Tembus Patriot dan AWACS, Pilot F-5 Iran Ungkap Kisah Operasi Udara Nekat Serang Pangkalan AS di Kuwait

Sebuah pengakuan mengejutkan atas keberhasilan taktik perang udara konvensional kembali menyeruak ke ruang publik. Dalam sebuah wawancara eksklusif di stasiun televisi nasional Iran baru-baru ini, para pilot jet tempur Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF) secara terbuka menceritakan detail misi penyusupan udara berani mati yang mereka lakukan pada tanggal 1 Maret 2026 lalu.
Menggunakan jet tempur uzur era 1960-an, F-5E Tiger II, para penerbang Teheran ini mengklaim berhasil melakukan serangan mendadak dengan terbang sangat rendah (low-level strike) untuk membombardir pangkalan militer Amerika Serikat, Camp Buehring, yang berlokasi di Kuwait. Operasi nekat ini meletus di tengah kecamuk perang singkat antara AS-Iran yang dipicu oleh rentetan serangan udara gabungan AS-Israel, yang kini mulai mereda menyusul ditandatanganinya memorandum perdamaian baru.
Dalam kesaksiannya, para pilot Iran mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan operasi ini terletak pada nyali dan teknik terbang ekstrem menyusuri bumi (nap-of-the-earth). Guna menghindari deteksi sistem radar canggih berlapis milik komando AS, kawanan F-5 Iran terbang merayap di bawah ketinggian 50 kaki (sekitar 15 meter) di atas permukaan tanah.
Dengan taktik manuver ekstrem ini, mereka terbukti berhasil mengecoh payung perlindungan udara paling mutakhir di kawasan Teluk, termasuk sistem radar intai udara AWACS, baterai pertahanan udara MIM-104 Patriot, hingga patroli udara tempur (Combat Air Patrol) reguler pasukan koalisi.
Interview with the Iranian pilots who bombed US bases in Kuwait:
We attacked the US Buehring base. It was as if God turned each of our bombs into several bombs. The scale of the fire was so huge that we even saw several helicopters bursting into flames and then exploding.
The… pic.twitter.com/nURyn9ufZ3
— Arya Yadeghaar (Backup) (@AryJeayBackup) June 17, 2026
Setibanya di titik hancur Camp Buehring, jet-jet Northrop F-5 tersebut langsung melepaskan bom-bom konvensional secara presisi, yang seketika memicu kebakaran masif serta rentetan ledakan hebat pada deretan helikopter militer AS yang tengah diparkir di pangkalan tersebut.
Menariknya, klaim sepihak dari stasiun televisi Iran ini ternyata bukan sekadar propaganda perang. Rincian kehancuran di Camp Buehring belakangan terbukti valid setelah dikonformasikan oleh laporan resmi militer AS serta bukti-bukti foto satelit komersial yang memperlihatkan kerusakan parah pada infrastruktur pangkalan. Selain keberhasilan pengeboman, laporan taktis tersebut juga mengungkap drama blue-on-blue atau insiden salah tembak yang memilukan di pihak koalisi.
Klaim Sukses Hancurkan Radar AS di Bahrain dan Kuwait, Iran Rilis Bukti Foto Satelit
Di tengah kepanikan dan kacaunya koordinasi saat serangan terjadi, pasukan pertahanan udara Kuwait dilaporkan secara keliru melepaskan tembakan dan justru berhasil merontokkan tiga jet tempur F-15 Eagle milik Angkatan Udara AS yang sedang berusaha scramble mengejar penyusup.
Bagi para pengamat militer global, kesuksesan misi serang darat Angkatan Udara Iran ini menjadi studi kasus yang sangat menarik mengenai batasan dari sistem pertahanan udara modern. Peristiwa ini membuktikan bahwa di tangan pilot yang terlatih dan bernyali tinggi, platform jet tempur tua dari dekade 1960-an yang telah ditingkatkan kemampuan avioniknya (upgraded) secara mandiri oleh Iran, masih mampu menjelma menjadi senjata pemukul taktis yang mematikan.
Keberhasilan menyusup di bawah radar dan menciptakan efek kejut di jantung pangkalan militer AS ini menegaskan bahwa dalam doktrin perang udara modern, penguasaan taktik infiltrasi radikal sering kali jauh lebih menentukan ketimbang sekadar mengandalkan superioritas teknologi di atas kertas. (Gilang Perdana)


