Kemandirian Alutsista: Sisbak Mortir Digital Kini Perkuat Infanteri Dua Matra TNI

Modernisasi alat utama sistem persenjataan tidak selalu harus ditempuh dengan pengadaan unit baru yang mahal. Sebuah terobosan signifikan muncul dari kolaborasi strategis antara Litbang TNI AD, Pussenif, dan perusahaan swasta nasional Hariff Defense melalui Sistem Penembakan Mortir berbasis Komputer (Sisbak Mortir).

Baca juga: Mortir 81mm: Mobilitas Tinggi Senjata Andalan Bantuan Infanteri

Inovasi “Made in Bandung” yang telah digarap sejak periode 2015/2016 ini menjadi bukti nyata bagaimana sentuhan teknologi digital mampu menyuntikkan nyawa baru pada alutsista konvensional, mengubahnya menjadi sistem yang jauh lebih presisi, cepat, dan mematikan.

Keandalan sistem ini telah terbukti di lapangan, di mana penggunaannya kini tidak hanya terbatas pada satuan infanteri TNI AD, melainkan juga telah dipercayakan kepada Korps Marinir TNI AL sebagai Senjata Bantu Infanteri (Senbanif) andalan. Kepercayaan dari dua matra ini menegaskan bahwa Sisbak Mortir Hariff Defense memenuhi standar kualifikasi operasi yang ketat, baik di darat maupun dalam mendukung operasi amfibi.

Sistem ini merevolusi alur kerja penembakan dengan membagi operasional ke dalam tiga unit digital yang saling terintegrasi secara nirkabel. Perjalanan data dimulai dari lini paling depan melalui personel Peninjau Depan (Jaupan) atau Prajurit Peninjau yang dibekali perangkat Infantry Targeting Device (ITD).

Baca juga: TACA: Solusi Posko Taktis untuk Komando dan Kendali Pasukan, Telah Digunakan di Papua!

 

Dengan bantuan teknologi Laser Range Finder (LRF), Jaupan mampu menangkap (capture) sasaran, mengukur jarak, dan menentukan koordinat objek secara instan. Data tersebut kemudian disalurkan ke Pusat Pengatur Penembakan (Pusturbak) yang berfungsi sebagai pusat kendali untuk mengolah permintaan tembakan (fire request).

Salah satu kecanggihan tambahan yang diintegrasikan oleh Hariff Defense adalah pemasangan sensor temperatur dan kecepatan angin pada elemen satuan tembak. Data lingkungan ini secara otomatis dikalkulasikan oleh komputer untuk memberikan koreksi pada arah dan sudut laras, sehingga akurasi tembakan tetap terjaga meski dalam kondisi cuaca yang berubah-ubah. Seluruh proses pengolahan data ini sanggup memangkas waktu perhitungan yang secara manual bisa memakan waktu hingga 30 menit, menjadi kurang dari satu menit saja.

Kemudahan operasional bagi prajurit menjadi esensi utama dari pengembangan Sisbak Mortir ini. Dengan inovasi “nol-kan angka”, prajurit di unit Pucuk cukup menggerakkan moncong mortir hingga indikator pada layar menunjukkan angka nol, menandakan posisi senjata telah selaras sempurna dengan hasil kalkulasi komputer.

Kesisteman pada Sisbak Mortir dibagi ke dalam tiga sub kesisteman, mulai dari Jaupan, Pusturbak dan Pucuk. Yang istimewa dari Sisbak Mortir ini adalah transmisi data antar sub sistem yang berada di bawah payung Link CY-16CH, yakni sistem komunikasi data radio (data link) dengan enkripsi khusus rancangan Hariff Defense dan Litbang TNI AD. Dalam Sisbak Mortir, Link CY-16CH berfungsi sebagai “jembatan” yang mengirimkan data koordinat sasaran, instruksi tembakan, dan posisi pasukan secara real-time.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kedaulatan negara, Hariff Defense selaku produsen menjamin keberlangsungan fungsi alat ini melalui tagline “Lifetime Support”. Jaminan dukungan seumur hidup ini memastikan bahwa setiap unit Sisbak Mortir yang digunakan oleh TNI AD maupun Korps Marinir akan selalu mendapatkan perawatan, pembaruan sistem, dan ketersediaan suku cadang secara berkelanjutan.

Sinergi ini membuktikan bahwa industri pertahanan nasional tidak hanya mampu menghadirkan teknologi mutakhir, tetapi juga memberikan kepastian operasional jangka panjang bagi para penjaga kedaulatan NKRI. (Haryo Adjie)