Korut Sukses Uji Coba ‘HIMARS KW’, Bisa Luncurkan Roket 240mm dan Rudal Mirip ATACMS dalam Satu Truk

Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali menghentak panggung geopolitik internasional dengan memimpin langsung uji coba sistem senjata taktis terbarunya yang diklaim sebagai versi lokal atau tiruan dari sistem roket multipel M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) andalan Amerika Serikat.
Baca juga: Ternyata, HIMARS yang Dioperasikan Ukraina Tidak Bisa Menembak Ke Wilayah Rusia
Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Kantor Berita Sentral Korea (KCNA), rangkaian pengujian komprehensif ini digelar di bawah pengawasan ketat Biro Jenderal Rudal serta Akademi Ilmu Pertahanan Korea Utara. Yang paling menyita perhatian para pengamat pertahanan global dari kemunculan senjata ini adalah konfigurasi platform peluncurnya yang sangat kompak.
Alih-alih menggunakan truk raksasa beroda rantai tradisional khas Blok Timur yang lambat dan masif, Pyongyang justru mengadopsi sasis kendaraan taktis beroda ban ringan yang secara visual dan konseptual meniru mentah-mentah doktrin Westernisasi alutsista modern, melengkapi portofolio klona militer mereka sebelumnya yang menyerupai ranpur Stryker AS dalam wujud mortar swagerak dan tank roda ban.
Sistem peluncur yang dijuluki para analis sebagai “HIMARS KW” atau “HIMARS-Style” ini mengusung inovasi arsitektur modular ganda (dual-position) yang dipasang pada satu kendaraan pengangkut yang sama. Dalam simulasi penembakan campuran (mixed shooting) tersebut, sistem ini mendemonstrasikan fleksibilitas luar biasa di mana satu kendaraan mampu membawa dan mengoperasikan dua jenis pod modul amunisi yang berbeda secara simultan.

Pada posisi pertama, kendaraan meluncurkan roket kaliber 240 mm dari konfigurasi klaster sembilan tabung (9-tube pod). Roket taktis ini dilaporkan telah diperbarui dengan komponen Kecerdasan Buatan (AI) serta sistem navigasi otonom berpresisi tinggi yang membuatnya sanggup menghantam target di darat dengan jarak jangkauan melampaui 100 kilometer. Sementara pada posisi modul kedua, platform ini mendemonstrasikan peluncuran sebuah rudal balistik taktis jarak dekat (CRBM) berhulu ledak khusus yang secara arsitektur fisik sangat identik dengan rudal MGM-140 ATACMS buatan Lockheed Martin Amerika Serikat.
Langkah menyuntikkan algoritma AI pada sistem kendali tembakan dan pemandu internal roket 240 mm ini merupakan strategi cerdik Pyongyang untuk menyiasati keterbatasan akses mereka terhadap jaringan konstelasi satelit global. Teknologi AI berperan penting untuk mengoptimalkan kalkulasi trajektori secara instan serta menganalisis pencitraan topografi daratan secara mandiri melalui metode optical atau terrain matching, sehingga proyektil tetap dapat mengoreksi jalur terbangnya menyusuri kontur bumi dengan akurasi tinggi tanpa perlu pasokan sinyal GPS luar seperti yang digunakan oleh HIMARS asli milik Barat.

Jika dibandingkan dengan monster artileri KN-25 kaliber 600 mm milik Korut yang memiliki jangkauan fantastis hingga 358,5 kilometer, sistem modular ringan 240 mm berpemandu AI ini dirancang dengan filosofi tempur yang jauh lebih lincah dan taktis. Bobotnya yang ringan memberikan mobilitas tinggi bagi kru untuk menerapkan doktrin shoot-and-scoot (tembak lalu kabur) memanfaatkan jaringan terowongan bawah tanah dan jalan raya aspal di sepanjang Semenanjung Korea guna menghindari deteksi radar kontra-baterai lawan.
Keberhasilan Korea Utara dalam mengintegrasikan roket taktis berdaya hancur tinggi dan rudal balistik tiruan ATACMS dalam satu platform truk kompak ini menjadi sinyal bahaya baru bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Kehadiran senjata modular ini menandai pergeseran masif doktrin artileri Pyongyang, dari yang awalnya mengandalkan kuantitas berupa hujan artileri masif tak terpimpin, kini bertransformasi menjadi serangan kualitas berkemampuan jenuh (saturation strike) berpresisi tinggi.
Kombinasi salvo roket 240 mm yang terbang rendah menyusuri bumi dan hantaman rudal balistik supersonik dari satu unit kendaraan yang sama diprediksi sengaja dirancang untuk membingungkan, membanjiri, sekaligus menjebol payung udara berlapis sistem pertahanan udara Patriot dan Aegis milik komando gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat yang membentengi wilayah metropolitan Seoul. (Gilang Perdana)
Mata-mata di Batas Atmosfer: AS dan NATO Gunakan Balon Intelijen untuk Pandu Serangan Roket HIMARS


