Uni Eropa Pilih Drone Austria Camcopter S-300 untuk Berburu Kapal Selam, Pertegas Ketepatan Opsi Teknologi Puspenerbal TNI AL

Uni Eropa secara resmi telah memilih helikopter tanpa awak (uav) asal Austria, Camcopter S-300 produksi Schiebel, sebagai platform udara utama dalam proyek ambisius berpendanaan besar untuk mengembangkan kemampuan berburu kapal generasi terbaru bagi angkatan laut Eropa.
Pengumuman yang dirilis pada 1 Juni 2026, menegaskan bahwa drone dengan kemampuan angkut beban hingga 350 kg (772 pon) dan waktu terbang mencapai 24 jam tersebut akan mengemban misi vital dalam proyek riset SWORD. Ini merupakan program kolaborasi pertahanan selama 36 bulan di bawah payung European Defence Fund yang dipimpin oleh raksasa teknologi maritim TKMS ATLAS ELEKTRONIK.
Proyek ini bertujuan membangun sistem terintegrasi yang memungkinkan armada kapal perang mendeteksi, melacak, mengklasifikasi, hingga melumpuhkan kapal selam lawan dari jarak aman, tanpa harus menempatkan kapal permukaan langsung di atas titik ancaman yang mematikan.
Langkah taktis ini diambil seiring dengan meningkatnya urgensi ancaman bawah air global dalam satu dekade terakhir. Rusia diketahui telah memodernisasi armada kapal selamnya secara besar-besaran, mengerahkan kapal-kapal selam canggih yang membuat angkatan laut NATO harus bekerja ekstra keras untuk melacaknya di kawasan Atlantik Utara, Arktik, hingga Laut Mediterania.
🔥DEFENSE UPDATES
🚁 Europe picks Austrian drone sub-hunter: Schiebel S-300.
✅ 24h flight
✅ 350kg sonar gear
✅ Lands on any ship
Zero sailors risked.#UAV pic.twitter.com/f6rs5dd2ZS— Global Defense Analysis (@GlobalDefenseAn) June 1, 2026
Di belahan dunia lain, program kapal selam Cina juga beralih cepat dalam hal jumlah dan kapabilitas tempur. Kedua negara terbukti secara agresif memanfaatkan kekuatan bawah air mereka untuk pengumpulan intelijen dan penguasaan posisi strategis yang secara langsung menantang keamanan maritim negara-negara Eropa serta sekutunya. Menemukan kapal selam modern yang sangat senyap sebelum mereka sempat melepaskan torpedo—dan tanpa membuat kapal permukaan menjadi target empuk—menjadi teka-teki terbesar yang wajib dipecahkan oleh para perencana militer Eropa, di mana proyek SWORD hadir sebagai jawaban konkritnya.
Konsep utama di balik proyek SWORD adalah taktik stand-off Anti-Submarine Warfare (ASW) atau peperangan anti-kapal selam jarak jauh. Taktik ini berhasil menjembatani dilema klasik dalam pemburuan kapal selam: kebutuhan untuk membawa sensor sedekat mungkin ke target, berbanding terbalik dengan risiko tinggi yang dihadapi oleh wahana pembawa sensor tersebut.
Ketika sebuah kapal perang bermanuver tepat di atas posisi yang dicurigai sebagai sarang kapal selam untuk melepas sonar, kapal tersebut sebenarnya sedang masuk dalam jangkauan tembak mematikan dari senjata kapal selam lawan. Dengan mendeploy sensor secara remote menggunakan drone yang presisi, kalkulasi risiko berubah total karena keselamatan kapal induk dan awaknya tetap terjaga, sementara radius deteksi dan perburuan dapat diperluas secara signifikan.
Dipilihnya Camcopter S-300 karena spesifikasi teknisnya yang tidak dimiliki oleh drone berukuran lebih kecil maupun tipe fixed-wing. Kapasitas payload raksasa sebesar 350 kg memungkinkannya menggotong peralatan sonar canggih, meluncurkan beberapa unit sonobuoy untuk menciptakan jaring deteksi akustik di wilayah lautan yang luas, atau membawa paket sensor ASW lengkap sekaligus.
Airbus Uji Teknologi HTeaming, Helikopter H135 Sukses Kendalikan Dua Drone dari Kapal Perang
Dengan ketahanan terbang mencapai 24 jam penuh, drone ini mampu mempertahankan cakupan pengawasan yang persisten tanpa perlu bolak-balik ke kapal induk untuk pengisian bahan bakar—sebuah celah waktu kritis yang biasanya dimanfaatkan kapal selam musuh untuk meloloskan diri. Selain itu, kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) menghilangkan ketergantungan pada landasan pacu, sehingga S-300 bisa dioperasikan dari kapal perang apa pun yang memiliki dek helikopter, ditambah sistem tiga bilah rotor yang dapat dilipat untuk memudahkan penyimpanan di hanggar kapal yang terbatas.
Secara silsilah, Camcopter S-300 merupakan “kakak kandung” bertubuh kekar dari varian legendaris Camcopter S-100 yang sudah kenyang pengalaman operasional di berbagai belahan dunia. Hebatnya, S-300 menggunakan ground control station (GCS) yang sama dengan S-100, sehingga operator yang sudah familier dengan varian lama dapat langsung bertransisi ke sistem yang lebih berat ini tanpa perlu mempelajari arsitektur kontrol yang baru, sekaligus mempermudah integrasi logistik di pangkalan operasi.

Menariknya, rekam jejak keandalan teknologi drone Austria ini nyatanya tidak asing bagi publik tanah air. Indonesia, tepatnya lewat Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) TNI AL, tercatat telah mengoperasikan varian Schiebel Camcopter S-100 untuk memperkuat lini pengawasan maritim dan intelijen di wilayah perairan Nusantara. (Gilang Perdana)


