Pentagon Peringatkan Potensi Kebocoran Teknologi F-35 ke Cina dalam Rencana Penjualan Jet Tempur ke Arab Saudi

Laporan internal Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) memicu kekhawatiran serius terkait usulan paket penjualan 48 unit jet tempur siluman F-35 Lightning II beserta mesin cadangan senilai US$24 miliar ke Arab Saudi.

Baca juga: Arab Saudi Ajukan Permohonan Pembelian 48 Unit F-35A ke Donald Trump: Ujian AS untuk Menjaga Keunggulan Udara Israel?

Pentagon menyoroti tingginya risiko kebocoran teknologi sensitif ke pihak Beijing, mengingat eratnya akses militer dan ekonomi Cina di basis-basis pertahanan Riyadh, kerja sama rudal balistik antar kedua negara, hingga penggunaan infrastruktur telekomunikasi raksasa asal Cina seperti Huawei dan ZTE di Arab Saudi.

Para analis intelijen meragukan fasilitas militer Saudi dapat sepenuhnya diisolasi dari jangkauan intelijen Cina, yang berpotensi memaparkan rahasia sistem radar AESA, sensor canggih, serta arsitektur avionik F-35 kepada pihak lawan.

Sinyal bahaya dari Pentagon ini membangkitkan kembali bayang-bayang kegagalan kesepakatan serupa pada tahun 2021, ketika penjualan F-35 ke Uni Emirat Arab (UEA) dibatalkan akibat kekhawatiran atas ekspansi pengaruh Cina. Meski dibayangi risiko teknis yang masif, pemerintahan Presiden Donald Trump berencana untuk segera memberikan notifikasi resmi kepada Kongres AS guna meloloskan transaksi raksasa ini.

Langkah agresif Trump disinyalir sebagai bagian dari strategi politik luar negeri untuk merangkul dan mengamankan dukungan sekutu utamanya di kawasan Timur Tengah. Namun, manuver ini langsung memicu penolakan tajam dari sebagian anggota Kongres serta kelompok lobi pro-Israel yang khawatir penjualan ini bakal mengikis prinsip Superioritas Militer Kualitatif (QME) yang selama ini dijamin AS bagi militer Israel di kawasan.

Kekhawatiran Pentagon dan Kongres AS tidak muncul tanpa alasan, melainkan berakar dari rekam jejak panjang dugaan aktivitas spionase dan pencurian data teknologi F-35 yang melibatkan aktor-aktor terkait Cina di masa lalu. Kasus hukum berefek luas seperti pembobolan jaringan komputer Lockheed Martin oleh peretas yang didukung pemerintah Beijing pada dekade lalu, hingga penangkapan warga negara Cina Su Bin pada 2014 atas pencurian terabyte data teknis pesawat militer AS termasuk F-35, menjadi preseden pahit bagi komunitas intelijen AS.

Sengkarut Antara Jet Tempur F-35, Huawei dan Teknologi 5G

Selain itu, keterlibatan vendor telekomunikasi raksasa seperti Huawei dalam pembangunan jaringan 5G dan serat optik di pangkalan militer Saudi dipandang sebagai celah pintu belakang (backdoor) yang mempermudah intersepsi sinyal radio, analisis jejak radar, serta pengumpulan data telemetry F-35 secara pasif dari jarak jauh.

Di sisi lain, dorongan keras Riyadh untuk mengakuisisi F-35 didasari oleh kebutuhan mendesak untuk memperkuat benteng pertahanan udaranya di tengah meningkatnya ancaman serangan drone dan rudal balistik milisi Houthi. Kendati demikian, banyak legislator di Washington kini menuntut penjelasan klasifikasi mendalam dari Pentagon mengenai protokol keamanan fisik dan siber apa yang sanggup dijamin pemerintah jika kesepakatan bernilai belasan miliar dolar ini benar-benar dieksekusi.

Pertarungan politik di Kongres diprediksi berjalan ketat, mempertemukan kalkulasi keuntungan transaksi ekonomi dan dominasi politik Trump melawan pertimbangan keamanan intelijen serta keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah. (Bayu Pamungkas)

Pembelian F-35 Tak Kunjung Direstui AS, Arab Saudi Alihkan Modal ke Jet Tempur KAAN Turki

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *