Upaya Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) untuk memperkuat taji armada kapal perangnya di kawasan regional mencatat tonggak sejarah. Pada 24 Mei 2026, bertempat di Galangan Kapal Istanbul, Turki, kapal pertama dari program Littoral Mission Ship (LMS) Batch 2 pesanan Malaysia resmi diluncurkan ke laut. (more…)
Kebijakan sepihak Pemerintah Norwegia yang membatalkan kontrak pengadaan Naval Strike Missile (NSM) dengan Malaysia berbuntut panjang dan memicu efek domino yang signifikan di kawasan Asia Tenggara. Langkah dramatis ini menegaskan status baru rudal anti kapal buatan Kongsberg Defense and Aerospace tersebut, yang kini secara resmi telah bergeser menjadi senjata eksklusif yang hanya boleh diadopsi oleh Amerika Serikat, Australia dan negara-negara anggota aliansi NATO. (more…)
Pemerintah Malaysia melontarkan protes keras terhadap Pemerintah Norwegia setelah keputusan sepihak yang membatalkan kontrak pengadaan rudal anti kapal Naval Strike Missile (NSM) dan peluncurnya dari manufaktur Kongsberg Defense & Aerospace. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara terbuka menyatakan keberatan mendalam atas pembatalan ini, menyebut bahwa kontrak yang telah ditandatangani adalah instrumen serius yang tidak bisa dihamburkan begitu saja seperti “konfeti”. (more…)
Angkatan Laut Diraja Malaysia (TLDM) kini tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam meningkatkan daya deteren armada maritimnya melalui rencana ambisius pengadaan sistem rudal anti kapal baru yang terstandarisasi. (more…)
Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika dan penundaan selama bertahun-tahun, proyek kapal perang Littoral Combat Ship (LCS) milik Angkatan Laut Diraja Malaysia (TLDM) akhirnya mencapai tonggak sejarah yang sangat dinantikan. (more…)
Berdasarkan penawaran dari Savunma Teknolojileri Mühendislik (STM), Turki mengsulkan untuk memasok kapal perang dalam program Littoral Mission Ship (LMS) Batch 2 untuk Angkatan Laut Malaysia. Dan pada Juni 2024, Malaysia secara resmi memesan tiga kapal korvet Ada class. (more…)
Jumlah kapal selam tidak berarti bila tingkat kesiapan operasionalnya rendah, untuk itu mencapai level kesiapan operasional kapal selam bukan perkara mudah. Seperti belum lama ini, Menteri Pertahanan (Menhan) Malaysia, Datuk Seri Mohamed Khaled Nordin menyebut bahwa kondisi salah satu kapal selam Scorpene class, yakni KD Tun Razak dalam kondisi prima setelah 18 bulan direparasi. (more…)
Proses pelepasan Exocet SM39 dari Véhicule Sous Marin (VSM).
Meski secara teori dapat dilakukan oleh kebanyakan kapal selam modern, namun faktanya, tidak dengan mudah negara operator kapal selam mampu mengoperasikan dan meluncurkan rudal jelajah yang dilepaskan dari kapal selam (submarine launched). Sebagai ilustrasi, di Asia Tenggara, baru Angkatan Malaysia dengan kapal selam KD Tunku Abdul Rahman (Scorpene class) pernah meluncurkan Exocet SM39 Block 2 saat Exercise Taming Sari 2021. (more…)
Setelah tertunda tujuh tahun lamanya, akhirnya ada kabar datang dari Negeri Jiran, bahwa kapal pertama dari frigat Maharaja Lela class, atau disebut juga Littoral Combat Chip (LCS), telah memasuki air di galangan Boustead Heavy Industries Corporation. Flagship Angkatan Laut Malaysia tersebut adalah KD Maharaja Lela dengan nomer lambung 2501. (more…)
Sebagai negara persemakmuran, tentu ada hubungan khusus antara Malaysia dan Inggris. Seperti belum lama ini ada kabar, bahwa Inggris telah mengirim proposal penawaran untuk menjual sepasang frigat Type 23 Duke class milik Angkatan Laut Inggris (Royal Navy). Tawaran Inggris ditekankan untuk mengisi kesenjangan kekuatan armada Angkatan Laut Malaysia (TLDM) yang tengah menanti tuntasnya pembangunan LCS Maharaja Lela class (paling cepat) pada tahun 2026. (more…)