Paranoid pada Beijing Tapi Kecolongan: Australia Jual Galangan Kapal Fregat ANZAC ke Perusahaan Cina

Pemerintah dan militer Australia selama ini dikenal sangat responsif dan cenderung paranoid terhadap ekspansi pengaruh serta potensi spionase dari Cina di kawasan Pasifik. Langkah-langkah ketat seperti pembatasan investasi asing hingga pemblokiran teknologi sering kali ditempuh atas nama perlindungan kepentingan strategis nasional.
Namun, sebuah langkah mengejutkan yang memicu ironi besar baru saja terjadi di dalam negeri Australia sendiri. Galangan kapal bersejarah Williamstown yang berlokasi di Melbourne, Victoria—fasilitas pembuatan dan perawatan kapal perang utama milik negara tersebut—resmi dijual kepada EMKC³, sebuah perusahaan manajemen dana real estat lokal yang sahamnya sebagian dimiliki oleh kelompok usaha berbasis di Hong Kong, EMKC Group.
Penjualan aset vital ini memicu gelombang kekhawatiran dan kritik tajam dari para pengamat pertahanan serta intelijen Australia. Pasalnya, galangan kapal Williamstown terletak persis di area strategis di pintu masuk Port of Melbourne, yang merupakan pelabuhan peti kemas terbesar di Australia.
Sesuai dengan undang-undang keamanan nasional dan intelijen Cina—yang juga mengikat seluruh entitas bisnis di Hong Kong—perusahaan-perusahaan berskala internasional asal wilayah tersebut berkewajiban untuk tunduk dan bekerja sama apabila badan intelijen Beijing membutuhkan akses informasi. Potensi keterlibatan dan kepemilikan saham dari pengusaha Hong Kong pada transaksi ini secara otomatis membuka celah ancaman keamanan nasional yang sangat berisiko bagi infrastruktur militer Australia.
Terkait Keamanan Nasional, Australia Ganti Ratusan Kamera Pengintai Buatan Dua Perusahaan Cina
Langkah ini dirasa sangat kontradiktif mengingat galangan kapal Williamstown memiliki rekam jejak sejarah yang sangat panjang dan krusial bagi armada Royal Australian Navy (RAN). Berdiri sejak tahun 1858, galangan ini merupakan tempat lahirnya seluruh sepuluh unit fregat kelas ANZAC yang mengawal kedaulatan laut Australia dan Selandia Baru.
Tidak hanya itu, Williamstown juga dipercaya menggarap pengerjaan struktur atas (superstructure) hingga integrasi sistem internal untuk dua kapal induk helikopter (landing helicopter dock/LHD) Canberra class, yakni HMAS Canberra dan HMAS Adelaide. Kendati aktivitas pembuatan kapal di fasilitas ini sempat terhenti sejak tahun 2016 pasca selesainya proyek-proyek utama, nilai strategis lokasi dan aset galangan tersebut tetap dipandang vital bagi ekosistem maritim Australia.
Kepala MI5: “Cina Gencar Mata-matai Proyek Kapal Selam Nuklir AUKUS Class”
Penjualan galangan bersejarah yang nilainya diperkirakan mencapai 200 juta dolar Australia (sekitar AUD 200 juta) ini terjadi di tengah restrukturisasi masif yang sedang berlangsung di tubuh industri pembuatan kapal perang Australia.
Pemerintah Australia saat ini tengah secara bertahap memensiunkan armada veteran fregat ANZAC class dan beralih ke program akuisisi 11 unit fregat multi-peran generasi baru berbasis desain New FFM Mogami class dari Jepang, di mana delapan unit di antaranya direncanakan untuk dibangun di dalam negeri. Pada saat yang sama, Canberra juga sedang mengucurkan investasi bernilai fantastis untuk memodernisasi galangan kapal baru guna menyongsong pembangunan kapal selam bertenaga nuklir di bawah bendera pakta pertahanan SSN-AUKUS.
Akuisisi 11 Unit, Australia Umumkan Mogami Class dari Jepang Sebagai Pengganti Fregat ANZAC Class
Keputusan untuk melepas aset galangan kapal militer yang sarat nilai sejarah dan berlokasi strategis kepada pihak yang terhubung dengan modal asal Cina memicu tanda tanya besar publik internasional. Di satu sisi, Canberra terus mengumandangkan narasi ancaman Beijing di Pasifik dan memperketat kerja sama intelijen bersama sekutu Barat-nya.
Namun di sisi lain, pengawasan terhadap kepemilikan infrastruktur pertahanan domestik justru kecolongan oleh transaksi komersial. Kasus penjualan galangan Williamstown ini kini menjadi simbol kontradiksi nyata antara retorika politik pertahanan Australia dengan realita pengelolaan aset strategis di dalam negerinya sendiri. (Bayu Pamungkas)
Kapal Mata-mata Cina Berlayar di Pesisir Australia, Dekati Stasiun Komunikasi Kapal Selam


