Era KF-21 Dimulai: Korea Selatan Percepat Pensiun Total Jet Tempur F-5 Tiger II pada Akhir 2027

Langkah modernisasi kekuatan udara Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) kini memasuki fase krusial seiring dengan kesiapan operasional jet tempur generasi 4.5 buatan dalam negeri. Kepala Staf Angkatan Udara Korea Selatan, Jenderal Son Seok-rak, secara resmi mengumumkan bahwa pihak militer berencana untuk mempercepat masa pensiun seluruh armada jet tempur gaek F-5 Tiger II sebelum akhir tahun depan.
Dalam konferensi pers yang digelar di Seongnam, Provinsi Gyeonggi, Jenderal Son menegaskan bahwa ROKAF tengah bergerak cepat melakukan berbagai persiapan taktis agar jet tempur ringan legendaris tersebut dapat mengakhiri masa pengabdiannya dengan terhormat setelah menjaga ruang udara Negeri Gingseng selama lebih dari setengah abad. Keputusan ini diambil seiring dengan kesiapan matang dari pabrikan Korea Aerospace Industries (KAI) untuk segera mendistribusikan jet tempur canggih KF-21 Boramae ke skadron-skadron garis depan ROKAF.
Melihat kilas balik historisnya, F-5 merupakan jet tempur ringan bermesin ganda buatan perusahaan Northrop, Amerika Serikat, yang pertama kali dibeli oleh Seoul dalam varian F-5A/B pada tahun 1965, disusul oleh pengadaan varian F-5E/F Tiger II yang jauh lebih masif pada dekade 1970-an.
Bahkan, Korea Selatan sempat memproduksi jet tempur ini secara lokal dengan lisensi di bawah kode KF-5E/F Jegon-ho (Sky Master) pada awal 1980-an. Saat ini, diperkirakan ROKAF masih mengoperasikan sekitar 40 hingga 50 unit armada F-5E/F dan KF-5E/F yang tersisa di dalam dinas aktif, terutama ditempatkan di Wing Tempur ke-10 yang berbasis di Suwon untuk menjalankan misi intersepsi cepat pertahanan udara tingkat rendah.

Meskipun penempur tua ini sempat mendapatkan beberapa program peningkatan minor sepanjang masa pakainya—seperti integrasi kursi pelontar modern Martin-Baker, interkoneksi radio taktis, serta peningkatan avionik dasar untuk meluncurkan rudal udara-ke-udara jarak dekat AIM-9S Sidewinder—armada F-5 Korea Selatan dinilai sudah mencapai batas usia struktural yang usang.
Absennya upgrade radikal pada sistem radar konvensional APQ-159 bawaannya membuat pesawat ini kian rentan, diperparah oleh serangkaian kecelakaan fatal dalam beberapa tahun terakhir akibat faktor kelelahan logam (metal fatigue) yang semakin mendesak ROKAF untuk segera memarkirkannya secara permanen.
Percepatan pensiunnya sang “Macan” gaek ini berjalan simultan dengan progres luar biasa dari megaproyek KF-21 Boramae. CEO KAI, Kim Jong-chul, mengungkapkan bahwa jet tempur KF-21 perdana hasil produksi massal yang diluncurkan pada 25 Maret lalu telah sukses melaksanakan penerbangan perdana pada bulan April dan saat ini tengah menjalani rangkaian uji terbang intensif. Sesuai jadwal, unit produksi massal pertama ini akan resmi diserahterimakan kepada Angkatan Udara Korea Selatan pada awal September mendatang.
Jet tempur yang memulai penerbangan uji coba perdananya pada Juli 2022 ini baru saja mengantongi persetujuan akhir kelayakan tempur (final combat suitability approval). Kehadiran KF-21 Boramae dinilai sebagai tonggak sejarah besar yang memberikan Seoul kepemilikan platform pesawat tempur domestik secara mandiri, yang tidak hanya memperkuat independensi operasional militer mereka tetapi juga memperkokoh basis industri pertahanan dalam negeri serta menjadi fondasi kuat bagi pengembangan jet tempur generasi masa depan.
Menurut data resmi KAI, program pengembangan KF-21 sejauh ini telah memenuhi lebih dari 13.000 kondisi pengujian ketat dan mencatatkan sekitar 1.600 sorti penerbangan tanpa mencatat satu pun insiden kecelakaan. Melalui implementasi proses produksi otomatis yang mutakhir, KAI memproyeksikan kapasitas produksi awal berada di angka lebih dari 20 unit KF-21 per tahun. (Gilang Perdana)
Biaya Produksi Membengkak, Jadwal Operasional KF-21 Boramae Terancam Mundur


