Gaya Perang Dunia II, Ini Sebab Kapal Selam Nuklir Inggris Pasang Senapan Mesin di Conning Tower

Melihat senapan mesin dipasang pada bagian luar kapal selam yang sedang berlayar di permukaan adalah pemandangan yang sangat langka di era modern. Hal ini tentu sangat berbeda dengan era Perang Dunia II, di mana kapal selam kala itu lazim dilengkapi dengan kanon dek (deck gun) atau meriam anti-serangan udara (AA gun) untuk menghadapi ancaman permukaan.
Namun, dokumen foto dari dua kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN) milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy), HMS Trenchant (S91) dan HMS Talent (S92), menunjukkan pengecualian yang menarik. Saat melakukan navigasi di permukaan perairan domestik, menara (bridge fin atau conning tower) kedua kapal selam Trafalgar class ini kedapatan dipasangi dua pucuk senapan mesin multiguna GPMG (General Purpose Machine Gun) kaliber 7,62 mm.
Meskipun HMS Trenchant dan HMS Talent saat ini telah resmi purnatugas—keduanya dipensiunkan bersamaan pada Mei 2022 setelah mengabdi lebih dari tiga dekade—keberadaan foto-foto tersebut menyajikan bukti empiris mengenai prosedur ketat Force Protection (perlindungan kekuatan) yang diterapkan Royal Navy. Ketika kapal selam nuklir berbobot 5.300 ton ini harus transit melewati perairan yang sempit dan padat seperti Sungai Thames di London atau saat keluar-masuk pangkalan Gibraltar, ruang gerak mereka menjadi sangat terbatas.
HMS Trenchant (S91) fitted with 7.62 mm GPMGs for force protection against asymmetric surface threats. The machine guns were mounted on the bridge fin whenever the submarine transited confined or high-visibility waters, such as the River Thames, to keep unauthorized small boats… pic.twitter.com/0UPDgyTWNO
— Air Power (@RealAirPower1) July 5, 2026
HMS Talent arrives in Gibraltar this afternoon with a new sensor suite fitted on either side of the conning tower
(Possibly wake detection technology)
Photos via @dparody pic.twitter.com/9QwOR05aMf
— Navy Lookout (@NavyLookout) February 2, 2021
Di permukaan, monster bawah laut ini berada pada posisi yang paling rentan terhadap ancaman asimetris, seperti kapal cepat berukuran kecil, kelompok sabotase, atau perahu motor tak dikenal yang mendekat secara agresif. Karena torpedo berat Spearfish maupun rudal jelajah Tomahawk di dalam lambungnya sama sekali tidak bisa digunakan untuk menghadapi target sedekat itu, pemasangan GPMG 7,62 mm secara temporer menjadi solusi taktis paling logis untuk memberikan efek deteren visual sekaligus menjaga jarak aman.
Dipertahankannya doktrin bernuansa “Perang Dunia II” ini pada armada kapal selam Trafalgar class justru didorong oleh evolusi ancaman pertempuran laut modern yang semakin kompleks. Pasca insiden pengeboman kapal perusak USS Cole oleh perahu motor bunuh diri pada tahun 2000, dunia militer menyadari betapa rentannya aset strategis bernilai triliunan rupiah terhadap serangan asimetris berbiaya murah.
Di era sekarang, ancaman tersebut berevolusi lebih jauh dengan munculnya perahu nirawak kamikaze (Unmanned Surface Vehicles / USV). Foto taktis dari HMS Trenchant dan HMS Talent ini menjadi pengingat berharga bagi dunia pertahanan bahwa secanggih apa pun sebuah kapal selam nuklir, keberadaan senapan mesin sederhana di atas menara tetap menjadi perisai garis depan yang paling esensial ketika mereka terpaksa harus menampakkan diri di permukaan. (Haryo Adjie)
Krisis Kesiapan Tempur, Seluruh Kapal Selam Nuklir Astute Class Inggris Dilaporkan Absen Operasional


