Penemuan Proyektil Artileri 130mm Type 59 di Papua Nugini, Kedubes Cina Bantah dan Sebut Itu ‘Botol Minuman Keras’

Jagad pertahanan Pasifik Selatan mendadak geger oleh insiden penemuan objek berbobot 32 kilogram di sebuah lokasi konstruksi Port Moresby, Papua Nugini (PNG). Kepolisian setempat menangkap empat warga negara Cina pada Jumat lalu setelah menemukan benda misterius yang diangkut menggunakan kontainer pengiriman komersial tersebut.
Baca juga: Israel Ekspor 100 Amunisi Berpemandu Presisi “Silver Bullet” Howitzer 155mm ke Filipina
Komisioner Polisi Papua Nugini, David Manning, mengonfirmasi bahwa kepolisian tengah menyelidiki secara mendalam, apakah objek tersebut merupakan proyektil aktif yang membahayakan kedaulatan serta keamanan publik, seraya menyebut insiden ini sebagai “penemuan yang sangat mengkhawatirkan.”
Spekulasi mengenai asal-usul benda tersebut makin menguat setelah laporan Australian Broadcasting Corporation (ABC) menukil sumber anonim yang mengidentifikasi objek 32 kg itu sebagai Type 59 130mm Artillery Projectile—sebuah proyektil amunisi artileri medan (armed) yang belum meledak buatan Cina dan dilengkapi bahan peledak kimia dan sumbu (fuze).
Kepolisian PNG sendiri sebelumnya sempat menepis anggapan awal bahwa objek tersebut hanyalah amunisi tiruan (dummy). Namun, Pemerintah Cina melalui Kedutaan Besarnya di Port Moresby secara tegas membantah laporan media Barat tersebut. Pihak Kedubes Cina mengklaim bahwa benda seberat 32 kg itu murni hanyalah “botol minuman keras (wine bottle) berbentuk amunisi” yang sama sekali tidak memiliki bahaya militer, seraya menegaskan bahwa Cina menerapkan aturan pengawasan senjata api paling ketat di dunia yang menutup kemungkinan penyelundupan amunisi aktif.
The Chinese Embassy in Papua New Guinea claims the photo below is DEFINITELY NOT an illegal Chinese artillery shell intercepted at PNG’s Port Moresby.
It’s just a wine bottle, say the CCP officials.
What do you think? https://t.co/cfLO2ofYc7
— Michael Lucci (@Michael7ucci) November 3, 2026
Pembantahan Cina tersebut memicu keraguan publik, terutama terkait bobot benda yang tidak biasa untuk ukuran wadah minuman sipil. Jika ditinjau dari spesifikasi teknis militer, bobot 32 kilogram tersebut justru sangat identik dan presisi dengan bobot asli proyektil artileri kaliber 130 mm (Type 59 / High Explosive) standar Angkatan Darat Cina (PLA) maupun meriam artileri Soviet M-46.
Dalam konfigurasi tempur utuh, sebuah proyektil HE 130 mm memiliki bobot standar antara 33,4 kg hingga 33,6 kg—di mana badan proyektil baja (shell casing) beserta isian bahan peledak utama (main charge) seberat 3,6 kg TNT/RDX jika ditimbang tanpa cartridge case pendorong memang berada persis di kisaran angka 32 hingga 33 kg.
Keraguan masyarakat di media sosial juga menyoroti ketiadaan label penunjuk minuman keras pada objek baja tersebut, serta fakta teknis bahwa botol minuman hiasan umumnya menggunakan bahan keramik atau gelas tipis yang bobot kosongnya tidak akan menyentuh puluhan kilogram.
Hingga saat ini, pihak berwenang Papua Nugini bersama tim teknis penjinak bahan peledak (EOD) masih terus melakukan verifikasi fisik untuk memastikan apakah benda tersebut merupakan infiltrasi komponen amunisi artileri aktif berpotensi peledak kimia atau sekadar cinderamata kontroversial yang dibawa oleh warga asing. (Gilang Perdana)


