
Pada 12 Maret 2024, Airbus mengumumkan pencapaian pesanan ke-300 unit pesawat angkut sedang C-295, atau ada yang menyebutnya CN-295 di Indonesia. Di momen pencapaian pesanan ke-300 unit, Airbus menyebut bahwa C-295 telah sukses beroperasi dari Samudera Pasifik hingga gurun Arab, dari hutan tropis hingga Sahel dan padang rumput Kazakh, C-295 dan pangsa pasarnya telah menjadi kisah sukses bagi industri dirgantara Eropa dan Spanyol. (more…)

Mengikuti jejak Indonesia, Thailand, Filipina dan Vietnam, Brunei Darussalam kini resmi menjadi operator pesawat angkut sedang C-295 di Asia Tenggara. Batch pengiriman perdana yang terdiri dari dua unit C-295 telah tiba di Brunei Darussalam pada 16 Februari 2024. (more…)

Penerjunan kargo dengan menggunakan parasut adalah kemampuan standar bagi skadron angkut TNI AU. Namun, selama ini penerjunan kargo menggunakan parasut hanya dilakukan dengan pesawat angkut C-130 Hercules. Padahal selain C-130, masih ada jenis pesawat TNI AU yang mampu melaksanakan penerjukan kargo dengan parasut, yang salah satunya adalah dengan C-295M dari Skadron Udara 2. (more…)

Setelah lama redup kabar beritanya, rencana pengadaan pesawat intai peringatan dini – Airborne Early Warning and Control (AEW&C) untuk TNI AU kembali mencuat, khususnya setelah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberi persetujuan untuk pencarian pinjaman luar negeri dalam realisasi pengadaan AEW&C dengan pagu US$800 juta untuk dua unit AEW&C. (more…)

Rangkaian aksi pencarian dan evakuasi korban penumpang pesawat Air Asia QZ8501 secara langsung juga menampilkan performa armada pesawat angkut taktis milik TNI AU. Selain yang utama pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 31, misi SAR dan transportasi udara selama operasi terkait Air Asia QZ8501 juga menghadirkan keluarga baru TNI AU, yakni C-295M, pesawat taktis angkut sedang dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma. (more…)