Diluncurkan di Turki, Korvet Pertama LMS Batch 2 Malaysia Pasang Rudal Atmaca Pengganti NSM

Upaya Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) untuk memperkuat taji armada kapal perangnya di kawasan regional mencatat tonggak sejarah. Pada 24 Mei 2026, bertempat di Galangan Kapal Istanbul, Turki, kapal pertama dari program Littoral Mission Ship (LMS) Batch 2 pesanan Malaysia resmi diluncurkan ke laut.

Baca juga: KD Lekiu 30: Flagship Kapal Perang Malaysia dalam Misi Evakuasi Air Asia QZ8501

Kapal perang berjenis korvet seberat 2.500 ton tersebut diberi nama Tunku Laksamana Abdul Jalil (141), sebuah nama yang diambil untuk menghormati mendiang putra keempat dari Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim dan Raja Permaisuri Agong Raja Zarith Sofiah, yang wafat pada tahun 2015 silam.

Prosesi peluncuran bernilai strategis ini dihadiri langsung oleh Ratu Malaysia Raja Zarith Sofiah, Menteri Pertahanan Malaysia Dato’ Seri Mohamed Khaled Nordin, Wakil Menteri Pertahanan Nasional Turki Musa Heybetli, serta jajaran petinggi militer dan industri pertahanan kedua negara.

Proyek ini menandai kesepakatan antar-pemerintah (Government-to-Government / G2G) pertama antara Turki dan Malaysia di bidang pengadaan pertahanan, sekaligus menjadi ekspor korvet pertama Turki ke kawasan Asia Pasifik. STM (Savunma Teknolojileri Mühendislik ve Ticaret A.Ş.) bertindak sebagai kontraktor utama yang bertanggung jawab penuh atas seluruh fase, mulai dari desain taktis, manajemen konstruksi, integrasi sistem, hingga dukungan logistik terpadu (Integrated Logistic Support).

Sejak penandatanganan Letter of Acceptance (LoA) pada Juni 2024, proyek ini melesat cepat melalui fase pemotongan baja pertama pada Desember 2024 dan peletakan lunas (keel laying) pada April 2025. General Manager STM, Özgür Güleryüz, menegaskan bahwa berkat ritme produksi yang tinggi, STM menargetkan untuk meluncurkan kapal kedua pada bulan Juni dan kapal ketiga pada Agustus tahun ini, dengan target penyerahan seluruh armada ke pihak TLDM secara lengkap pada tahun 2027.

LMS Batch 2 rancangan STM ini membawa lompatan teknologi yang jauh lebih mematikan dan adaptif untuk menghadapi peperangan modern di laut lepas maupun wilayah pesisir dibandingkan dengan varian Batch 1 buatan Cina yang minim persenjataan.

Memiliki panjang total 99,56 meter, lebar 14,42 meter, serta draf 3,94 meter, korvet ini mengadopsi filosofi desain reduksi penampang radar (Stealth Design / Low RCS) serta sistem redundansi tinggi untuk meminimalkan dampak kerusakan akibat kebakaran maupun serangan musuh. Didukung sistem penggerak empat mesin diesel (CODAD) yang mampu memuntahkan kecepatan maksimal di atas 26 knot dan jarak jelajah mencapai 4.000 mil laut, kapal berawak 111 personel ini juga dilengkapi dek dan hanggar yang mampu mengakomodasi serta melakukan pengisian bahan bakar untuk helikopter ukuran sedang.

Untuk peran tempur multi-dimensi, kapal ini dibekali sensor mutakhir yang didominasi industri lokal Turki, seperti Combat Management System (CMS) dan Gun Fire Control System dari Havelsan, serta Radar Survei 3D, Radar Pengendali Tembakan, IFF, sistem C-ESM, dan Chaff Decoy System pasokan Aselsan.

Namun, di balik kemegahan peluncuran tersebut, sebuah awan mendung geopolitik justru tengah membayangi konfigurasi sistem kesenjataan utama kapal ini. Sebagaimana yang ramai diperbincangkan dalam peta intelijen pertahanan, rencana awal Malaysia untuk melengkapi lini depan LMS Batch 2 dengan rudal anti kapal siluman canggih Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg Defence & Aerospace harus kandas setelah Pemerintah Norwegia secara mengejutkan membatalkan izin ekspor rudal tersebut ke Malaysia akibat regulasi domestik mereka yang ketat.

Malaysia Murka! Sudah Bayar 95 Persen, Norwegia Batalkan Sepihak Kontrak Pengadaan Rudal NSM

Beruntung, siaran pers resmi STM mengonfirmasi langkah antisipasi taktis yang sangat cepat, di mana platform ini langsung diintegrasikan dengan sistem rudal anti kapal (Surface-to-Surface Missile) domestik Turki, yakni Atmaca buatan Roketsan, yang akan mengisi slot peluncur 2 x 4 SSM yang tersedia. Senjata pemukul ini nantinya akan berkolaborasi dengan satu kanon utama kaliber 76mm, dua peluncur rudal pertahanan udara (SAM) vertikal untuk menangani ancaman udara, serta satu kanon sekunder kaliber 30mm buatan Aselsan untuk menghadapi ancaman asimetris. (Gilang Perdana)

AS Bantah Terlibat Embargo Rudal Anti Kapal NSM Pesanan Malaysia, Tuding Balik Norwegia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *