Jepang Dinilai Remehkan Kekuatan Jet Tempur J-20 dan J-35 Cina dalam Buku Putih Pertahanan 2026

Pemerintah Jepang kembali memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat militer internasional setelah merilis Buku Putih Pertahanan (Defense White Paper) 2026. Dalam dokumen resmi tersebut, Tokyo mengklaim bahwa Angkatan Udara Cina (PLAAF) dan penerbangan Angkatan Lautnya saat ini hanya mengoperasikan sekitar 308 unit jet tempur siluman Chengdu J-20 Mighty Dragon dan delapan unit jet tempur generasi kelima berbasis kapal induk Shenyang J-35.
Angka statistik yang dirilis Kementerian Pertahanan Jepang tersebut dinilai banyak pihak sangat jauh dari realitas lapangan dan terkesan secara sengaja mengecilkan kemajuan pesat produksi alutsista strategis Beijing.
Sikap Tokyo yang memicu analogi permainan “burung unta”—menyembunyikan kepala di dalam tanah untuk menolak melihat kenyataan—dinilai sangat kontradiktif dengan data intelijen serta laporan media-media Barat. Beberapa bulan sebelum dokumen Jepang tersebut terbit, berbagai laporan media pertahanan ternama di AS dan Eropa memperkirakan jumlah armada J-20 operasional Cina telah melampaui angka 500 unit, bahkan ada yang memproyeksikan mendekati 600 unit. Laju manufaktur Chengdu Aircraft Corporation (CAC) yang menggunakan lini produksi berteknologi tinggi terbukti mampu melipatgandakan pengiriman jet siluman ini dalam hitungan tahun.
Ketimpangan data dalam dokumen Jepang semakin terlihat jelas jika disandingkan dengan bukti-bukti visual yang beredar di ranah publik. Pada gelaran Changchun Air Show misalnya, publik disuguhkan penampilan fisik unit J-20 yang membawa nomor seri produksi ke-300 (serial/batch number).
Japan is still playing the “ostrich” game.
Japan’s 2026 Defense White Paper claims China has only 8 J-35 fighters and 308 J-20 fighters.
What’s hard to ignore is that even several Western media reports months ago estimated the J-20 fleet had already surpassed 500 aircraft or… pic.twitter.com/haHuRr68wL
— China pulse 🇨🇳 (@Eng_china5) August 5, 2026
Mengingat pesawat tempur tersebut berasal dari gelombang produksi lama, secara logis total populasi J-20 yang diproduksi hingga tahun 2026 dipastikan berada jauh di atas angka tersebut. Hal serupa terjadi pada program J-35 besutan Shenyang Aircraft Corporation (SAC), di mana visual jet tempur ini sudah mengusung nomor produksi ke-30, jauh melampaui klaim Jepang yang menyebut Cina baru memiliki delapan unit.
Di sisi lain, muncul pula spekulasi bahwa perbedaan data ini dipicu oleh kemungkinan penggunaan teknik pengelabuan (deception technique) oleh pihak Cina. Beijing bisa saja sengaja memanipulasi atau melompati penomoran seri produksi (number inflation) pada bodi pesawat untuk menciptakan efek penggentar (deterrence) dan mengacaukan analisis intelijen lawan.
Kendati demikian, dalam era intelijen modern, pengelabuan skala besar sangat sulit menyembunyikan realitas produksi murni. Pemantauan satelit multi-spektrum (GEOINT) terhadap perluasan pabrik, frekuensi uji terbang, hingga logistik rantai pasok mesin roket tetap menjadi bukti keras yang sulit dipalsukan.
Kecenderungan Tokyo yang lebih memilih meremehkan kapabilitas militer Cina—baik karena berasumsi penomoran tersebut adalah manipulasi maupun sekadar kelemahan analisis—membawa risiko strategis yang sangat besar. Menyangkal laju manufaktur dan kemajuan alutsista musuh tidak akan mengubah peta kekuatan udara di Indo-Pasifik, melainkan hanya meningkatkan risiko kekeliruan kalkulasi (flawed assessment) yang berbiaya mahal bagi keamanan Jepang dan sekutunya. (Gilang Perdana)


