
Kekuatan artileri swagerak sudah menjadi ciri Korps Marinir dalam gelar operasinya, sebut saja dari era 60-an ada BM-14/17, berlanjut ke RM70 Grad dan yang terbaru RM70 Vampir. Itu semua masuk ke segmen self propelled MLRS (Multi Launch Rocket System). Lantas bagaimana dengan self propelled gun atau howitzer, seperti yang saat ini terdapat di etalase Atileri Medan TNI AD? Meski belum ada tanda-tanda kea rah penggunaan self propelled howitzer, namun ada kabar terbaru bahwa Korps Baret Ungu ini akan mengadopsi self propelled mortar system. (more…)

Dengan latar medan penugasan yang keras dan menantang adrenalin, satuan elit berkualifikasi amfibi dalam infiltrasi tak hanya butuh wahana yang bisa melaju di bawah permukaan laut secara senyap, namun juga perlu keberadaan wahana yang bisa mengkombinasi raid amfibi di permukaan dan penyusupan bawah air secara simultan. Satuan elit Kopaska (Komando Pasukan Katak) dan Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) Marinir TNI AL sejak beberapa tahun telah mengoperasikan sosok wahan siluman ini. (more…)

Dari segi daya guna, LST (Landing Ship Tank) bisa disejajarkan pentingnya dengan pesawat angkut berat C-130 Hercules TNI AU. Mengemban fungsi utama sebagai penghantar tank amfibi dari tengah lautan, kapal perang dengan kualifikasi LST jelas punya karakteristik, selain adanya tank deck dan pintu rampa, LST juga dicirikan dengan adanya fasilitas meja putar (turntable). (more…)

Dalam jagad pasukan kombatan, keberadaan truk taktis untuk mendukung operasi tempur adalah hal yang mutlak. Di lingkup TNI, hampir di setiap angkatan sudah cukup lama mengadopsi truk taktis macam REO M35 dari Unimog yang namanya sangat legendaris. Tapi karena mengemban tugas yang khusus, Korps Marinir TNI AL tak hanya mengandalkan REO M35 dan Unimog, masih ada truk taktis Marinir yang juga punya tongkrongan lebih sangar dan gagah, yakni LIAZ 251. (more…)

Bersamaan dengan kedatangan ranpur AMX-10 PAC 90 yang merupakan amphibious fire support vehicle, Korps Marinir TNI AL juga ikut kedatangan ranpur APC (armoured personnel carrier) generasi baru, yakni AMX-10P Marines. Baik AMX-10 PAC 90 90 dan AMX-10P Marines diproduksi oleh Nexter Systems (d/h GIAT Industries). Di tahun 1981, Korps Marinir mendapat 34 unit tank AMX-10P Marines dan 10 unit tank AMX-10 PAC 90. (more…)

Dengan niatan memperbaharui alutsista, pada tahun 1981 Korps Marinir TNI AL mendapat pengadaan alutsista yang dibeli gress dari Perancis, yakni AMX-10 PAC 9 dan AMX-10P. Kedua ranpur amfibi ini di datangkan dalam jumlah 34 unit untuk kelak bisa menggantikan peran ranpur lawas eks Uni Soviet, tank PT-76M dan BTR-50P yang legendaris. (more…)

Hadirnya seorang spotter (observer) dalam gelar aksi penembak runduk (sniper) menjadi elemen yang menentukan. Tanpa spotter, sniper hanya beraksi sebagai eksekutor rapuh yang sulit mempertahankan diri saat misinya usai. Memang tak sedikit sniper yang mampu beroperasi secara mandiri, tapi melihat kompleksitas misi dan sasaran, maka dukungan spotter dalam konteks saat ini menjadi mutlak. (more…)

Selain senapan serbu AK-47, granat berpeluncur roket RPG -7 layak dinobatkan sebagai senjata perorangan besutan Uni Soviet yang legendaris melintasi batas jaman dan telah digunakan banyak negara. Sejak dioperasikan AD Soviet pada tahun 1961, kini 73 negara telah mengoperasikan RPG-7, dan seperti halnya AK-47, RPG-7 juga banyak diproduksi oleh negara lain. Meski agak belakangan, Indonesia akhirnya ikut bergabung sebagai pengguna resmi RPG-7. (more…)

5 Oktober 1995 jadi momen menarik bagi pemerhati alutsista, selain dikenang sebagai HUT TNI (d/h ABRI) ke-50, peringatan HUT ABRI yang mengambil lokasi di Lanud Halim Perdanakusumah ini juga menyuguhkan parade dan defile peralatan militer yang terbilang besar-besaran di era Orde Baru. Menjadi maskot dalam defile kala itu tank ringan Scorpion, tank APC Stormer dan panser VAB Yon Kav 7/Sersus Kodam Jaya. Tapi bagi penulis, ada sosok lain yang lebih mampu membetot perhatian. (more…)

Sejak era 90-an, demam kendaraan taktis (rantis) sekelas jeep mulai melanda beberapa satuan TNI. Tak hanya untuk kebutuhan misi tempur, melainkan juga untuk tugas serba guna. Terlebih lagi setelah beberapa rantis berhasil diproduksi di Dalam Negeri. Sebut saja seperti varian Komodo dari Pindad untuk beberapa satuan TNI AD, P3 Cheetah Kopaska TNI AL, dan DMV-30 T/A yang dipakai Detasemen Bravo Paskhas TNI AU. Tapi jauh sebelum nama-nama rantis tadi lahir, justru sudah hadir duluan sosok rantis yang diberi label JASGU (Jeep Amfibi Serba Guna). (more…)