‘American Shahed-136’ Kian Cerdas, Drone Kamikaze LUCAS Militer AS Bakal Dipiloti AI Hivemind

Militer Amerika Serikat terus bergerak cepat mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) demi merevolusi taktik perang asimetris masa depan. Platform amunisi pendarat (loitering munition) jarak jauh mereka yang bernama resmi Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS), kini bersiap menerima integrasi perangkat lunak otonom canggih Hivemind besutan perusahaan teknologi pertahanan Shield AI.
Baca juga: Akal-Akalan Jenius, Ukraina Uji Coba Luncurkan Drone Kamikaze Hornet Pakai Balon Udara
Langkah krusial ini diinisiasi oleh Office of the Under Secretary of War for Research and Engineering (OUSW R&E) guna menyuntikkan kemampuan kerja sama tim otonom (autonomous teaming) serta taktik serbuan kelompok (swarming) pada drone tersebut. Drone buatan manufaktur SpektreWorks ini jamak dijuluki oleh para pengamat militer sebagai “American Shahed-136” karena memiliki basis desain, filosofi, dan peran taktis yang menyerupai drone kamikaze andalan Iran dan Rusia tersebut, namun kini bertransformasi menjadi senjata jaringan yang jauh lebih mematikan.
Program LUCAS sendiri awalnya dikembangkan oleh Office of the Deputy Assistant Secretary of War for Prototyping and Experimentation di bawah OUSW R&E dengan target utama untuk menggelar konsep ‘affordable mass’ atau kuantitas massal yang terjangkau. Strategi ini diwujudkan dengan memproduksi drone tiruan murah dalam jumlah masif yang dapat dilepaskan dalam gelombang serangan terkoordinasi demi menjenuhkan sistem pertahanan udara musuh.
Berbeda jauh dengan rudal pintar berpemandu konvensional milik AS yang bernilai jutaan dolar, satu unit drone LUCAS hanya berbiaya sekitar US$35.000, menjadikannya opsi serangan jarak jauh yang sangat ekonomis bagi Pentagon. Kontras dengan Shahed-136 asli milik Iran atau varian Geran Rusia yang memiliki jangkauan melampaui 1.000 mil dan menjadi momok bagi infrastruktur Ukraina, konfigurasi fisik LUCAS dirancang sedikit lebih kecil dengan radius jangkauan sekitar setengah dari jarak tersebut, di mana versi dasarnya juga kerap difungsikan sebagai target pengganti dalam simulasi latihan militer.
Meski sekilas merupakan duplikasi konsep, LUCAS telah membuktikan taji besarnya dalam pertempuran nyata (combat-proven). Drone ini pertama kali dikerahkan secara masif dalam gelombang serangan pembuka terhadap target-target Iran sebagai bagian dari komponen militer AS dalam operasi gabungan bersama Israel bertajuk Operasi Epic Fury yang meletus pada 28 Februari tahun ini.
Komandan Komando Sentral AS (US Central Command), Laksamana Brad Cooper, secara blak-blakan menyebut performa LUCAS sangat sangat penting dan tak tergantikan karena efektivitasnya yang tinggi berhasil menjaga kedalaman stok munisi kritis AS berkat proses produksinya yang jauh lebih cepat dan mudah.
Melalui integrasi otak digital Hivemind yang rencananya memulai uji terbang pada Juli ini dan demonstrasi operasional penuh pada musim gugur mendatang, Shield AI memastikan efisiensi taktis LUCAS akan melompat berkali-kali lipat. Berkaca dari pengalaman Shield AI yang telah mengirimkan ratusan pilot AI serupa ke medan Ukraina, efisiensi drone serang satu arah berhasil melonjak drastis, meningkatkan probabilitas perkenaan target dari yang awalnya hanya satu banding sepuluh menjadi sepuluh per sepuluh alias akurasi mutlak.
Secara teknis, keunggulan operasional Hivemind bekerja layaknya teknologi mobil otonom swakemudi pintar seperti Tesla atau Waymo. Dengan memanfaatkan sensor internal dan unit pemroses grafis (GPU) terintegrasi di dalam komputer internalnya (edge computing), AI ini mampu mempersepsikan lingkungan sekitar secara mandiri guna merespons dinamika pertempuran secara real-time. Hal ini memungkinkan kawanan drone LUCAS untuk saling membagi tugas, menghindari rintangan, mengecoh pertahanan udara, and tetap mengeksekusi misi penabrakan target meskipun beroperasi di lingkungan yang pekat akan gangguan peperangan elektronik musuh (GPS-denied / communications-denied).
Dalam kendali taktisnya, satu operator manusia bertindak sebagai pemegang keputusan moral tertinggi dalam penggunaan kekuatan mematikan (human in/on the loop), sementara navigasi, koordinasi manuver formasi, hingga kalkulasi rantai bunuh (kill chain) sepenuhnya diserahkan kepada otomatisasi kecepatan tinggi AI guna melumpuhkan siklus keputusan taktis musuh.
Iran Pamer “Hadid 110”: Drone Kamikaze yang Diluncurkan dari Bawah Air oleh Kapal Selam
Kemampuan serbuan kelompok berbasis human-in-the-loop pada jarak yang melampaui batas pandang mata langsung (beyond line-of-sight) ini dapat terwujud berkat adopsi teknologi yang sangat istimewa pada sasis LUCAS, yakni integrasi terminal satelit komunikasi (SATCOM) miniatur. Kehadiran terminal SATCOM ini sangat krusial, sebab interaksi kendali manusia tidak akan mungkin terjadi pada jarak ratusan mil tanpa adanya tautan komunikasi satelit.
Menariknya, militer AS tidak perlu melengkapi seluruh drone dengan perangkat mahal tersebut; cukup beberapa unit drone dalam satu kelompok swarm yang mengusung terminal SATCOM untuk bertindak sebagai simpul relai komunikasi (SATCOM relay nodes), sementara sisa anggota kelompok lainnya terhubung melalui jaringan mesh lokal. Melalui kombinasi kecerdasan kolektif Hivemind dan relai SATCOM ini, seluruh kawanan “American Shahed-136” dapat dikendalikan dari belahan bumi mana pun secara presisi, mentransformasikan drone murah yang awalnya adalah senjata individual sekali pakai menjadi satu kesatuan sistem senjata terjejaring yang jauh lebih mematikan daripada jumlah komponennya. (Gilang Perdana)
Rusia Pamerkan Drone Kamikaze Geran-2 Versi Terbaru dengan Dual Mode Seeker di Victory Day 2026


