Donald Trump Perintahkan US Navy Tinggalkan EMALS: Kapal Induk Ford Class Kembali Gunakan Katapult Uap

Presiden Donald Trump secara resmi menginstruksikan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) untuk menghentikan penggunaan sistem peluncuran pesawat udara berbasis elektromagnetik atau Electromagnetic Aircraft Launch System (EMALS) pada kapal induk Gerald R. Ford class.
Langkah kontroversial ini menandai pembalikan kebijakan teknologi militer skala besar, di mana US Navy diwajibkan untuk kembali menggunakan sistem katapult uap tradisional (steam catapults) yang telah digunakan selama puluhan tahun. Berdasarkan laporan pejabat AS yang dikutip oleh Wall Street Journal, keputusan strategis ini membatalkan rencana modernisasi jangka panjang yang sebelumnya menjadi tulang punggung pengoperasian jet tempur pada kapal induk generasi terbaru milik Paman Sam.
Instruksi tegas tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum keamanan nasional oleh Presiden Trump. Dokumen tersebut memerintahkan US Navy untuk merancang ulang kapal induk Ford class keempat, yakni USS Doris Miller (CVN-81), beserta kapal-kapal induk penerusnya agar menggunakan sistem katapult uap. Kendati demikian, penyesuaian ini tidak berlaku untuk tiga kapal induk pertama dalam kelas tersebut. Kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78), USS John F. Kennedy (CVN-79), dan USS Enterprise (CVN-80) dipastikan tetap mempertahankan teknologi EMALS yang sudah terpasang pada struktur kapal mereka.
Keputusan kepresidenan ini secara langsung mematahkan penolakan keras yang selama bertahun-tahun ditunjukkan oleh internal US Navy serta kalangan industri pertahanan. Penolakan dari pihak Angkatan Laut dan manufaktur armada laut sejatinya didasari oleh alasan teknis dan finansial yang sangat krusial.
President Trump has directed the Navy to abandon the electromagnetic aircraft launch system (EMALS) being used on the Gerald R. Ford class carriers and return to traditional steam catapults, according to U.S. officials cited by the Wall Street Journal.
Trump signed a national… pic.twitter.com/RwcnteMOBq
— OSINTdefender (@sentdefender) August 13, 2026
Mengganti sistem peluncur EMALS menjadi katapult uap pada kapal induk yang sedang atau akan dirancang memerlukan proses desain ulang (redesign) struktur internal kapal secara masif. Langkah mendadak ini diperkirakan akan menelan biaya tambahan hingga miliaran dolar AS serta berpotensi memicu penundaan jadwal pemenuhan armada laut (delivery schedule) dalam kurun waktu yang signifikan.
Jika ditinjau dari aspek efisiensi dan biaya operasional jangka panjang, keputusan meninggalkan EMALS dinilai banyak analis militer sebagai langkah mundur secara teknologis. Meski pengembangan awalnya membengkak, EMALS sebenarnya dirancang untuk memangkas biaya pemeliharaan harian secara masif karena tidak membutuhkan jalur pipa tekanan tinggi, katup, dan boiler uap yang rumit serta menyedot banyak personel maintenance.
Keunggulan utama EMALS terletak pada kemampuannya mengatur dorongan secara halus (stepless control), sehingga memperpanjang umur pakai rangka jet tempur dan memungkinkan peluncuran drone tempur ringan. Sebaliknya, sentakan keras dari katapult uap tidak hanya mempercepat keretakan struktur pesawat, tetapi juga menyedot tenaga uap langsung dari reaktor nuklir yang membutuhkan jeda waktu mengisi ulang tekanan, sehingga memperlambat tingkat daur ulang peluncuran pesawat (sortie generation rate) dalam skenario perang intensitas tinggi.
Kembalinya US Navy ke sistem mekanika uap konvensional berisiko besar membuat Amerika Serikat tertinggal dari kekuatan maritim pesaing utamanya, yaitu Cina. Angkatan Laut Cina (PLAN) telah melakukan lompatan teknologi secara langsung pada kapal induk terbarunya, Fujian (Type 003), yang sejak awal mengadopsi katapult elektromagnetik tanpa pernah melewati fase katapult uap.
Jika AS membatasi penggunaan EMALS hanya pada tiga kapal induk awal dan kembali ke teknologi uap untuk armada masa depan, Cina berpotensi menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengoperasikan kapal induk berkatapult elektromagnetik secara penuh. Langkah politik yang diambil Trump ini diprediksi tidak hanya mengunci pembalikan teknologi di internal US Navy, tetapi juga berisiko menyerahkan keunggulan efisiensi operasional penerbangan laut kepada Angkatan Laut Cina di masa depan. (Haryo Adjie)


