Australia Jadi Negara Pertama di Luar AS yang Bakal Operasikan Rudal Udara ke Udara AIM-260 JATM

Pemerintah Australia secara resmi mengumumkan akuisisi rudal udara-ke-udara jarak jauh (beyond-visual-range) canggih besutan Lockheed Martin, AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM). Pengumuman bernilai A$736 juta (sekitar US$480 juta) ini disampaikan oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, di sela-sela Latihan Bersama Pitch Black 2026 di Darwin.

Baca juga: Australia Disebut Bakal Akuisisi AIM-260 JATM, Salah Satu Rudal Udara ke Udara ‘Temahal’ di Dunia

Kesepakatan yang dilakukan melalui skema Foreign Military Sales (FMS) dari Amerika Serikat ini menjadikan Angkatan Udara Australia (RAAF) sebagai operator asing pertama di luar militer AS yang mengadopsi senjata canggih tersebut. Langkah strategis ini diambil Canberra untuk memperkuat daya gentar dan kesiapan tempur RAAF di tengah meningkatnya ekskalasi ketegangan serta modernisasi militer Cina di kawasan Indo-Pasifik.

Integrasi AIM-260 JATM pada armada RAAF akan dilakukan secara bertahap. Jet tempur F/A-18F Super Hornet diproyeksikan menjadi platform pertama yang akan mengusung rudal ini. Selanjutnya, AIM-260 akan diintegrasikan ke jet tempur siluman F-35A Lightning II dan pesawat perang elektronik EA-18G Growler.

Penambahan EA-18G Growler sebagai usulan platform pengusung JATM menjadi sorotan baru yang sangat menjanjikan mengingat kesamaan basis airframe-nya dengan Super Hornet. Tak berhenti di situ, drone Collaborative Combat Aircraft (CCA) MQ-28 Ghost Bat buatan Boeing Australia juga dibidik sebagai kandidat masa depan untuk mengusung JATM secara internal pada varian Block 3.

Meskipun sebagian besar rincian teknis AIM-260 masih diklasifikasikan sebagai dokumen rahasia, rudal ini dirancang khusus untuk menggantikan peran AIM-120 AMRAAM yang saat ini menjadi andalan utama RAAF.

Pengembangan JATM dipicu oleh kekhawatiran Pentagon terhadap kemunculan rudal jarak jauh PL-15 milik Cina yang dinilai melampaui jangkauan AMRAAM varian C/D. Dari segi desain, AIM-260 didesain memiliki ukuran fisik (form factor) yang hampir serupa dengan AIM-120 AMRAAM. Keunggulan dimensi ini memungkinkan JATM muat di dalam ruang senjata internal (internal weapons bay) jet tempur siluman seperti F-35A dan F-22 Raptor tanpa mengorbankan kapasitas muat maupun profil radar pesawat.

Dari segi performa dan teknologi, JATM diperkirakan memiliki jangkauan tembak efektif melampaui 120 mil (sekitar 200 km) hingga jauh melebihi angka tersebut. Ditenagai mesin roket dengan bahan pendorong berdensitas tinggi (highly loaded propellant) berteknologi dual-pulse, rudal ini mampu menjaga momentum energi hingga fase akhir penerbangan (endgame maneuverability).

Penggunaan sistem thrust vectoring memberikan kelincahan manuver yang sangat tinggi untuk mengejar target yang menghindar. Selain itu, AIM-260 diyakini mengusung pencari radar Active Electronically Scanned Array (AESA) yang sangat resisten terhadap pengecohan elektronik (jamming), yang berpotensi dipadukan dengan pemandu imaging infrared (IIR) serta passive radiofrequency.

Pentagon Panik! Rudal Udara ke Udara PL-16 Cina Lampaui Kemampuan AIM-260

Rudal ini juga dilengkapi jaringan komunikasi canggih (advanced networking) untuk menerima pembaruan data sasaran secara real-time dari pihak ketiga tanpa mengharuskan pesawat peluncur mengaktifkan radarnya sendiri, sehingga menjaga kerahasiaan posisi pesawat penembak.

Keputusan pengadaan AIM-260 JATM menempatkan RAAF pada posisi yang sangat strategis dalam lanskap keamanan regional. Kombinasi antara armada tempur generasi kelima F-35A, pesawat perang elektronik EA-18G Growler, drone loyal wingman MQ-28 Ghost Bat, dan kini dipersenjatai rudal berjangkauan ekstrem AIM-260, secara signifikan meningkatkan lethality serta survivability RAAF di ruang udara yang terdistorsi oleh sistem pertahanan musuh.

Makin Bongsor, Boeing Perluas Sayap UCAV Siluman MQ-28 Ghost Bat untuk Gotong Rudal AMRAAM Internal

Langkah ini selaras dengan Dokumen Strategi Pertahanan Nasional Australia yang menekankan pentingnya kemampuan menyerang dari jarak jauh (long-range strike) dan doktrin deterrence by denial.

Dengan menjadi satu-satunya negara di luar AS yang mengoperasikan JATM, Australia berhasil mengunci keunggulan kualitatif dalam pertempuran udara jarak jauh (Beyond Visual Range) di Indo-Pasifik, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai pilar kekuatan udara utama yang sangat disegani di kawasan. (Bayu Pamungkas)

Misteri Stratosfer: Mengapa Tak Semua Rudal Udara Mampu Berlaga di Atas 60.000 Kaki 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *