Pengiriman Gelombang Pertama Jet Tempur J-10CE Cina ke Indonesia Dilaporkan Berlangsung 6 Bulan Lagi

Dinamika modernisasi alutsista TNI AU kembali menyedot perhatian publik pertahanan global setelah kabar tenggat pengiriman jet tempur Chengdu J-10CE “Vigorous Dragon” buatan Cina ke Indonesia kian merapat.
Berdasarkan laporan terbaru dari South China Morning Post (SCMP), gelombang pertama pesawat tempur generasi 4,5 tersebut diproyeksikan tiba di Tanah Air dalam kurun waktu enam bulan ke depan, tepatnya pada April 2027.
Kedatangan armada ini menandai langkah konkret Indonesia dalam memperkuat ruang udaranya sekaligus menjadikannya operator internasional ketiga untuk jet tempur bermesin tunggal tersebut setelah Pakistan dan Uzbekistan.
Proyek peremajaan armada udara ini mencakup rencana pengadaan hingga 42 unit J-10CE dengan nilai komitmen anggaran diperkirakan mencapai US$9 miliar. Penandatanganan dan persetujuan alokasi anggaran ini menjadi sinyal kuat komitmen Kementerian Pertahanan dalam memenuhi kebutuhan Minimum Essential Force (MEF) serta mengantisipasi pengafkiran bertahap armada veteran seperti Northrop F-5E/F Tiger II dan A-4 Skyhawk yang telah lama pensiun.
Meskipun detail spesifik mengenai jumlah pasti unit yang dikirim pada batch pertama belum dibuka secara rinci ke publik, pimpinan TNI AU menegaskan proses ini terus berjalan dan meminta publik untuk bersabar menunggu kehadiran jet tempur berjuluk “Naga Perkasa” tersebut di langit Indonesia.
“#Indonesia is expected to receive its 1st Chengdu J-10CE fighter jets in 6 months, which would make it the 3rd int’l operator of the Chinese-made aircraft…Jakarta confirmed an order of 42 of the 4.5-generation fighter jets – known as Vigorous Dragons – last October”
https://t.co/laFCDAxY4D— China Beige Book (@ChinaBeigeBook) October 7, 2026
Varian yang diincar Indonesia merupakan J-10CE, yaitu versi ekspor paling canggih dari keluarga J-10C yang diproduksi oleh Chengdu Aircraft Corporation. Jet tempur ini mengusung desain sayap delta (delta-wing) gabungan canard yang memberikan lincah manuver tinggi pada rezim penerbangan transonik maupun supersonik.
J-10CE telah dilengkapi dengan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) modern, sistem avionik terintegrasi, helmet-mounted display (HMD), serta sistem peperangan elektronik (electronic warfare suite) mandiri yang tangguh.
Usai Klaim Jatuhkan Rafale, J-10C ‘Asiatic Falcon’ Pakistan Tampilkan Kill Marking MiG-29UPG India
Senjata andalan utama yang diusung oleh J-10CE adalah kombinasi rudal jelajah udara-ke-udara jarak jauh PL-15E yang dilengkapi pemandu radar aktif dan jangkauan tembak melampaui cakrawala (beyond-visual-range) hingga 145 km.
Selain itu, untuk pertempuran jarak dekat (dogfight), J-10CE dibekali rudal pemandu inframerah sudut ekstrem PL-10E. Tidak hanya andal dalam pertempuran udara-ke-udara, platform ini sanggup membawa berbagai amunisi presisi udara-ke-darat, seperti bom terpandu satelit/laser YJ-91 serta rudal anti-kapal untuk misi interdiksi maritim.
Kehadiran J-10CE diproyeksikan bakal ditempatkan di skadron udara garis depan yang mengawal zona wilayah udara krusial, seperti Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas) di wilayah barat atau timur Indonesia. Pengoperasian jet tempur buatan Cina ini sekaligus mempertegas doktrin diplomasi pertahanan Indonesia yang bebas aktif dan tidak bergantung pada satu blok produsen alutsista barat atau timur semata.
Masuknya J-10CE ke dalam inventaris TNI AU diprediksi akan mengubah peta interoperabilitas serta kesiapan teknis di tingkat skadron. Pengoperasian pesawat tempur asal Cina ini menuntut penyesuaian infrastruktur pemeliharaan, rantai pasok suku cadang, hingga fasilitas penunjang pangkalan udara yang selama ini didominasi oleh standar barat dan timur versi Rusia.
Borong 24 Jet Tempur J-10CE Cina, Bangladesh Ubah Peta Kekuatan Udara di Asia Selatan
Langkah taktis ini diyakini bakal mendorong akselerasi transfer teknologi (transfer of technology) serta pelatihan intensif bagi para penerbang dan teknisi lokal agar mampu menguasai doktrin peperangan udara berbasis ekosistem avionik Cina secara optimal.
Di tingkat regional, kedatangan gelombang pertama J-10CE tentu memantik kalkulasi ulang peta kekuatan udara (air power) di kawasan Asia Tenggara. Kombinasi radar AESA canggih dan rudal jarak jauh PL-15E memberikan efek gentar (deterrence effect) yang signifikan terhadap potensi ancaman pelanggaran wilayah udara nasional. (Bayu Pamungkas)
Kejutan! Jet Tempur J-10C Pakistan Cetak Skor Kemenangan Telak 9-0 Lawan Eurofighter Typhoon Qatar


