De Grasse S636 (Suffren Class): Kapal Selam Nuklir Perancis Berkemampuan Serang Darat Tanpa VLS

Perancis baru saja memecahkan sebuah proyek raksasa yang selama ini kerap menyulitkan kekuatan angkatan laut utama dunia, yakni menyerahkan kapal selam serang nuklir (Nuclear Attack Submarine/SSN) baru lebih cepat dari jadwal semula.
Pada 24 Juni 2026, galangan kapal Naval Group secara resmi menyerahkan De Grasse (S636), yang merupakan lambung keempat dari program kapal selam Suffren class (Barracuda program), kepada Badan Pengadaan Pertahanan Perancis (DGA) dan Angkatan Laut Perancis (Marine Nationale).
Keberhasilan ini menandai sebuah rekor impresif karena proses penyerahan resmi tersebut hanya terpaut waktu empat bulan sejak kapal selam tersebut melaksanakan uji coba laut pertamanya (first sea trial) pada 24 February 2026. Laju akselerasi kilat ini membuktikan bahwa galangan yang berlokasi di Cherbourg tersebut kini telah menemukan ritme manufaktur terbaiknya setelah mempelajari seluk-beluk kendala teknis pada tiga unit kapal selam terdahulu dari kelas yang sama.
Sebagai bagian dari peremajaan alutsista bawah air, kehadiran De Grasse membawa lompatan teknologi yang jauh lebih mematikan jika dibandingkan dengan tiga unit Barracuda class sebelumnya. Laksamana Xavier Petit selaku komandan pasukan kapal selam Perancis (ALFOST) menegaskan bahwa De Grasse membawa peningkatan performa pada dua sistem non-nuklir vital, yakni versi terbaru dari sistem manajemen pertempuran SYCOBS (Combat Management System) serta paket peperangan elektronik generasi paling mutakhir.
Peningkatan tersebut secara otomatis membuat otak pertempuran dan kemampuan mengendus musuh pada kapal selam ini naik satu generasi. Bersamaan dengan penyerahan dokumen resmi tersebut, pihak otoritas juga meluruskan simpang siur mengenai kode nomor lambung yang melekat, di mana nomor resmi yang kini terpatri mantap pada struktur lambung kapal adalah S636, menggantikan nomor taktis S638 yang sempat beredar di berbagai media pertahanan selama beberapa bulan terakhir.
Le sous-marin nucléaire d’attaque (SNA) De Grasse, quatrième du programme #Barracuda, a effectué sa première sortie en mer le 24 février 2026.
Le SNA va désormais débuter ses essais en mer, avant une livraison prévue d’ici la fin de l’année 2026 au profit de la @MarineNationale . pic.twitter.com/KCgKR7GjF2— Naval Group (@navalgroup) February 25, 2026
Mengenai spesifikasi teknis, kapal selam serang ini memiliki dimensi panjang lambung mencapai 99 meter dengan lebar (beam) 8,8 meter. Saat beroperasi, De Grasse memiliki bobot perpindahan sebesar 4.700 ton saat muncul di permukaan dan membengkak menjadi 5.200 ton ketika menyelam penuh di bawah air.
Keunggulan daya jelajah tanpa batasnya disokong oleh reaktor nuklir berbasis air bertekanan (pressurized-water reactor) yang teknologinya diturunkan langsung dari sistem propulsi kapal selam rudal balistik Triomphant class dan kapal induk Charles de Gaulle. Berkat tingkat otomatisasi yang sangat masif dan canggih, De Grasse hanya membutuhkan kru yang sangat ramping, yakni 65 pelaut di luar personel pasukan khusus. Sebagai perbandingan, efisiensi jumlah kru ini setara dengan kapal selam Yasen-M class terbaru milik Rusia yang membutuhkan 64 kru namun untuk ukuran lambung raksasa 13.800 ton.
Rusia Resmi Mulai Pembangunan ‘Murmansk’, Kapal Selam Nuklir Yasen-M Class Ke-10
Satu hal yang kerap memicu perdebatan di kalangan pengamat militer adalah arsitektur peluncuran senjatanya. Kapal selam Suffren class ini menegaskan keunggulan taktisnya dengan tidak mengusung sistem peluncuran vertikal atau Vertical Launch System (VLS) konvensional seperti yang umum ditemukan pada kapal selam buatan Amerika Serikat atau Rusia.
Sebagai gantinya, Perancis berhasil meramu konfigurasi unik di mana rudal jelajah penyerang sasaran darat jarak jauh (Naval Cruise Missile/MdCN) buatan MBDA diluncurkan secara langsung dari tabung peluncur torpedo (torpedo tubes). Melalui empat tabung peluncur berdiameter 533 mm yang digendongnya, De Grasse mampu memuntahkan kombinasi maut yang terdiri dari rudal jelajah MdCN, torpedo kelas berat F21 buatan Naval Group, hingga rudal anti kapal versi modern Exocet SM39, dengan total kapasitas ruang penyimpanan senjata internal mencapai 20 unit.
Keunggulan operasional utama dari kapal selam generasi baru ini terletak pada kemampuannya untuk mendukung operasi khusus secara senyap di garis depan. Di bagian atas lambung belakangnya, terdapat fasilitas dudukan bongkar-pasang yang berfungsi sebagai hanggar kering (dry deck shelter) untuk membawa kendaraan pengantar penyelam komando PSM3G (swimmer-delivery vehicles).
Kemampuan integrasi taktis komando bawah air ini sudah teruji secara mutakhir, di mana salah satu kapal selam kelas Suffren pada musim semi ini berhasil mencetak sejarah sebagai kapal selam sekutu pertama yang sukses meluncurkan dan merecovery drone bawah air milik Angkatan Laut AS saat dalam posisi menyelam penuh. Keunggulan tersebut dipadukan dengan tiang optronik non-penetrasi dari Safran yang mampu menyuplai tangkapan video berkualitas 4K ke seluruh konsol di pusat komando tanpa perlu menembus struktur fisik lambung kapal.
Dengan sisa dua unit kapal selam lagi yang masih dalam tahap pembangunan, yakni Rubis dan Casabianca—program Barracuda Perancis kini diproyeksikan dapat rampung secara total pada tahun 2029, atau satu tahun lebih cepat dari target kontrak awal di tahun 2030. Bagi Perancis, penyerahan De Grasse dengan daya tahan operasional yang mampu bertahan di laut selama 270 hari per tahun ini merupakan langkah krusial untuk menggantikan armada tua Rubis class dari era 1980-an yang sudah usang dan bising.
Pemilihan nama De Grasse sendiri membawa pesan historis yang mendalam, merujuk pada Laksamana François Joseph Paul (Comte de Grasse) yang berhasil memukul mundur Royal Navy Inggris di Teluk Chesapeake pada tahun 1781 guna memenangkan Revolusi Amerika. Menyerahkan kapal selam dengan nama legendaris tersebut hanya hitungan hari menjelang perayaan kemerdekaan Amerika Serikat seolah menjadi penegasan Paris bahwa mereka kini telah kembali memegang kendali atas kecepatan eksekusi teknologi bawah air global secara mandiri. (Bayu Pamungkas)
Related Posts
-
Angkatan Udara Swedia Luncurkan Saab “Loke”: Sistem Senjata Anti Drone yang Dirancang Hanya Dalam Dua Bulan
No Comments | Mar 18, 2025 -
Inilah Kecanggihan Bug Nano – Drone Intai Quadcopter Terbaru Korps Marinir dan Kopaska TNI AL
4 Comments | Mar 3, 2023 -
Dokumen Pentagon Bocor: “Bom Pintar (JDAM) Kehilangan Presisi Akibat Jamming GPS Rusia”
4 Comments | Apr 21, 2023 -
Uji Kemampuan Bofors 57 MK.3, KRI Panah 626 Sukses Lalui Tahapan Live Firing Test
4 Comments | Feb 15, 2023


