Meski Ditolak Kongres, Angkatan Laut AS Kaji Desain Fregat dari Jepang, Korea Selatan, dan Turki 

Menghadapi krisis kapasitas galangan kapal nasional dan keterlambatan manufaktur armada yang parah, Gedung Putih bersama Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) mengambil langkah tak biasa. Setelah secara resmi membatalkan program fregat Constellation class pada akhir tahun lalu, pemerintah AS kini melirik tiga desain fregat buatan negara sahabat, yakni Mogami class dari Jepang, Chungnam class dari Korea Selatan, serta Istanbul class dari Turki.

Baca juga: JS Nagara (FFM-10), Unit Kesepuluh Fregat Mogami Class Resmi Perkuat Angkatan Laut Jepang

Langkah radikal ini berpotensi mendobrak aturan hukum pertahanan AS yang telah bertahan lebih dari satu abad terkait larangan penggunaan kapal tempur berbendera non-domestik dalam jajaran armada US Navy.

Rencana pengadaan bernilai tinggi ini pertama kali mengemuka menyusul diterbitkannya memo Gedung Putih pada Agustus 2026. Memo tersebut memanfaatkan klausul pengabaian atas nama “kepentingan keamanan nasional” untuk mengesampingkan pembatasan pembelian alutsista laut buatan luar negeri.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS, Hung Cao, mendesak pembentukan tim penguji khusus guna mengevaluasi efektivitas kapal tempur hingga kapal kargo logistik internasional. Studi kelayakan mendalam terkait pemilihan platform frigat baru ini ditargetkan tuntas serta diserahkan secara resmi pada 12 November 2026.

Persaingan kapal perang internasional ini berpotensi mengadopsi mekanisme bernama “Finland Model”. Skema ini memungkinkan hingga dua unit kapal pertama dibangun langsung di galangan negara asal pemenang tender untuk percepatan komisi armada, sebelum dilanjutkan dengan transfer teknologi serta investasi ke galangan kapal domestik AS.

Pendekatan ini serupa dengan program Arctic Security Cutter milik US Coast Guard yang memproduksi lambung awal di Finlandia sebelum memindahkan penuh lini produksinya ke dalam negeri AS. Pola ini dinilai menjadi solusi terobosan untuk mendongkrak ketahanan industri maritim AS tanpa mengorbankan kecepatan pengadaan alutsista strategis.

Akuisisi 11 Unit, Australia Umumkan Mogami Class dari Jepang Sebagai Pengganti Fregat ANZAC Class

Di sisi lain, kebutuhan akan hadirnya kapal tempur jenis fregat sudah sangat mendesak bagi US Navy. Selama ini, kapal perusak (destroyer) Arleigh Burke class sering kali dibebani tugas-tugas pengawalan tingkat menengah yang sebetulnya bisa diemban oleh kapal kelas fregat dengan biaya operasional yang jauh lebih ekonomis.

Kehadiran fregat generasi baru buatan sekutu ini—yang dibekali kemampuan jelajah senyap, fitur siluman (stealth), serta sistem peperangan antikapal selam (ASW) yang kuat—diharapkan dapat membebaskan armada destroyer agar bisa kembali difokuskan pada misi tempur maritim intensitas tinggi (high-end warfare).

Gagal di Kanada, Galangan Kapal Korea Selatan Bidik Pasar Angkatan Laut AS Lewat Inisiatif MASGA

Meski demikian, rencana ambisius ini memicu penolakan sengit dari Kongres AS. Rintangan hukum membentang setelah Senat dan DPR AS memasukkan draft amandemen dalam Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) Tahun Anggaran 2027 untuk mencabut klausul pengabaian pengadaan luar negeri tersebut.

Para senator berupaya keras memblokir penggunaan dana anggaran federal untuk membeli kapal tempur yang diproduksi di galangan luar negeri. Dinamika ini menempatkan keputusan akhir US Navy dalam posisi kritis antara urgensi menutupi celah armada di kawasan Pasifik dengan tekanan politik perlindungan industri galangan kapal dalam negeri. (Gilang Perdana)

Kesepakatan US$1 Miliar: Barzan Holdings dan TAIS Bangun Fregat Istanbul Class untuk Indonesia

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *