Susul Yunani, Swedia Resmi Borong Empat Fregat FDI Belharra dari Perancis untuk Proyek Lulea Class

Peta kekuatan maritim Eropa Utara mencatatkan sejarah baru. Swedia resmi menandatangani kesepakatan bernilai fantastis 4,3 miliar euro dengan Perancis untuk pengadaan empat unit fregat multi-peran FDI (Frégate de Défense et d’Intervention) class. Penandatanganan yang berlangsung di Stockholm ini dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson dan Presiden Perancis Emmanuel Macron.
Di bawah panji Angkatan Laut Swedia, keempat kapal tempur permukaan buatan galangan Naval Group tersebut bakal menyandang nama resmi Lulea class dan dijadwalkan secara bertahap masuk jajaran armada Swedia pada periode 2030 hingga 2034.
Keberhasilan penjualan ini mengukuhkan posisi fregat FDI—yang juga populer dengan nama komersial Belharra class—sebagai produk unggulan alutsista maritim yang sukses di pasar ekspor global. Sebelum memikat Swedia, fregat berteknologi tinggi ini telah lebih dulu memperkuat Angkatan Laut Perancis (Marine Nationale) serta memenangi kontrak pengadaan Angkatan Laut Yunani.
Kesuksesan Belharra class mendobrak dominasi pasar Eropa tidak lepas dari inovasi desain radikalnya, terutama penggunaan haluan terbalik (inverted bow/hull) yang dirancang untuk meningkatkan stabilitas serta efisiensi navigasi saat menerjang gelombang tinggi, dipadu dengan suite radar matriks dengan teknologi AESA Sea Fire 500 buatan Thales.
Naval Group signs the contract to supply Sweden with 4 #FDI starting from 2030.
The Royal Swedish Navy joins its French and Greek counterparts and will become the 3rd #NATO navy to operate this new generation first-rank frigate.#StrongerTogether pic.twitter.com/R3GeRGFoes— Naval Group (@navalgroup) August 31, 2026
Meski empat lambung utama Lulea class dibangun oleh Naval Group di Perancis, industri pertahanan Swedia tidak sekadar menjadi penonton pasif. Mengingat Swedia memiliki basis industri galangan kapal perang terkemuka seperti Saab Kockums, kesepakatan ini mengusung skema integrasi lokal (local content) yang cukup signifikan.
Dalam kontrak, Swedia akan menyuntikkan berbagai subsistem persenjataan dan sensor canggih buatan dalam negeri ke dalam platform fregat FDI. Perusahaan pertahanan Saab akan menyuplai torpedo ringan Torped 47, rudal anti-kapal jarak jauh RBS-15, radar Giraffe 1X, hingga sistem senjata kendali jarak jauh (CIWS) Trackfire. Sementara itu, BAE Systems Bofors yang berbasis di Karlskoga, Swedia, dipercaya memasok meriam utama 57 mm dan meriam 40 mm.
Ketertarikan terhadap efektivitas dan kecanggihan fregat FDI Belharra class sejatinya juga bergema hingga ke Indonesia. Dalam rekam jejak diplomasi pertahanan, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali tercatat pernah meninjau langsung fasilitas pembuatan dan unit fregat FDI saat berkunjung ke Perancis.
Dalam kesempatan tersebut, pimpinan AL Indonesia secara terbuka menyatakan kekagumannya terhadap performa serta arsitektur digital canggih berkonsep cyber-secured yang diusung Belharra class, sekaligus mengonfirmasi bahwa kapal berdesain inverted hull tersebut masuk dalam radar pertimbangan TNI AL untuk menguatkan benteng pertahanan maritim Nusantara di masa depan. (Gilang Perdana)


