Masih Terpasang di ITS Garibaldi, Ini Keunggulan CIWS Breda Dardo di Kapal Induk KRI Gajah Mada

Dalam pelayarannya dari Italia menuju Indonesia dan kini telah tiba di Colombo, Sri Lanka, penampilan fisik kapal induk ringan eks ITS Garibaldi yang akan menyandang nama resmi KRI Gajah Mada terus mencuri perhatian pengamat militer. Salah satu detail teknis paling menonjol pada struktur superstructure dan lambung kapal adalah masih terpasangnya kubah meriam ganda berkecepatan tinggi Breda Dardo.
Kehadiran sistem pertahanan titik ini menegaskan bahwa meski kapal induk STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) tersebut berganti panji, lini pertahanan diri jarak dekat (close-in weapon system/CIWS) berbasis kanon otomatis tetap dipertahankan untuk mengawal sang kapal induk dari ancaman udara dan permukaan.
Dardo merupakan sistem CIWS terpadu buatan Italia yang menggabungkan kubah meriam ganda Breda Compact Type 40L70 berkaliber 40 mm dengan radar pengendali tembakan fire control radar (FCR) Selex RTN-20X (MM/SPG-74). Ditinjau dari spesifikasi teknisnya, kubah meriam ini dibekali dua laras Bofors 40 mm L/70 yang masing-masing memiliki kecepatan tembak (rate of fire) mencapai 300 hingga 330 peluru per menit.
Jika diletupkan secara bersamaan, sistem Dardo mampu menghujani sasaran dengan muntahan 600 hingga 660 putaran amunisi per menit. Menggunakan amunisi khusus bertipe HEET (High-Explosive High-Fragmentation) atau amunisi pintar berpenemu jarak proximity fuse, meriam ini memiliki jangkauan tembak efektif hingga 4.000 meter untuk sasaran udara bergerak cepat.

Sistem Breda Dardo dikategorikan sebagai CIWS karena dirancang khusus bekerja secara otonom dan bereaksi sangat cepat untuk menghancurkan ancaman jarak pendek yang lolos dari jangkauan rudal pertahanan udara jarak sedang.
Sistem Dardo terintegrasi langsung dengan radar pencari dan pembidik yang mampu melacak pergerakan rudal anti-kapal (sea-skimming anti-ship missile) yang terbang sangat rendah di atas permukaan laut. Keunggulan utama dari Dardo terletak pada daya hancur amunisi kaliber 40 mm yang jauh lebih mematikan dibanding CIWS kaliber kecil seperti Phalanx 20 mm atau Goalkeeper 30 mm, di mana benturan fisik dari amunisi 40 mm mampu memicu ledakan hulu ledak rudal musuh di udara sebelum menyentuh lambung kapal.

Pada arsitektur KRI Gajah Mada, kubah Breda Dardo ditempatkan secara strategis di beberapa titik sudut (sponson) luar lambung dan superstructure untuk memberikan jangkauan tembakan 360 derajat tanpa mengganggu ruang landasan pacu (flight deck).
Berbeda dengan sistem rudal pertahanan udara Surface-to-Air Missile (SAM) Albatros/Aspide yang sudah uzur, meriam Breda Dardo justru masih berstatus aktif dioperasikan (fully operational). Kemudahan perawatan mekanis laras Bofors 40 mm serta ketersediaan pasokan amunisi standar NATO membuat sistem CIWS ini sangat andal untuk terus dikawal oleh teknisi TNI AL.
ITS Garibaldi Bawa Peluncur Mk29, Mengapa Rudal Aspide Tak Lagi Relevan untuk KRI Gajah Mada?
Pertahanan berbasis meriam kanon berkecepatan tinggi seperti Breda Dardo tetap relevan di era perang laut modern. Ancaman pertempuran laut saat ini tidak hanya berasal dari rudal anti-kapal jelajah, melainkan juga dari bahaya serangan jenuh First-Person View (FPV) drone, drone kamikaze laut (unmanned surface vessel/USV), serta kapal cepat penyerang musuh.
Kehadiran CIWS Breda Dardo yang tetap siaga di atas geladak KRI Gajah Mada memberikan perisai kinetik yang sangat efektif untuk melahap ancaman asimetris jarak dekat tersebut sebelum mampu mendekati tubuh sang kapal induk. (Gilang Perdana)
Mengenal Perangkat Radar dan Sensor Utama di ‘Island’ Kapal Induk KRI Gajah Mada (ITS Garibaldi).


