
Pada awal tahun 2017, jagad alutsista di Tanah Air sempat santer dengan isu kehadiran pesawat misterius C-295 “Special Mission” untuk Indonesia. Tambah misteri lagi dengan pernyataan Fernando Alonso, Head of Military Aircraft, Airbus Defence and and Space saat bertandang ke Jakarta pada Agustus 2016, menurutnya C-295 Special Mission punya peran khusus, meski Ia tak mau menjelaskan apa yang khusus dari C-295 Special Mission. (more…)

Setelah menanti tujuh tahun, Direktorat Kepolisian Udara (Ditpoludara) akhirnya pada 7 September 2018, resmi mendapatkan pesawat sayap tetap (fixed wing) yang kesebelas. Ditpoludara sendiri telah mengajukan pengadaan pesawat ini pada tahun 2011, dan baru pada tahun 2015 dilakukan kontrak jual beli satu unit CN-295 dan satu unit helikopter Bell 412EP yang ditandatangani pada tanggal 21 September 2015, antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). (more…)

Bila tiada aral melintang, keluarga pesawat intai maritim di Indonesia akan bertambah variannya, setelah Boeing 737-2X9 , NC-212 200 dan CN-235 220 MPA (Maritime Patrol Aircraft), rencananya pada akhir November 2018, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) akan meluncurkan NC-295 MPA. Pesawat produksi Airbus Defence and Space (ADS) yang dirakit PT DI ini juga kondang dengan label “Persuader.” Dan menjadikan Indonesia sebagai negara keenam pengguna C-295 MPA setelah Chile, Portugal, Mesir, Ghana, Meksiko dan Oman. (more…)

Sudah hampir satu dekade Puspenerbad tak lagi mengoperasikan angkut sedang, maklum dahulu Skadron 2/Bantuan Umum Puspenerbad yang berpangkalan di Lanud Pondok Cabe, Jawa Barat, pernah mengoperasikan tiga unit DHC-5 Buffalo buatan de Havilland Canada. Dan kini terbesit kabar gembira, bahwa Puspenerbad TNI AD nantinnya akan diperkuat pesawat angkut sedang C-295 dari Airbus Military, jenis pesawat yang saat ini juga dioperasikan Skadron Udara 2 TNI AU. (more…)

Di Dubai AirShow 2017, Airbus Defence and Space (ADS) menampilkan pesawat C-295 versi Armed ISR (Intelligence Surveillance & Reconnaissance), karena ada embel-embel kata “armed” maka bisa dipastikan inilah gunship terbaru yang dirilis pihak ADS. Namun flashback ke tahun 2011, titisan dari senior C-295, yakni C/N-235 sudah mengangkasa sebagai gunship yang eksis di Timur Tengah, persisnya menyandang label AC-235. (more…)

Airbus Defence and Space (ADS) bisa dibilang manufaktur pesawat dan satelit yang cukup ‘terbuka’ berbagi info terkait produk yang dijajakannya. Tengok saja website airbusdefenceandspace.com, begitu menjelaskan tentang spesifikasi pesawat angkut, jet tempur, drone, sampai satelit. Terkhusus ke pesawat angkut sedang C-295, semua varian pesawat angkut yang juga digunakan Skadron Udara 2 TNI AU ini dijelaskan secara panjang lebar, kecuali C-295 varian SIGINT. (more…)

Bagi negara yang punya kekuatan udara lumayan besar, hadirnya pesawat angkut lapis kedua jelas diperlukan, perannya bisa diibaratkan sebagai pendukung pesawat angkut berat seperti C-130 Hercules. Bagi TNI AU, andalan pesawat angkut lapis kedua adalah Airbus Military/Casa C-295M. Sementara bagi AU Australia (RAAF) yang jadi andalan yakni C-27J Spartan buatan Alenia. (more…)

Dengan wilayah operasi yang luas, adalah wajar bila ketiga matra TNI membutuhkan pesawat angkut taktis untuk beragam keperluan (multipurpose). Untuk itu pun, TNI terbilang kaya ragam, khususnya di segmen pesawat angkut sedang taktis (medium airlifter). Dan salah satu yang cukup berkesan namun jarang terdengar adalah varian DHC-5 Buffalo buatan pabrik de Havilland Canada. (more…)

Dari segi senioritas, Indonesia adalah pioner dalam menghadirkan teknologi airborne surveillance system. Dibuktikan ketika pada Boeing 737 Surveillance Patmar (Patroli Maritim) hadir dengan radar SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar). Pesawat intai maritim ini mulai digunakan TNI AU sejak Juni 1982. Karena usianya sudah tergolong tua, Boeing 737 Surveillance memang telah beberapa kali diakukan upgrade pada sistem radarnya. Tapi lepas dari itu, tak bisa terbantahkan bila teknologinya sudah tertinggal. Di sisi lain, negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Australia sudah memiliki airborne surveillance system yang jauh lebih maju. (more…)

Rangkaian aksi pencarian dan evakuasi korban penumpang pesawat Air Asia QZ8501 secara langsung juga menampilkan performa armada pesawat angkut taktis milik TNI AU. Selain yang utama pesawat angkut berat C-130 Hercules Skadron Udara 31, misi SAR dan transportasi udara selama operasi terkait Air Asia QZ8501 juga menghadirkan keluarga baru TNI AU, yakni C-295M, pesawat taktis angkut sedang dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma. (more…)