Kamera Drone Laut (USV) Royal Navy Diam-diam Kirim Data ke Cina, Alarm Merah untuk Perangkat Intelijen Barat

Skandal keamanan siber berpotensi tinggi kembali mengguncang sektor pertahanan Inggris. Armada sea drone (unmanned surface vessel/USV) milik Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) ditemukan secara diam-diam mengirimkan sinyal data tersembunyi ke sebuah alamat IP yang berlokasi di Cina.
Insiden ini dipicu oleh ditemukannya komponen buatan manufaktur Cina pada sistem kamera pengawas drone tersebut, meskipun pihak pemasok sebelumnya telah memberikan jaminan penuh terkait keamanan perangkat keras maupun lunak (hardware and software security).
Investigasi internal mengungkapkan bahwa kamera pemantau pada sea drone tersebut secara berkala memancarkan sinyal “heartbeat” — transmisi data rutin yang digunakan untuk memverifikasi koneksi aktif — langsung ke peladen (server) di Cina. Temuan ini memaksa Kementerian Pertahanan Inggris (Ministry of Defence/MoD) segera memutus seluruh konektivitas pada modul kamera terdampak dan melakukan patching darurat.
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa tidak ada data sensitif yang bocor atau dikompromikan selama transmisi berlangsung. Namun, sumber internal sektor pertahanan secara terbuka menyebut skandal ini sebagai sebuah “kegagalan besar” (major failure) dalam prosedur verifikasi rantai pasok (supply chain audit) pertahanan.
The UK Ministry of Defense has discovered that the Royal Navy’s new fleet of spy drones, being operated by elements of the Royal Marines since March, have been secretly transmitting information from the drone’s primary camera to China, according to an investigation from The… pic.twitter.com/8ok38w9Vx1
— OSINTdefender (@sentdefender) August 10, 2026
Armada drone pengintai yang menjadi fokus skandal ini adalah K3 Scout, sebuah USV serbaguna (multirole uncrewed surface vessel) sepanjang 27 kaki (sekitar 8,2 meter) yang diproduksi oleh Kraken Technology Group di Inggris. Dioperasikan oleh unsur pasukan khusus Royal Marines sejak Maret lalu, bot tak berawak berkecepatan tinggi ini dirancang khusus untuk misi pengawasan maritim, pengintaian, dan pengamanan wilayah perairan.
Rencananya, armada K3 Scout ini bakal dikirim ke Selat Hormuz sebagai bagian dari operasi Angkatan Laut Inggris dalam mengamankan jalur pelayaran komersial internasional dari ancaman asimetris. Penemuan celah keamanan pada platform vital ini memicu keprihatinan mendalam, mengingat K3 Scout diproyeksikan sebagai tulang punggung pengawasan visual dan intelijen real-time pasukan marinir Inggris di kawasan rawan tersebut.
🇬🇧 Kraken Technology Group and Capewell, supported by the Royal Navy under Project Beehive, have successfully completed the world’s first extracted-load airdrop of an uncrewed surface vessel (USV) from an A400M military transport aircraft. @KrakenTechGroup @CapewellDefense… pic.twitter.com/rFG59BZdIS
— DefPost (@defpostmedia) July 8, 2026
Kasus yang menimpa Royal Navy ini bukanlah kejadian terisolasi, melainkan babak baru dari ancaman spionase perangkat pengawas buatan Cina yang telah lama diwaspadai oleh aliansi intelijen Barat (Five Eyes). Selama beberapa tahun terakhir, negara-negara Barat secara bertahap telah memberlakukan pembatasan hingga larangan total terhadap penggunaan kamera pengawas (CCTV) dan perangkat IoT buatan perusahaan raksasa Cina seperti Hikvision dan Dahua.
Amerika Serikat melalui NDAA memblokir penggunaan CCTV Cina di fasilitas militer sejak beberapa tahun lalu karena kekhawatiran pintu belakang (backdoor). Inggris dan Australia juga telah merilis instruksi penghentian hingga pelucutan (rip and replace) ratusan kamera buatan Cina dari gedung pemerintah dan pangkalan strategis, sementara Uni Eropa terus memperketat pengawasan di fasilitas riset militer mereka.
German Rheinmetall has reportedly begun serial production of the Kraken K3 Scout unmanned surface vessel at its Blohm+Voss shipyard in Hamburg, expanding its naval autonomous systems portfolio. #Germany #Rheinmetall #USV #Naval #Autonomous #Defense pic.twitter.com/fCOJe5fRKE
— Drone Wars (@Drone_Wars_) April 27, 2026
Penemuan pada USV K3 Scout milik Royal Marines ini membuktikan bahwa potensi penyusupan backdoor tidak hanya mengintai infrastruktur sipil, tetapi telah berhasil menembus alutsista tak berawak kelas militer yang dioperasikan oleh pasukan elite. Insiden ini menjadi alarm merah bagi strategi proyeksi kekuatan laut (naval power projection) Inggris di masa depan, yang saat ini sangat bergantung pada integrasi sistem otonom untuk mengompensasi penurunan jumlah kapal tempur utama berawak seperti frigat dan perusak.
Kejadian di Selat Hormuz ini dipastikan memicu revaluasi total terhadap praktik penggunaan komponen komersial (commercial off-the-shelf) serta memaksa negara-negara NATO memperketat audit rantai pasok alutsista tak berawak dari ancaman spionase siber. (Bayu Pamungkas)
Protector USV: Andalkan Teknologi Plug and Play, Inilah Drone Laut Bersenjata di Asia Tenggara


