Berstatus sebagai jet tempu ringan, FA-50 Fighting Eagle dengan populasi 60 unit kini menjadi penempur lapis kedua di arsenal Angkatan Udara Korea Selatan – Republic of Korea Air Force (RoKAF). Menyadari bahwa penempur ini punya peran penting bagi pertahanan udara nasional, plus laris dalam pasar ekspor, maka sejumlah upgrade menjadi berkah tersendiri bagi eksistensi FA-50. Seperti dalam aspek persenjataan, FA-50 bakal lebih lethal karena nantinya mampu meluncurkan rudal jelajah KEPD-350 Taurus. (more…)
Selain F-35 Lightning II dan Dassault Rafale, maka jet tempur yang laris di pasar ekspor dalam satu tahun belakangan adalah FA-50 Fighting Falcon, yakni pesawat tempur ringan single engine produksi Korea Aerospace Industries (KAI). Dikembangkan dari jet latih tempur T-50 Golden Eagle, ada kabar bahwa Angkatan Udara Korea Selatan – Republic of Korea Air Force (RoKAF), belum lama ini merayakan momen “100,000 Accident Free Flight Hours.” (more…)
Selain jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation, jet tempur ringan (taktis) FA-50 Fighting Eagle produksi Korea Aerospace Industries (KAI) didapuk sebagai produk pesawat tempur dengan penjualan gemilang di sepanjang tahun 2022, apalagi KAI berhasil meraih kontrak jumbo untuk memasok FA-50 ke Polandia. Terlepas dari desain kompak dengan teknologi canggihnya, FA-50 juga dilirik salah satunya karena punya kemampuan close air support dan dogfight yang relatif baik. (more…)
Sebagai salah satu jet tempur ringan terlaris saat ini, FA-50 Fighting Eagle mendapatkan beragam tawaran upgrade, terutama untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Selain adopsi air refueling probe yang memungkinkan FA-50 melakukan pengisian bahan bakar di udara, jet tempur single engine tersebut juga tengah dipersiapkan untuk dipasangi jenis radar Active Electronically Scanned Array (AESA). (more…)
Jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle, desain awalnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Udara Korea Selatan. Lantaran untuk pasar domestik, maka FA-50 sedari awal tidak disiapkan untuk memiliki kemampan pengisian bahan bakar di udara (air refueling), maklum ruang udara Korea Selatan tidak luas. Namun, atas permintaan pasar ekspor, Korea Aerospace Industries (KAI) telah membuat adaptasi pada FA-50. (more…)
Mendapat berkah kebanjiran order, Korea Aerospace Industries (KAI) telah memutuskan untuk melipatgandakan kapasitas produksi jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle. Bentuk dari peningkatan kapasitas produksi dengan membuka dua jalur produksi tambahan untuk FA-50 pada tahun 2024. (more…)
Selain mengembangkan dan memasok jenis radar Active Electronically Scanned Array (AESA) untuk jet tempur KF-21 Boramae, LIG Nex1, manufaktur kedirgantaraan dan persejataan asal Korea Selatan, kini juga melucurkan jenis radar AESA untuk jet tempur ringan FA-50 Fighting Eagle. (more…)
Pada 24 Februari 2023, Korea Aerospace Industries (KAI) mengumumkan telah memenangkan kontrak senilai 1,2 triliun won (US$920 juta) untuk pengadaan 18 unit jet tempur serang ringan FA-50 Fighting Eagle ke Malaysia. Namun, saat itu belum ada komentar lebih lanjut dari pihak militer dan pemerintah Malaysia. (more…)
Jagad dirgantara tengah dibuat heboh, lantaran ‘begitu cepat’ Korea Aerospace Industries (KAI) menangani produksi pesanan jet tempur ringan – Light Combat Aircraft (LCA) FA-50 Fighting Eagle dari Polandia. Pasalnya, kontrak pengadaan total 48 unit FA-50 baru ditandatangani pada Juli 2022, dan saat ini KAI telah memperlihatkan unit perdana FA-50PL pesanan Angkatan Udara Polandia tersebut. (more…)
Korea Aerospace Industries (KAI) mengumumkan telah memenangkan kontak senilai 1,2 triliun won (US$920 juta) untuk pengadaan 18 unit jet tempur serang ringan FA-50 Fighting Eagle ke Malaysia. KAI menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Malaysia setelah mengalahkan beberapa kompetitor dalam program Light Attack Aircraft (LCA). (more…)