Menyentuh Atap Langit: Kisah MiG-25 dan Rekor Ketinggian yang Tak Terpatahkan

Pada 31 Agustus 1977, sebuah raungan mesin jet memecah keheningan di atas langit Uni Soviet. Dari dalam kokpit pesawat jet eksperimental bertanda Ye-155M—sebuah varian modifikasi dari jet pencegat legendaris MiG-25 “Foxbat”—pilot uji senior Aleksandr Fedotov menatap instrumen di hadapannya. Hari itu, ia tidak sekadar melakukan penerbangan uji biasa, melainkan sedang mendorong batas kemampuan manusia dan mesin hingga ke titik terluar yang bisa dicapai oleh sebuah pesawat berdaya dorong udara (air-breathing aircraft).
Saat pesawat mencapai kecepatan mendekati Mach 3 di ketinggian tinggi, Fedotov menarik tuas kontrolnya. Ia menanjakkan hidung pesawat secara ekstrem ke arah langit. Teknik yang dikenal sebagai zoom climb ini pada dasarnya mengubah kecepatan masif menjadi energi potensial untuk “mencambuk” pesawat melesat jauh melampaui batas ketinggian jelajah biasanya.
Pada puncak lintasannya, altimeter mencatat angka spektakuler: 37.650 meter atau sekitar 123.523 kaki. Sebagai gambaran, angka ini tiga kali lebih tinggi dari jalur penerbangan pesawat komersial yang biasa kita tumpangi.
Di titik tertinggi tersebut, kerapatan udara kurang dari satu persen jika dibandingkan dengan udara di permukaan laut. Atmosfer begitu tipis hingga sayap pesawat hampir tak lagi menghasilkan gaya angkat, dan udara terlalu langka untuk mempertahankan pembakaran mesin jet. Namun, dorongan momentum momentum yang presisi berhasil membawa Fedotov mencatatkan rekor dunia mutlak yang diakui oleh Fédération Aéronautique Internationale (FAI).
The highest altitude ever reached by an aircraft is 37,650 meters 123,523 feet, set by a modified Soviet MiG-25 Foxbat (E-266M) flown by Alexandr Fedotov in 1977.
Do you think any aircraft can break this record in future? pic.twitter.com/7gekvGYmDb— durvesh (@BLackgold_5) September 18, 2026
Hingga hari ini, rekor penerbangan mandiri dari landasan (self-propelled takeoff) tersebut belum pernah tergeser oleh pesawat jenis apa pun. Memang benar bahwa pesawat roket seperti North American X-15 pernah terbang jauh lebih tinggi (bahkan menembus batas luar angkasa di atas 100 kilometer), tetapi X-15 harus digendong dan dilepaskan dari perut pesawat induk B-52, bukan lepas landas sendiri menggunakan mesin turbin.
Di era Perang Dingin, kemampuan terbang tinggi seperti ini adalah kunci utama keunggulan militer. Terbang di ketinggian ekstrem memberikan jangkauan pengamatan yang sangat luas, menghemat bahan bakar karena hambatan udara yang amat tipis, serta memberikan perlindungan alami dari jangkauan rudal pertahanan udara musuh pada masa itu.
In 1977, Soviet test pilot Alexandr Fedotov took a modified MiG-25 to 37,650 metres or 123,523 feet.
Nearly 50 years later, no powered aeroplane in its category has climbed higher.
The aircraft was the E-266M, an extreme version of an aircraft already built for speed and… pic.twitter.com/aMJvP1jV0G
— Ammanichanda (@Arkasiraee) September 19, 2026
Namun, zaman telah berubah. Industri penerbangan militer modern tak lagi bernafsu mengejar rekor Ketinggian dan Kecepatan murni. Fokus doktrin udara kini telah bergeser ke arah teknologi siluman (stealth), radar canggih, dan sistem rudal jarak jauh. Lagi pula, untuk urusan pengintaian di batas atmosfer, satelit orbit rendah dan drone berdaya tahan tinggi kini bisa melakukan tugas tersebut dengan jauh lebih efisien dan tanpa risiko kehilangan nyawa seorang pilot.
Rekor yang diukir oleh Aleksandr Fedotov dan MiG-25 E-266M bukan sekadar angka di atas kertas sejarah. Ia adalah monumen dari puncak era keemasan mekanis, di mana para insinyur dan pilot mempertaruhkan segalanya demi menaklukkan batas terakhir atmosfer bumi. (Nurhalim)


