Resmi Diajukan untuk Dijual

Sejak resmi dipensiunkan oleh TNI AL pada 16 Agustus 2019, nasib eks kapal perang KRI Ki Hajar Dewantara 364 sempat berada dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan sesama kapal perang Fregat Kelas Van Speijk, KRI Slamet Riyadi 352, yang dinonaktifkan pada hari yang sama.
KRI Slamet Riyadi telah lebih dahulu mengakhiri masa baktinya secara “terhormat” di medan latihan dengan dijadikan sasaran tembak penembakan rudal dalam latihan tempur laut TNI AL. Sementara itu, KRI Ki Hajar Dewantara sempat terombang-ambing tanpa kepastian operasional, meski persenjataan utamanya seperti meriam utama pada haluan telah dilepas pasca-pensiun, hingga akhirnya kejelasan nasib kapal perang buatan Yugoslavia ini mulai terkuak.
Kejelasan nasib eks korvet latih tersebut akhirnya terjawab setelah Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan permohonan persetujuan penjualan Barang Milik Negara (BMN) berupa satu unit eks KRI Ki Hajar Dewantara kepada DPR RI. Permohonan tersebut disampaikan melalui Surat Presiden (Surpres) Nomor R-33 tertanggal 14 Juli 2026 dan dibacakan oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam Rapat Paripurna DPR.
Mengingat usia pakai kapal yang telah habis serta seluruh sistem persenjataan utamanya yang sudah ditanggalkan, penjualan kapal ini dipastikan bukan untuk dioperasikan kembali oleh pihak luar, melainkan dilelang untuk dimusnahkan atau dihancurkan (scrap/besi tua).
Mengilas balik sejarahnya, KRI Ki Hajar Dewantara 364 merupakan kapal perang yang tergolong unik dalam sejarah armada TNI AL. Kapal ini dibangun oleh galangan kapal Uljanik di Pula, Yugoslavia (sekarang Kroasia), pada tahun 1980 dan resmi memperkuat jajaran Armada TNI AL pada tahun 1981.
Kapal ini didesain khusus sebagai kapal korvet latih (training frigate/corvette) untuk menggembleng para kadet Akademi Angkatan Laut (AAL). Keunikannya terletak pada rancangan ruang akomodasi yang sangat luas, dilengkapi dengan ruang kelas, fasilitas navigasi ganda, serta kapasitas tempat tidur tambahan untuk menampung puluhan kadet beserta instruktur selama pelayaran muhibah lintas samudera Kartika Jala Krida.
Selain KRI Slamet Riyadi 352, Meriam di KRI Ki Hajar Dewantara 364 Juga Sudah Dilepas
Meski difungsikan utama sebagai kapal latih, KRI Ki Hajar Dewantara 364 dibekali taring tempur yang sangat mumpuni pada masanya, sehingga mampu menjalankan fungsi sebagai korvet pemukul. Dapur pacunya mengusung konfigurasi mesin CODOG (Combined Diesel or Gas), memadukan dua mesin diesel MTU serta satu mesin turbin gas Rolls-Royce Olympus yang mampu melesatkan kapal berbobot mati sekitar 1.850 ton ini hingga kecepatan maksimal 27 knot.
Di sektor persenjataan, saat masih aktif kapal ini mengandalkan meriam utama Bofors 57mm L/70 di bagian haluan, meriam Bofors 40mm L/70 di bagian buritan, serta dua kanon anti-serangan udara Oerlikon 20mm. Tak hanya itu, kapal ini juga dilengkapi empat peluncur rudal anti-kapal MM38 Exocet serta peluncur torpedo Anti-Submarine Warfare (ASW) Honeywell Mk 46 untuk misi tempur permukaan dan bawah air.
KRI Ki Hajar Dewantara 364: Korvet Latih Pencetak Perwira Tempur TNI AL
Namun, seiring proses purna tugasnya pada 2019 lalu, persenjataan ikonik seperti meriam Bofors 57mm dan Bofors 40mm telah dilepas dari geladak KRI Ki Hajar Dewantara 364 untuk difungsikan kembali (cannibalized/re-allocated) pada penyiapan instalasi pangkalan maupun unsur kapal perang TNI AL lainnya.
Tanpa persenjataan dan dengan kondisi kelaikan laut yang sudah tergerus usia lebih dari empat dekade, opsi pelelangan untuk di-skrap menjadi langkah logis dan realistis bagi pemerintah. Meskipun perjalanan panjang sang pencetak perwira tempur TNI AL ini harus berakhir di tempat pembongkaran besi tua, rekam jejak KRI Ki Hajar Dewantara 364 dalam mendidik ribuan perwira matra laut dan menjaga kedaulatan maritim Indonesia akan tetap mencatatkan tinta emas dalam sejarah militer Nusantara. (Bayu Pamungkas)
JS Kashima: Dampingi Destroyer Makinami, Inilah Korvet Latih yang Singgahi Jakarta


