Misteri Jatuhnya Drone Kamikaze K-LUCAS di LPH Marado Terkuak, Ternyata Gara-gara Masalah Sepele

Misteri di balik jatuhnya dua unit drone kamikaze K-LUCAS (Korean Light Loitering Attack System) buatan Korea Selatan saat uji peluncuran dari kapal pendarat amfibi LPH (Landing Platform Helicopter) ROKS Marado akhirnya terungkap secara resmi.
Lembaga Pengembangan Pertahanan Korea Selatan atau Agency for Defense Development (ADD) mengonfirmasi bahwa insiden kegagalan ganda dalam eksperimen tempur bukan disebabkan oleh kerusakan teknis pada sistem aviasi maupun mesin drone, melainkan akibat cacat sepele pada komponen tabung peluncur (launch tube).
Berdasarkan hasil investigasi mendalam yang dirilis ADD, tim peneliti menemukan adanya defek penataan (alignment defect) pada bagian pintu tabung peluncur bawah yang terpasang sedikit melengkung atau terdistorsi. Wadah peluncur yang digunakan dalam uji coba di atas geladak LPH Marado sendiri terdiri dari dua tabung yang disusun secara vertikal. Ketika drone diluncurkan dari tabung bagian atas, dorongan gaya (engine thrust) secara mendadak menekan pintu tabung bawah yang bengkok tersebut hingga memicu ketidakseimbangan gaya reaksi.
Dampak dari gaya dorong yang memantul tidak merata seketika mendorong bodi drone ke arah kanan secara mendadak saat keluar dari tabung. Kondisi ini membuat sikap terbang (attitude) drone K-LUCAS terganggu hingga akhirnya mengalami roll tajam ke kanan, kehilangan daya angkat, dan langsung jatuh terhempas ke perairan selatan Busan.
Investigation results on South Korea’s suicide drone crashes off ROKS Marado:
ADD confirmed the crashes were caused by a warped door on the lower launch tube. Engine thrust during launch hit the deformed door, creating uneven reaction forces that pulled the drone right and led… https://t.co/KQQecC9o1T pic.twitter.com/DQ8mYNRve2
— 笑脸男人 (@lfx160219) August 30, 2026
ADD menjelaskan bahwa deformasi struktural pada pintu peluncur tersebut hanya terjadi sekilas saat momen peluncuran dan langsung kembali ke bentuk semula, sehingga tim teknisi di lapangan tidak sempat mendeteksinya secara langsung saat uji coba berlangsung. Pihak ADD menduga kerusakan atau pergeseran pada tabung peluncur yang ditangani oleh LIG Defense & Aerospace (D&A) tersebut terjadi selama proses transportasi cargo, penanganan saat mobilisasi, atau proses perakitan akhir di atas kapal.
Kendati uji coba maritim tersebut gagal mencapai tahap penyerangan target bergerak sejauh dua kilometer, ADD menegaskan bahwa sistem avionik, propulsi, dan teknologi inti dari drone berukuran panjang dua meter dan bentang sayap tiga meter ini sebenarnya telah berfungsi secara normal dan berhasil diamankan lewat puluhan kali uji coba di darat.
Setiap prototipe drone yang tenggelam diperkirakan menelan biaya sekitar 800 juta won, namun ADD memutuskan tidak akan melakukan uji peluncuran ulang di laut. Pihak pengembang menyatakan tetap optimistis untuk menyelesaikan seluruh rangkaian proyek riset drone suicide bernilai strategis ini sesuai tenggat waktu yang ditetapkan, seraya melakukan evaluasi menyeluruh pada daya tahan material peluncur agar siap diintegrasikan pada armada kapal perang Angkatan Laut Korea Selatan di masa depan. (Gilang Perdana)
Thailand Jajaki Kerja Sama Drone Kamikaze LUCAS dengan AS, Bidik Produksi Lokal dan Alih Teknologi


