Lewat PT Republik Defensindo, Indonesia Borong 45 Unit Rudal Jelajah Anti Kapal Atmaca

Ada titik terang bahwa Indonesia akan menjadi pelanggan ekspor perdana rudal jelajah anti kapal Atmaca produksi Roketsan. Seperti dikutip dari Janes.com (25/1/2024), Pemerintah Indonesia telah memberikan kontrak untuk akusisi 45 unit rudal anti kapal buatan Turki tersebut. Kontrak tersebut diberikan kepada perusahaan pertahanan lokal PT Republik Defensindo yang bertidak sebagai agen penjualan untuk pengadaan batch awal Atmaca.
Selain 45 unit rudal Atmaca, kontrak disebut juga mencakup unit peluncur serta terminal pendukung. Rudal Atmaca sebelumnya telah diungkapkan akan menjadi bagian dari program refurbishment kapal perang TNI AL, yang mana Atmaca diproyeksikan akan dipasang pada korvet Fatahillah class, korvet Parchim class dan KCR (Kapal Cepat Rudal) FPB-57. Selain itu, OPV (Offshore Patrol Vessel) 90 yang sedang dalam proses pembangunan oleh PT Daya Radar Utama (DRU), nantinya juga akan dipasangi rudal Atmaca.
Atmaca yang berarti Elang, merupakan rudal anti kapal yang dikembangkan dalam lingkup proyek MILGEM, yaitu program pengembangan kapal perang nasional Turki (korvet Ada Class). Dirunut sari silsilahnya, Roketsan resmi mendapatkan kontrak penelitian dan pengembangan fase pertama pada tahun 2009, dan baru tahun 2012, proyek pengembangan Atmaca dipacu secara penuh di bawah naungan Kementerian Pertahanan Turki.
Atmaca disebut sebagai rudal anti kapal yang melesat pada level kecepatan subsonic Mach 0.85 dan terbang pada ketinggian sea skimming. Disokong microturbo engine Safran TR40, Atmaca punya jarak tembak hingga 200 km. Bobot rudal ini mencapai 800 kg, sudah termasuk dengan berat hulu ledak 250 kg high-explosive penetrating.
Baca juga: Rudal Anti Kapal Atmaca Akan Dipasang di OPV 90 TNI AL
Atmaca punya panjang 5,2 meter, diameter 350 mm dan lebar wingspan 1,4 meter. Bagaimana dengan sistem pemandunya? Rudal lansiran Negeri Ottoman ini mengandalkan kombinasi untuk berupa inertial navigation system, GPS (Global Positioning System), barometric altimeter/radar altimeter dengan terminal guidance melalui active radio frequency (RF) seeker. (Gilang Perdana)



@mbah, bedanya, kalo ikut barat dapet rudalnya nanggung & subsonic, kalo ikut Ruskie rudalnya gedong & supersonic, Pinoy udah beli😁
Jika Indonesia ingin memiliki industri pertahanan yg kuat seperti Turki yg mampu mensuplai kebutuhan dalam negeri maka salah satu jalannya adalah masuk dalam jaringan rantai pasok inhan Barat dimana untuk bisa masuk dalam jaringan tersebut demi menjaga keamanan dan kerahasiaan informasi teknologi, Indonesia diwajibkan untuk bergabung dg Aliansi pakta pertahanan Barat macam NATO atau AUKUS selain dukungan dari pemerintah dan tersedianya sumberdaya.
Inhan Turki bisa berkembang karena Turki anggota NATO, Singapore dan Aussie bisa maju inhannya karena tergabung dalam FPDA, Five eyes, AUKUS dll. Iran, Korut dan India apalagi China Inhan mereka bisa maju karena bergabung dg aliansi strategis dg Uni Soviet dan sekarang Rusia.
Jadi kalo Indonesia masih berharap bisa berkembang Inhan mereka agar bisa memenuhi kebutuhan alutsista secara domestik yah Indonesia harus meninggalkan politik bebas aktif. Swedia aja yg ngaku netral akhirnya join NATO tuh lantas apakah Indonesia masih mau berpikir naif bahwa bebas aktif masih bisa menjamin Pertahanan dan keamanan Indonesia kedepan??? Bisa membantu mengembangkan industri pertahanan dalam negeri???
Definisi kapal elit rudal sulit,, dikarenakan semua senjata dikapal impor… Pemerintah dari dulu tidak berani membangun proyek jangka panjang pengembangan alutsista dikarenakan perubahan kebijakan setiap ganti periode… Semoga kedepan bisa meniru turkiye
Loh koq lewat jasa Broker beli nya.
knapa gak Goverment to Goverment aja?
gak cukup kalo 250-300 kalo bisa harusnya lebih dari 500 unit karena yg pake gak cukup buat Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Pertahanan pesisir juga butuh. Dan kalo bisa pembelian produk itu dari Buatan lokal mau itu lewat ToT atau yg lainnya yg penting kebutuhan lokal bisa diisi oleh kemandirian negara.
Jarak jangkau bisa sampe 250 km, sanggup menenggelamkan kapal dengan tonase > 5000 ton, ada share know how utk pengembangan rudal nasional. Pembelian Alutsista berbasis investasi militer yang dicanangkan kementerian pertahanan patut diapresiasi
Ada TOTnya ga nih???
Ini pembelian rudal terbanyak dalam sejarah jadi ya diumbar dikitlah, toh negara lain juga tak kan percaya apakah hanya segitu.
Ini kok pake jasa perantara republik corp kan sesuai praturan hrsnya G to G bkn B to B…. Apa gk nyalahin undang2 tuh
Assalamu’alaikum
Sepertinya atmaca pilihan yang tepat karena jarak tembaknya jauh
kenapa ngga G to G ya….. …, ada kendalah kah kalau G to G …
Min Atmaca jarak jangkau sampe 250km min
Indonesia butuh banyak rudal ini, minim 250-300 unit sekalian di tot/lisensi produksi, biar ngga perlu beli produk cina lagi, untuk yang lebih berat pakenya brahmos, sip dah
45 unit ya ?
1 unit akan diujicoba.
45 – 1 = 44
Tinggal 44 rudal.
Malahayati class ada 3 unit, masing-masing 4 rudal.
3 x 4 = 12
44 – 12 = 32
FPB-57 Nav 5 ada 2 unit yang belum dipasang rudal anti kapal yaitu KRI Lemadang dan KRI Todak.
Masing-masing dipasang 2 rudal.
2 x 2 = 4
32 – 4 = 28
Korvet Parchim ada 14 unit. Masing-masing dipasang 2 rudal.
14 x 2 = 28
28 – 28 = 0
Tuh pas.
Ada ToT guide atau pemandunya ga…?? sebagai ganti program rudal C 705 yg ga ada kabarnya lg..
emang tidak bisa ya beli tanpa jasa pihak ketiga? Jadi Kemenhan yang langsung beli ke roketsan-nya..
Tumben jumlah disebut, gak bahaya ta😁