Tag: Teknologi Militer.

Northrop Grumman Uji Amunisi 50mm Raid Hunter: Jawaban Ekonomis atas Serangan Udara Masif

Raid Hunter XM913 Northrop Grumman

Di tengah tingginya ancaman serangan nirawak dan rudal di medan tempur modern, salah satu perusahaan teknologi pertahanan, kedirgantaraan, dan keamanan terbesar di dunia, Northrop Grumman terus memperkuat sistem pertahanan udara jarak pendek (Short-Range Air Defense / SHORAD). Perusahaan yang berbasis di Falls Church, Virginia, Amerika Serikat ini mengumumkan keberhasilan uji coba aerobalistik untuk amunisi 50mm terbaru yang dirancang khusus bagi sistem pertahanan berbasis meriam (Gun-Based Air Defense / GBAD), Raid Hunter. (more…)

Thales Luncurkan HexaForce: Sistem Komando dan Kendali Berbasis AI untuk NATO dan Negara Sekutu

Perusahaan teknologi asal Perancis, Thales, resmi meluncurkan HexaForce, sistem komando dan kendali (Command and Control/C2) multi-domain generasi baru berteknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Platform ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan NATO serta negara-negara sekutu dalam menghadapi lonjakan volume data operasional dan percepatan tempo pertempuran di era konflik intensitas tinggi. (more…)

Tinggalkan GPS, Drone Rusia Adopsi Sistem Navigasi Otonom ‘Martian’ Berbasis Visual Odometry

Intensitas perang elektronik (Electronic Warfare/EW) yang semakin masif di wilayah konflik mendorong pengembang teknologi militer untuk menciptakan sistem navigasi mandiri tanpa ketergantungan pada sinyal satelit. Perusahaan asal Rusia, Ploshchad, dilaporkan berhasil mengembangkan sistem navigasi otonom baru untuk pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) yang mengadopsi prinsip navigasi ala helikopter Ingenuity milik NASA saat beroperasi di Planet Mars. (more…)

Perusahaan Australia DroneShield Luncurkan RfRecon: Perangkat Taktis Genggam Pembaca Sinyal Lawan Berbasis AI

Perusahaan teknologi anti-drone asal Australia, DroneShield, secara resmi meluncurkan perangkat radio frequency (RF) intelijen portabel terbaru bertajuk RfRecon pada 11 Agustus 2026. Alat ini dirancang khusus untuk mengatasi keterbatasan sensor maritim maupun darat generasi lama yang umumnya hanya mampu mendeteksi aktivitas frekuensi radio, tetapi lambat dalam menerjemahkan arti serta asal dari sinyal tersebut. (more…)