Mengenal Perangkat Radar dan Sensor Utama di ‘Island’ Kapal Induk KRI Gajah Mada (ITS Garibaldi).

Menjelang kedatangannya di Tanah Air, profil kapal induk ringan KRI Gajah Mada (ITS Giuseppe Garibaldi) eks Angkatan Laut Italia (Marina Militare) terus mencuri perhatian publik nasional. Salah satu komponen paling krusial yang menopang keandalan tempur kapal sepanjang 180 meter ini berada pada struktur menara atas (island).
Pada island sebagian besar “mata dan telinga” elektronik kapal terintegrasi untuk menjalankan misi navigasi, pengawasan udara, hingga pemanduan senjata. Pada era awal peluncurannya, dominasi perangkat sensor dan radar yang terpasang pada island Garibaldi dipasok oleh raksasa teknologi pertahanan Italia, Selenia (sebelum bertransformasi menjadi Alenia, Selex ES, dan kini sepenuhnya di bawah naungan Leonardo).
Struktur mast dan menara pada island Garibaldi dijejali oleh sederet sensor generasi awal yang canggih pada zamannya. Untuk fungsi pengawasan udara jarak jauh (long-range air search), kapal ini mengandalkan radar Selenia SPS-768 (RAN-3L) berfrekuensi D-band yang mampu mendeteksi sasaran udara hingga jarak ratusan kilometer.
Posisi antena radar SPS-768 terletak pada tiang mast depan (posisi paling tinggi dan besar, berbentuk antena parabola jaring ganda berukuran besar). Radar udara ini disandingkan dengan radar pencari sasaran permukaan dan udara jarak menengah-rendah Selenia SPS-774 (RAN-10S) beroperasi pada F-band.
Untuk mengatasi ancaman rudal anti-kapal yang terbang sangat rendah (sea-skimming), dipasang pula radar pengawas permukaan SMA SPS-702. Sementara untuk sistem pemandu tembakan (fire control radar), Garibaldi mengusung empat unit radar Selenia SPG-75 (RTN-30X) Orion yang terhubung langsung dengan sistem pertahanan udara jarak pendek (CIWS) Dardo/Otobreda 40 mm dan rudal Aspide. Semua data taktis tersebut diolah secara real-time oleh sistem manajemen tempur (Combat Management System) IPN-20 buatan Selenia.
Keunggulan rangkaian sensor buatan Selenia pada masa kejayaannya (era 1980-an hingga 1990-an) terletak pada integrasi penuh antar-subsistem (fully integrated combat system). Selenia berhasil menciptakan arsitektur radar yang responsif dalam mendeteksi ancaman asimetris dan rudal anti-kapal berkecepatan tinggi di lingkungan perairan sempit seperti Laut Mediterania.

Selain memiliki ketahanan tinggi terhadap interferensi peperangan elektronika (Electronic Countermeasures/ECM), perpaduan radar penjelajah RAN-3L dan radar pengunci RTN-30X memungkinkan ITS Garibaldi memandu beberapa saluran tembak secara bersamaan, memberikan payung perlindungan mandiri (self-defense) yang sangat rapat bagi armada pengawalnya tanpa bergantung penuh pada kapal perusak (destroyer).
Seiring bertambahnya usia operasional dan dinamika ancaman maritim modern, sistem sensor pada island Garibaldi tidak dibiarkan usang begitu saja. Memasuki era 2000-an dan pertengahan masa layaknya (Mid-Life Upgrade/MLU), Angkatan Laut Italia melakukan pembaruan berkala pada suite avionik dan radarnya.
Otak Komando KRI Gajah Mada: Mengenal CMS SADOC Pada Kapal Induk Eks ITS Garibaldi
Radar pengawas udara lawas SPS-768 secara bertahap digantikan oleh sistem yang lebih modern seperti Selex RAN-40S (L-band 3D radar) untuk meningkatkan jangkauan deteksi dan kemampuan pelacakan target berpenampang radar kecil (stealth). Sistem manajemen tempurnya turut ditingkatkan ke standar SADOC 3, lengkap dengan modernisasi perangkat peperangan elektronika (ESM/ECM) Elettronica Newton serta integrasi sistem komunikasi satelit (SATCOM) modern guna mendukung peran Garibaldi sebagai kapal bendera (flagship) komando gugus tempur laut. (Gilang Perdana)


