Ambisi Rudal Balistik Arab Saudi: Mengapa Fasilitas di Gurun Al-Duwadimi Bikin Washington Cemas

Arab Saudi terpantau tengah memperluas kompleks pabrik rudal balistik strategisnya secara masif di wilayah gurun Al Duwadimi, sekitar 200 kilometer sebelah barat Riyadh. Berdasarkan analisis citra satelit komersial yang dihimpun oleh lembaga riset Foreign Policy Research Institute (FPRI) dari rentang April 2025 hingga September 2026, fasilitas bahan bakar roket padat (solid propellant) di kawasan tersebut mengalami peningkatan ukuran hingga dua kali lipat dari fasilitas sebelumnya.
Citra satelit menunjukkan adanya pembangunan struktur bangunan baru yang dilengkapi dengan lubang pengecoran (casting pits) serta dinding pelindung ledakan (blast walls) yang masif. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa Riyadh sedang bersiap memproduksi rudal balistik yang lebih besar, dengan kapasitas jangkauan lebih jauh serta muatan hulu ledak (payload) yang lebih berat.
Bukti Lapangan: Debut Operasional DF-15A di Yaman
Spekulasi mengenai ketergantungan Arab Saudi pada teknologi rudal Cina semakin diperkuat oleh temuan fisik di medan tempur. Berdasarkan laporan investigasi pertahanan termasuk Indomiliter, puing-puing bagian pendorong (booster stage) dari rudal balistik jarak pendek DF-15A (Dong Feng-15A) buatan Cina ditemukan berserakan di Provinsi Ma’rib, Yaman.
Temuan ini menandai debut operasional konfirmasi pertama penggunaan rudal balistik canggih berbahan bakar padat tersebut oleh militer Arab Saudi dalam menggempur posisi kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman. Mengingat Houthi tidak memiliki inventaris rudal jenis ini (arsenal mereka umumnya berasal dari derivatif Iran), temuan puing tersebut menjadi bukti autentik atas keterlibatan sistem persenjataan Cina dalam operasi militer Saudi.
Bukti Lapangan: Arab Saudi Gempur Houthi di Yaman Pakai Rudal Balistik DF-15A Buatan Cina
Keunggulan Strategis: Efisiensi Bahan Bakar Padat
Analis pertahanan dari International Institute for Strategic Studies (IISS) dan CNA mencatat bahwa pergeseran ke arah sistem bahan bakar padat memberikan keuntungan taktis yang masif bagi Riyadh. Roket berbahan bakar padat dapat disimpan dalam jangka waktu lama dalam kondisi siap tembak (pre-loaded) dan diluncurkan dalam hitungan menit, jauh lebih praktis dibanding rudal berbahan bakar cair yang membutuhkan persiapan rumit sebelum meluncur.
Kemampuan ini memberikan daya gentar (deterrence) yang signifikan bagi Arab Saudi. Riyadh kini memiliki opsi penyerangan strategis jarak jauh—termasuk menjangkau target di dalam wilayah Iran—tanpa harus mempertaruhkan keselamatan pilot jet tempur F-15 buatan Amerika Serikat yang rentan terhadap sistem pertahanan udara modern.
Gagal di Darat, Tumpul di Udara? Arab Saudi Timbun 37 Ribu Bom Presisi dan Ribuan Rudal Jelajah
Dinamika Regional dan Hambatan Diplomatik
Langkah agresif Arab Saudi ini tidak berjalan sendiri. Pakar militer mencatat bahwa Uni Emirat Arab (UEA) dan Turki turut menjalankan strategi ekspansi infrastruktur rudal serupa guna memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional mereka.
Kendati demikian, ekspansi pabrik di Al Duwadimi berisiko memicu turbulensi diplomasi. Para pengamat memperingatkan bahwa langkah ini berpotensi mempertegas penolakan dari kubu bipartisan di Kongres AS terhadap usulan perjanjian nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi. Para kritikus khawatir fasilitas pengayaan uranium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir sipil dapat disalahgunakan, meskipun pemerintah Saudi secara konsisten membantah adanya ambisi mengembangkan program senjata nuklir terselubung. (Gilang Perdana)


