Borong 24 Jet Tempur J-10CE Cina, Bangladesh Ubah Peta Kekuatan Udara di Asia Selatan

Peta geopolitik dan keseimbangan kekuatan militer di kawasan Teluk Benggala serta Asia Selatan sepertinya akan mengalami pergeseran radikal dalam waktu dekat. Angkatan Udara Bangladesh (Bangladesh Air Force – BAF) dilaporkan tengah mempercepat langkah negosiasi intensif untuk mengakuisisi antara 20 hingga 24 unit jet tempur Chengdu J-10CE Vigorous Dragon, berikut rudal udara ke udara PL-15E dari Cina.
Proyek pengadaan raksasa yang diperkirakan menelan total nilai kontrak hingga US$2,2 miliar tersebut mencakup paket pelatihan penerbang, dukungan logistik, suku cadang, hingga pemeliharaan jangka panjang. Sentuhan akhir kesepakatan ini dijadwalkan akan difinalisasi selama kunjungan resmi Perdana Menteri Bangladesh ke Beijing pada pekan ini, dengan target penandatanganan kontrak resmi paling cepat pada Agustus 2026 mendatang.
Langkah strategis Dhaka untuk memborong J-10CE ini diambil guna meremajakan armada udara mereka dengan mengganti jet tempur uzur sekelas MiG-29BM dan jajaran jet legendaris Chengdu F-7 BG/BGI yang sudah memasuki masa pensiun. Sebelumnya, BAF sempat melirik jet tempur Eurofighter Typhoon bekas pakai dari Italia dan bahkan telah menerbitkan Letter of Intent (LoI) resmi.
Namun, keputusan akhirnya beralih ke J-10CE akibat kendala anggaran (budget constraints) serta nilai penawaran (value proposition) dari Cina yang jauh lebih menggiurkan. Jet tempur J-10CE dikenal sangat kompetitif di pasar global dengan harga basis per platform diperkirakan hanya berkisar US$40 juta. Angka ini jauh lebih murah dibandingkan alternatif Barat seperti Lockheed Martin F-16 Block 70/72, Dassault Rafale, Eurofighter Typhoon, dan bahkan jauh lebih ekonomis ketimbang jet tempur ringan HAL Tejas LCA Mk1A buatan India. Jika kesepakatan ini gol, Bangladesh akan menjadi pelanggan ekspor kedua di dunia untuk J-10CE setelah Pakistan, jet tempur yang sama yang dikerahkan Islamabad dalam Operasi Sindoor.
🇨🇳China is set to export the advanced J-10CE Multirole Fighters to🇧🇩Bangladesh, retiring the aging J-7 Interceptors.
Following🇵🇰Pakistan’s success in 2025 with dominance over🇮🇳India, J-10CE Export sales have tripled.
2027: 🇨🇳J20+🇵🇰J-10CE+🇧🇩J-10CE V/S 🇮🇳pic.twitter.com/dOyQyJ0Y6n
— PLA Military Updates🇨🇳 (@PLA_MilitaryUpd) June 25, 2026
Ancaman Nyata Bagi Koridor Siliguri India
Bagi New Delhi, rencana akuisisi ini bukan sekadar transaksi dagang biasa, melainkan alarm bahaya yang sangat serius bagi komando pertahanan mereka. Ketika Cina mengekspor jet tempur mutakhirnya, Beijing tidak hanya menjual perangkat keras, melainkan membawa paket doktrin pelatihan, integrasi persenjataan taktis, dependensi logistik, hingga pengaruh militer jangka panjang yang biasanya bertahan selama berdekade-dekade.
Saat ini, Bangladesh sudah mengoperasikan inventaris persenjataan buatan Cina dalam jumlah besar di matra darat, laut, dan udaranya. Kehadiran J-10CE dipastikan akan memperdalam ketergantungan tersebut sekaligus memperkuat jejak militer (military footprint) Cina tepat di perbatasan timur India.
Kejutan! Jet Tempur J-10C Pakistan Cetak Skor Kemenangan Telak 9-0 Lawan Eurofighter Typhoon Qatar
Secara geografis, wilayah barat Bangladesh berada di posisi yang sangat dekat dengan Koridor Siliguri (Siliguri Corridor), sebuah jalur darat sangat sempit berjuluk “Chicken’s Neck” yang menghubungkan daratan utama India dengan seluruh wilayah negara bagian di timur lautnya. Munculnya skenario tekanan militer udara dari timur (Bangladesh) yang dikombinasikan dengan tekanan simultan dari utara (Garis Kontrol Aktual Cina di Himalaya) menciptakan kontingensi taktis paling rumit yang selama ini ditakuti oleh para perencana militer India.
Selama bertahun-tahun, doktrin pertahanan India selalu dibangun berdasarkan kesiapan menghadapi tantangan dua front konvensional, yakni ancaman simultan dari Cina di utara dan Pakistan di barat. Namun, penetrasi militer Cina yang terus meluas ke negara-negara tetangga India melalui diplomasi alutsista memaksa New Delhi menghadapi lingkungan keamanan yang jauh lebih kompleks dari model tradisional tersebut. (Gilang Perdana)
Manuver Ekstrim Bangladesh: Buka Akses Pelabuhan Strategis untuk Militer AS, Beijing Terancam!


