Tampilkan “Kota Rudal” Bawah Tanah, Cina Perkuat Detren Nuklir terhadap Amerika Serikat

Untuk pertama kalinya, pemerintah Cina secara terbuka mengungkap keberadaan sebagian dari jaringan luas sistem peluncur rudal bawah tanah (underground silos) untuk rudal balistik antarbenua (Intercontinental Ballistic Missile/ICBM). Langkah transparansi yang tidak biasa dari Beijing ini memperlihatkan pergeseran signifikan dalam struktur serta doktrin daya tangkal (nuclear deterrent) Cina di tengah ketegangan persaingan strategis yang terus meningkat dengan Amerika Serikat.
Baca juga: Siasat di Gurun Xinjiang: Cara Cina Bikin Intelijen AS Pusing Lacak Rudal Nuklir
Penampakan infrastruktur strategis ini muncul dalam sebuah tayangan dokumenter oleh televisi pemerintah Cina, yang menampilkan insinyur dari Pasukan Roket Angkatan Darat Bersenjata Rakyat Cina (PLA Rocket Force). Dalam dokumenter tersebut, sang insinyur menjelaskan proyek pembangunan bertahun-tahun untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai “rumah bagi rudal”.
Fasilitas Bawah Tanah ini dirancang khusus untuk melindungi aset nuklir vital Cina agar tetap utuh dan memiliki daya tahan tinggi (survivability), bahkan ketika harus menyerap serangan nuklir berskala masif dari pihak lawan.
Proyek raksasa yang pertama kali terdeteksi oleh satelit intelijen Barat pada 2021 ini diperkirakan mencakup sekitar 320 silo rudal yang tersebar di tiga lokasi strategis utama di wilayah gurun, lengkap dengan fasilitas pelatihan pendukung. Melalui penayangan dokumenter ini, Beijing secara eksplisit menghubungkan keberadaan “kota rudal” bawah tanah tersebut dengan konsep guaranteed retaliatory strike—sebuah jaminan kemampuan untuk meluncurkan serangan balasan nuklir yang mematikan meskipun negara tersebut telah lebih dulu dihantam serangan pertama (first strike).
China Reveals “Missile Cities” Deep in the Desert for the First Time
For the first time, Beijing has publicly revealed part of a vast network of underground silos for intercontinental ballistic missiles, signaling a significant shift in the structure of China’s nuclear… pic.twitter.com/zHeoeM4kI4
— China pulse 🇨🇳 (@Eng_china5) September 17, 2026
Langkah Cina tidak sekadar menambah kuantitas hulu ledak atau peluncur, melainkan membangun ekosistem benteng bawah tanah terpencar yang sangat sulit dihancurkan sebelum rudal sempat diluncurkan. Diperkuat dengan munculnya sistem rudal generasi baru seperti Dongfeng-61 dan Dongfeng-31BJ, PLA Rocket Force kini bertransformasi dari persenjataan nuklir yang dulunya terbatas menjadi jaringan strategis yang masif, tersebar, dan sangat terlindungi. Pengungkapan jaringan silo di kedalaman gurun ini secara langsung mengubah peta kalkulasi dan persamaan daya tangkal nuklir global.
Kehadiran “kota rudal” bawah tanah ini juga membawa implikasi serius terhadap doktrin pencegahan nuklir (nuclear deterrence) serta kalkulasi intelijen gabungan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Indo-Pasifik. Selama puluhan tahun, Beijing mempertahankan postur “minimum deterrence” yang bertumpu pada armada rudal berbasis peluncur bergerak (mobile launcher) dan kapal selam.
Ternyata Cina Punya Peluncur (Silo) Rudal Balistik Antarbenua Lebih Banyak dari AS
Namun, pembangunan ratusan silo berdaya tahan tinggi di kedalaman gurun ini secara drastis menyulitkan strategi serangan pra-penangkalan (pre-emptive strike) lawan. Musuh kini dihadapkan pada dilema taktis yang ekstrem: meluncurkan ratusan hulu ledak hanya untuk menghancurkan silo yang belum tentu berisi rudal aktif, sembari membuka diri terhadap serangan balasan mematikan dari Pasukan Roket Cina.
Lebih jauh lagi, ekspansi infrastruktur strategis ini memperkuat posisi tawar diplomatik dan militer Beijing dalam menghadapi tekanan geopolitik Washington. Dengan memastikan bahwa jaringan kekuatan nuklirnya sanggup bertahan dari skenario terburuk, Cina mengirimkan pesan yang sangat tegas bahwa skema dominasi atau intimidasi militer di Selat Taiwan maupun Laut Cina Selatan tidak akan mempan.
Pengungkapan fasilitas bawah tanah ini menandai era baru dalam persaingan kekuatan besar (great power competition), di mana Cina tidak lagi bersikap pasif, melainkan secara terbuka memamerkan benteng nuklir bawah tanahnya sebagai pilar utama kedaulatan nasional. (Gilang Perdana)
Gertak Asli Beijing! Cina Buka Suara Soal Jaringan Silo Bawah Tanah untuk Rudal Nuklir Jarak Jauh


