DeltaQuad Rilis Evo-LE: Drone VTOL Pengintai Asal Belanda yang Sanggup Terbang 8 Jam Nonstop

Manufaktur drone asal Belanda, DeltaQuad, resmi meluncurkan Evo-LE (Long-Endurance), sebuah platform pesawat nirawak pengintai berdesain Vertical Take-Off and Landing (VTOL) sayap tetap (fixed-wing).

Baca juga: Pecahkan Rekor Pembelian Terbesar di Dunia, Taiwan Borong 280 Unit Drone VTOL Shield AI V-Bat Varian Terbaru

Varian teranyar dari lini DeltaQuad Evo ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan pengawasan taktis berdurasi panjang, seperti misi pengintaian (reconnaissance), pemantauan jarak jauh (remote watch), pengawasan perbatasan (border patrol), hingga bertindak sebagai simpul penerus komunikasi (communications relay) di area konflik.

Lompatan performa utama dari Evo-LE terletak pada daya tahannya di udara yang meningkat signifikan. Drone ini mampu mengudara hingga 8 jam nonstop dan menjelajah jarak operasional hingga 480 km tergantung bobot muatan serta kondisi cuaca di lapangan.

Dalam konfigurasi komunikasi standar, jaringan radio drone ini mampu mempertahankan tautan kendali (radio link) hingga radius 120 km dari stasiun pengendali darat. Memiliki bobot lepas landas maksimum (Maximum Takeoff Weight/MTOW) sebesar 13 kg, platform ringan ini sanggup mengusung modul muatan (payload) sensor hingga bobot 1,5 kg.

Chief Product Officer DeltaQuad, Mark van Schie, menegaskan bahwa kemampuan terbang panjang Evo-LE tidak diperoleh hanya dengan memperbesar ukuran atau kapasitas baterai secara paksa. Peningkatan ini merupakan hasil dari penyempurnaan rancang bangun airframe secara menyeluruh, integrasi sel baterai kepadatan tinggi (termasuk kemitraan teknologi sel solid-state), sistem kelistrikan ganda (dual battery configuration), arsitektur elektronik baru, hingga penguatan pada sistem pendorong VTOL.

Integrasi menyeluruh ini membuat Evo-LE tetap berada di kategori berat Group 1 yang ringan namun menawarkan kemampuan daya jelajah sekelas drone Group 3 yang berukuran jauh lebih besar.

Dari ketahanan fisik, Evo-LE menggunakan struktur fuselage komposit Block 3 yang tangguh. Rangka drone telah dilengkapi dengan segel penahan debu dan air (dust/rain seals), tabung pitot dengan pemanas bawaan (heated pitot) untuk mencegah pembekuan saat terbang di ketinggian atau cuaca dingin, serta kaki pendaratan lepas-pasang (breakaway landing struts) yang dirancang untuk menyerap dampak benturan saat mendarat darurat. Fitur ini memastikan drone mampu beroperasi di lingkungan ekstrem yang sering ditemui oleh operator di garda depan.

Guna menghadapi ancaman dalam perang elektronik modern (electronic warfare), DeltaQuad melengkapi Evo-LE dengan opsi perlindungan perang siber dan sinyal. Drone ini menyediakan fitur sistem navigasi otonom berbasis visi (inertial/vision navigation) saat sinyal GPS terganggu, tautan komunikasi terenkripsi, serta modul anti-penyampakan (anti-jamming).

Kombinasi arsitektur modular dan teknologi anti-jamming ini menjadikan Evo-LE sebagai sarana pengumpul data intelijen (ISTAR) yang andal untuk operasi militer dan keamanan perbatasan.

Angkatan Bersenjata Belanda (Koninklijke Landmacht) saat ini mengoperasikan kombinasi drone pengintai buatan dalam/luar negeri, seperti seri RQ-11B Raven, RQ-20 Puma, Puma AE, serta drone lokal buatan Dutch Drone Den/BSS untuk kebutuhan taktis tingkat peleton dan kompi. (Gilang Perdana)

Pasukan Taifib Korps Marinir Jajal Drone Intai AeroVironment RQ-20 Puma

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *