Tren ‘Shahed-136’ Pantang Surut, Taiwan Kembangkan Drone Kamikaze ‘Papa Delta’ dari Desain LUCAS AS

Demam desain drone kamikaze dengan sayap delta khas Shahed-136 rancangan Iran rupanya belum juga mereda di kancah pertahanan global. Setelah Amerika Serikat “tertular” tren ini dengan mengembangkan drone serang jarak jauh berlabel LUCAS (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System), kini giliran Taiwan yang mengembangkan drone kamikaze baru dengan racikan serupa yang dinamai Papa Delta.
Dikembangkan oleh manufaktur pertahanan lokal Thunder Tiger Group, kehadiran Papa Delta mempertegas fokus baru Taiwan dalam memperkuat taktik perang asimetris guna mengantisipasi potensi invasi dari Cina. Di kalangan pengamat militer, Papa Delta dinilai sangat mirip atau bahkan menjadi salinan langsung dari rancangan drone LUCAS buatan Amerika Serikat.
Langkah adaptasi ini sekaligus menjadi bukti bagaimana pelajaran berharga dari perang Ukraina-Rusia—yang sangat mengandalkan armada nirawak murah namun mematikan—diadopsi secara cepat oleh sekutu-sekutu Barat di kawasan Indo-Pasifik.
Taiwan’s Drone Cooperation can deliver benefits to the Caribbeanhttps://t.co/ZmvnSbq43o pic.twitter.com/SlttSlRFl9
— CaribbeanNewsGlobal (@GlobalCaribbean) July 14, 2026
Menariknya, Papa Delta bukanlah proyek drone kamikaze pertama Taiwan yang terinspirasi oleh platform Shahed. Sebelumnya, institusi riset militer andalan Taiwan, NCSIST, telah lebih dulu memperkenalkan Chien Hsiang pada Agustus 2023. Berbeda dengan Papa Delta yang berfokus pada serangan jarak jauh umum, Chien Hsiang dirancang khusus sebagai amunisi loitering anti-radiasi yang bertugas memburu dan menghancurkan radar serta sistem pertahanan udara musuh di garis depan.
Kehadiran lini ganda drone sayap delta ini menunjukkan bahwa Taiwan sedang secara serius membangun ekosistem pertahanan udara nirawak secara mandiri. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Washington demi mempercepat penguatan kapabilitas militer lokal Taipei, meskipun mereka harus bersaing dengan skala sumber daya industri pertahanan Cina yang jauh lebih superior di seberang selat.
Namun, ambisi besar pengembangan drone mandiri ini masih dibayangi oleh jalan terjal politik domestik di dalam negeri Taiwan sendiri. Pertanyaan besar yang muncul saat ini adalah seberapa konsisten pemerintah Taiwan bersedia mengucurkan anggaran jangka panjang di sektor industri drone ini.
Lebih Canggih dari Shahed-136, Inilah LUCAS Drone Kamikaze AS yang Debut Tempur di Venezuela
Sebagai gambaran, parlemen Taiwan yang saat ini dikuasai oleh kubu oposisi Kuomintang (KMT) justru meloloskan anggaran pertahanan pada Mei 2026 yang hanya fokus pada pembelian sistem senjata konvensional dari Amerika Serikat senilai 40 miliar dolar AS (setara 1,25 triliun dolar baru Taiwan). Sementara itu, proposal anggaran pemerintah senilai 6,59 miliar dolar AS (sekitar 210 miliar dolar baru Taiwan) yang dialokasikan khusus untuk pengembangan pesawat tanpa awak (UAV) dan kapal tanpa awak (USV) hingga tahun 2031 justru masih tertahan dan belum kunjung diimplementasikan.
Di tengah ketidakpastian realisasi anggaran tersebut, industri drone Taiwan dinilai masih terjebak dalam fase wacana dan seremonial forum pertahanan ketimbang langkah produksi massal yang masif. Salah satu contohnya adalah penyelenggaraan forum teknologi pertahanan nirawak yang baru-baru ini digelar di Taichung. Lokasi ini memang dikenal sebagai jantung dari industri teknologi tanpa awak di Taiwan, yang dipimpin oleh wali kotanya, Lu Shiow-yen, yang juga digadang-gadang sebagai salah satu kandidat kuat dalam pemilu presiden Taiwan mendatang. (Gilang Perdana)
‘American Shahed-136’ Kian Cerdas, Drone Kamikaze LUCAS Militer AS Bakal Dipiloti AI Hivemind


