Malaysia Murka! Sudah Bayar 95 Persen, Norwegia Batalkan Sepihak Kontrak Pengadaan Rudal NSM

Pemerintah Malaysia melontarkan protes keras terhadap Pemerintah Norwegia setelah keputusan sepihak yang membatalkan kontrak pengadaan rudal anti kapal Naval Strike Missile (NSM) dan peluncurnya dari manufaktur Kongsberg Defense & Aerospace. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara terbuka menyatakan keberatan mendalam atas pembatalan ini, menyebut bahwa kontrak yang telah ditandatangani adalah instrumen serius yang tidak bisa dihamburkan begitu saja seperti “konfeti”.

Baca juga: RBS-15 MK3: Rudal Anti Kapal Untuk KCR Klewang Class TNI AL

Langkah Norwegia ini menjadi skandal pertahanan besar karena Malaysia tercatat telah membayar lebih dari 95 persen dari nilai kontrak tahun 2018 yang mencapai US$145 juta. Tak hanya itu, pada 2025, Malaysia juga telah menyepakati kontrak tambahan senilai US$11,19 juta untuk peluncur NSM yang sedianya dipasang pada dua fregat Lekiu class yang saat ini masih aktif beroperasi.

Informasi pembatalan ini diterima secara mengejutkan oleh delegasi Malaysia saat pameran Defense Services Asia (DSA) bulan lalu. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Malaysia, Lokman Hakim Ali, mengonfirmasi bahwa Norwegia memberlakukan klausul force majeure akibat adanya kebijakan pembatasan ekspor senjata baru.

Kebijakan tersebut menetapkan bahwa rudal NSM kini hanya boleh diekspor ke negara-negara anggota NATO atau mitra strategis NATO, sementara Malaysia bukan merupakan anggota pakta pertahanan tersebut. Selain regulasi internal Norwegia, muncul spekulasi teknis bahwa pembatalan ini terkait dengan pembatasan ekspor komponen giroskop buatan Amerika Serikat yang digunakan pada sistem navigasi NSM, di mana Washington kini melarang pengirimannya ke pihak ketiga di luar aliansi tertentu.

Secara teknis, rudal NSM yang juga pernah ditawarkan ke Indonesia, termasuk di pamerkan dalam Indo Defence 2022, merupakan rudal anti kapal generasi kelima yang sangat ditakuti karena kemampuan low observability (siluman) yang membuatnya sulit dideteksi oleh radar lawan.

Rudal ini memiliki berat sekitar 400 kg dengan jangkauan lebih dari 185 kilometer. Keunggulan utamanya terletak pada sensor Imaging Infrared (IIR) pasif yang memungkinkannya mengenali profil kapal target secara spesifik tanpa memancarkan sinyal radar yang bisa dilacak. Rudal ini juga dirancang untuk melakukan manuver sea-skimming yang sangat rendah di atas permukaan laut dan manuver tajam pada fase terminal untuk menembus pertahanan udara kapal perang modern.

Di Malaysia, rudal-rudal ini sedianya akan menjadi “gigi” utama bagi lima kapal Littoral Combat Ship (LCS) Maharaja Lela class yang sedang dibangun, setelah sebelumnya direncanakan untuk enam unit sebelum akhirnya dikurangi akibat kendala program.

Pembatalan ini diprediksi akan berdampak serius pada kesiapan operasional Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) dan kelanjutan program LCS yang unit pertamanya, KD Maharaja Lela, dijadwalkan serah terima pada Desember 2026. Anwar Ibrahim memperingatkan bahwa jika pemasok pertahanan Eropa merasa berhak mengingkari janji dengan impunitas, maka nilai mereka sebagai mitra strategis akan hilang.

Sebagai langkah antisipasi, sumber industri menyebutkan bahwa Malaysia kemungkinan besar akan kembali melirik rudal Exocet buatan Perancis, khususnya versi terbaru Block 3c, guna mengisi kekosongan sistem senjata pada kapal perang mereka. Sementara itu, Kuala Lumpur menegaskan akan menggunakan jalur diplomatik dan hukum untuk menuntut pengembalian dana serta kompensasi atas kerugian strategis yang dialami. (Gilang Perdana)

Rudal Anti Kapal Exocet: Si“Ikan Terbang” Andalan TNI AL

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *