
Jumlah satu baterai kanon hanud Type 90/35 mm untuk Arhanud Korps Marinir jelas bukan sesuatu yang ideal, maklum satu baterai artinya hanya terdiri dari empat pucuk kanon. Dalam operasi melindungi obyek vital (obvit) terasa jauh dari kata ideal. Namun pengadaan kanon twin gun buatan Norinco – Cina, seolah menjadi angin segar setelah sekian lama alutsista Arhanud Korps Baret Ungu belum mendapatkan modernisasi peralatan tempur. (more…)

Rasanya belum lupa dalam ingatan, di akhir Agustus lalu ada ribuan ATM (Anjungan Tunai Mandiri) dari salah satu bank swasta nasional yang mengalami kelumpuhan akses akibat masalah yang terjadi pada satelit Telkom 1. Rupanya masalah pada satelit milik PT Telkom tersebut tak hanya menimpa dunia perbankan, lebih dari itu imbasnya juga dirasakan pada jaringan komunikasi elektronik TNI. (more…)

Teknologi sonar (Sound Navigation And Ranging) sampai saat ini masih yang paling diandalkan dalam misi peperangan bawah air, khususnya dalam mengendus keberadaan dan posisi kapal selam lawan. Namun, apa yang terjadi bila ada suatu zona di bawah laut yang aman atau bebas dari suhu dan salinitas. Maka yang muncul adalah shadow zone, wilayah di bawah permukaan laut yang tidak dapat dideteksi oleh sonar pencari. Di shadow zone inilah acap kali kapal selam lawan atau kapal selam asing dapat ‘ngetem’ sembari melakulan misi pengintaian. (more…)

Dua dari empat unit Sukhoi Su-27/Su-30 Skadron Udara 11 TNI AU yang selama ini sedang menjalani upgrade dan perawatan berat di Belarusia, telah tiba di homebase-nya, Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan pada hari Kamis (3/8/2017) lalu. Diangkut pesawat angkut berat Antonov 124-100M-150, rasanya sudah jamak Sang Flanker wara wiri dibawa ke Rusia untuk misi perawatan berkala. Namun ada yang dinanti para pemerhati alutsista dari dua unit Sukhoi yang tiba 3 Agustus lalu. (more…)

Nama MCCV atau Mobile Command Control Vehicle masih terbilang barang anyar dalam jagad alutsista TNI. Namun seiring kebutuhan TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi) dan multimedia pada beragam operasi, MCCV mulai mendapat perhatian. Dibuktikan dari hadirnya prototipe MCCV yang dirilis Balitbang Kemhan (Kementerian Pertahanan) dan PT Bhinneka Dwi Persada, khususnya dalam fungsi GCS (Ground Control Station) bagi drone. (more…)

Tentu bukan cerita baru bahwa jalur komunikasi penting di Indonesia telah disadap atau berpotensi kuat disadap pihak asing. Maklum, sampai saat ini lebih dari 90 persen teknologi perangkat komunikasi di Indonesia didominasi produk dari luar negeri. Itu baru dari sisi perangkat, belum lagi dari sisi aplikasi yang marak menggunakan layanan OTT (Over The Top) dari luar negeri seperti Facebook, Twitter, BlackBerry dan WhatsApp. Maka tak heran bila komunikasi di level taktis dan strategis juga rentan penyadapan meski telah dilakukan enkripsi sekalipun. Namun penyadapan komunikasi di era terestrial yang melibatkan peran satelit baru dihadapi Indonesia pada dekade 70-an.
(more…)

Dengan formasi kekuatan lima kapal selam Type 209, kekuatan tempur bawah laut Indonesia masih jauh dari kata ideal. Sebagai respon atas keterbatasan menghadapi potensi peperangan bawah air, TNI AL punya sejumlah senjata AKS (Anti Kapal Selam). Bekal torpedo SUT, roket AKS, dan bom laut (depth charge) sudah tersedia sejak lama di frigat/korvet dan KCT (Kapal Cepat Torpedo), dan tak lama lagi dari aspek udara bakal hadir helikoper AKS AS-565Mbe Panther untuk Puspenerbal. Meski begitu, tantangan terbesar adalah bagaimana cara memantau pergerakan kapal selam asing, dengan teritori laut yang sedemikian luas, mustahil dilakukan ronda kapal patroli dan pesawat pengintai secara efektif. (more…)

Hughes Defence, penyedia solusi komunikasi satelit rekanan utama militer Amerika Serikat, belum lama ini telah meluncurkan produk terbarunya, Hughes HM500. Yang menarik dari terminal HM500 multiband yaitu perangkatnya mampu dikemas dalam ransel (manpack), dan dapat dirakit serta disiapkan dalam waktu kurang dari 10 menit. Tak ayal HM500 digadang sebagai perangkat Satcom (Satellite Communications) yang pas menemani pergerakan pasukan elite dalam suatu operasi tempur yang jauh dari pangkalan. Yang menarik lagi, disebut-sebut pihak Indonesia menyatakan tertarik pada perangkat komunikasi taktis ini. (more…)

Setelah menjalani pelatihan selama tujuh hari, 29 orang prajurit Korps Marinir perwakilan dari Batalyon Komunikasi dan Peperangan Elektronika (Yonkomelk) Jakarta dan Surabaya serta perwakilan dari Dinas Komunikasi dan Peperangan Elektronika (Diskomlek) Korps Marinir TNI AL siap mengoperasikan alat komunikasi generasi terbaru Digital Direction Finder (DDF) 550 buatan Rohde&Schwarz, Jerman. (more…)

Selain Batalyon Perhubungan (YonHub) TNI AD, Dinas Komunikasi dan Peperangan Elektronika (Diskomlek) Korps Marinir TNI AL rupanya juga memiliki perangkat anyar yang disebut radio Monobs Digital Direction Finder (DDF) 550 produksi Rohde&Schwarz . Perangkat mobile yang digelar untuk mendeteksi keberadaan posisi lawan (musuh) lewat pelacakan sumber pancaran gelombang elektromagnetik, termasuk kemampuan untuk mengendus posisi sasaran lewat jaringan seluler yang digunakan. (more…)