Cina Tampilkan Jet Tempur Stealth Chengdu J-20 dengan Nomer Konstruksi “CB10300”, Indikasi Produksi Ke-300!

Terlepas dari aspek kualitas produk, perbandingan kuantitas jet tempur stealth menjadi perhatian, pasalnya bila pecah konflik terbuka, maka kuantitas akan turut menentukan. Terkait dengan rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina, maka eksistensi F-22 Raptor dan Chengdu J-20 “Mighty Dragon” ikut mengemuka, jumlah kedua jet tempur stealth akan membawa pengaruh pada dominasi udara. Dan ada kabar menarik dari Changchun Airshow 2025.

Baca juga: Hari ini, 14 Tahun Lalu, Chengdu J-20 Sang Penantang F-22 Raptor Terbang Perdana

Changchun Airshow (23-28 Agustus 2025) yang dihelat di Pangkalan Udara Changchun, lokasi Akademi Penerbangan Angkatan Udara Cina, menampilkan sosok Chengdu J-20 dengan nomer seri pada ekor 63106 yang menggegerkan analis pertahanan internasional, pasalnmya Chengdu J-20 tersebut mengisyaratkan produksi ke-300.

Meskipun Cina jarang merilis data resmi tentang jumlah produksi pesawat militernya, kemunculan J-20 dengan nomor konstruksi “CB10300” (batch 10, unit ke-300) telah memicu dugaan kuat di kalangan pengamat intelijen terbuka (OSINT) dan pakar militer bahwa Angkatan Udara Cina telah mengoperasikan setidaknya 300 unit J-20.

Ini menunjukkan laju produksi J-20 oleh Chengdu Aerospace Corporation (CAC) sangat cepat, jauh melampaui perkiraan banyak analis Barat beberapa tahun yang lalu. Capaian ini menempatkan Cina di posisi terdepan dalam hal jumlah pesawat tempur generasi kelima yang beroperasi.

Prediksi Barat mengenai jumlah unit J-20 telah berubah secara signifikan dari waktu ke waktu. Pada tahun-tahun awal produksi J-20, perkiraan Barat cenderung konservatif, yakni dengan jumlah diperkirakan masih puluhan unit, sejalan dengan fase awal produksi pesawat tempur baru.

Namun, pada tahun 2022-2023 prediksi mulai meningkat tajam. Para analis mengamati nomor lambung pesawat pada airshow seperti Zhuhai Airshow memperkirakan Cina telah memproduksi sekitar 180 hingga 220 unit J-20. Angka ini mengejutkan banyak pihak karena sudah melampaui total produksi jet tempur siluman F-22 Raptor yang berjumlah 187 unit.

Sebagai perbandingan, produksi jet tempur siluman F-22 Raptor telah dihentikan. Total produksi F-22 mencapai 195 unit, di mana 187 unit di antaranya adalah pesawat operasional yang digunakan oleh USAF.

Laporan di tahun 2024, termasuk dari media Barat, menyebutkan bahwa laju produksi J-20 sudah mencapai sekitar 100 pesawat per tahun. Angka ini menempatkan Cina di posisi terdepan dalam kecepatan produksi jet tempur generasi kelima, jauh di atas AS yang memproduksi F-35 Lightning II. Beberapa perkiraan bahkan sudah menembus angka 250 unit.

Peningkatan pesat produksi J-20 memiliki implikasi strategis yang signifikan bagi AS dan sekutunya. Yang paling kentara adalah tantangan terhadap keunggulan udara. Selama beberapa dekade, AS dan sekutunya menikmati keunggulan teknologi dan numerik yang jelas di udara.

Pilot Chengdu J-20 Klaim Berhasil Masuk ke Wilayah Udara Taiwan Tanpa Terdeteksi

Dengan Cina yang sekarang berpotensi mengoperasikan lebih banyak jet tempur siluman daripada F-22, dan terus meningkatkan armada Shenyang J-35, maka keunggulan ini mulai terkikis. Hal ini dapat mengubah dinamika kekuatan, terutama di kawasan Indo Pasifik.

Produksi J-20 yang cepat dapat memicu perlombaan senjata baru di Asia, di mana negara-negara lain, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia, akan merasa perlu untuk meningkatkan dan mempercepat akuisisi jet tempur generasi kelima mereka untuk mengimbangi Cina.

Dalam potensi konflik, seperti invasi ke Taiwan, armada J-20 yang besar akan memberikan Beijing kemampuan untuk menguasai wilayah udara, melakukan serangan presisi, dan melindungi kekuatan darat serta laut mereka. Ini akan membuat operasi AS dan sekutunya menjadi jauh lebih sulit dan berisiko. (Bayu Pamungkas)

Pertama Kali Jet Tempur Stealth Cina Chengdu J-20 Tampil dalam “Beast Mode”

4 Comments