Korea Utara Resmi Operasikan Choe Hyon (51), Kapal Perusak Terbesar Berkemampuan Nuklir

Angkatan Laut Korea Utara memasuki babak baru dalam doktrin pertahanan maritimnya. Dalam sebuah upacara megah yang digelar di kota pelabuhan Nampho, Korea Utara secara resmi mengoperasikan (commissioned) kapal perang terbesar yang pernah mereka bangun hingga saat ini, yaitu kapal perusak (destroyer) seberat 5.000 ton bernama Choe Hyon (51).

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Korea Utara Luncurkan Rudal Jelajah Jarak Jauh dari Kapal Perang

Upacara peresmian yang berlangsung pada Selasa, 23 Juni 2026 tersebut dihadiri langsung oleh Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un. Kehadiran Choe Hyon menjadi bukti nyata dari ambisi Pyongyang untuk mengubah postur angkatan lautnya dari sekadar kekuatan pengawal pantai (green-water navy) menjadi armada yang mampu memproyeksikan kekuatan di laut lepas (blue-water navy).

Kapal perusak pertama di kelasnya (first-in-class) ini sepenuhnya dibangun di Galangan Kapal Nampho dan pertama kali diluncurkan ke publik pada 25 April 2025. Sebelum resmi memperkuat jajaran armada, Choe Hyon telah melewati serangkaian uji coba laut (sea trials) serta pengujian sistem persenjataan yang beberapa di antaranya dipantau langsung oleh Kim Jong Un.

Meskipun detail spesifikasinya dirahasiakan, para analis militer meyakini bahwa Choe Hyon (51) telah diintegrasikan dengan sistem peluncuran vertikal (VLS) yang mampu meluncurkan rudal jelajah strategis jenis Hwasal atau Hwasong. Modifikasi ini membuat Choe Hyon resmi menyandang status sebagai kapal permukaan terbesar Korea Utara yang berkemampuan nuklir, lantaran mampu membawa dan meluncurkan hulu ledak nuklir taktis langsung dari tengah laut.

Dalam pidatonya yang dirilis oleh kantor berita resmi pemerintah, Korean Central News Agency (KCNA), Kim Jong Un menegaskan bahwa kehadiran kapal perusak ini merupakan tonggak sejarah penting. Choe Hyon dibangun secara domestik dan dipersenjatai dengan sistem persenjataan asli buatan dalam negeri. Menurut Kim, keberhasilan ini membuktikan bahwa Korea Utara tidak lagi menghadapi hambatan teknologi dalam memproduksi kapal perang kombatan permukaan berukuran besar yang siap mengemban misi pencegahan nuklir (nuclear deterrence).

Berdasarkan perintah dari Komisi Militer Pusat Partai Buruh Korea (WPK), Choe Hyon akan ditempatkan di bawah kendali Armada Laut Barat. Kapal ini ditugaskan untuk mengawal dan mempertahankan kedaulatan maritim wilayah tersebut dari apa yang disebut Pyongyang sebagai manuver provokatif negara-negara sekutu.

Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah Korea Utara memang gencar mengucurkan investasi besar-besaran untuk memodernisasi KPAN. Target utamanya adalah mentransformasikan angkatan laut menjadi korps militer penuh yang dilengkapi dengan kemampuan senjata nuklir taktis. Choe Hyon hadir memberikan daya jelajah yang jauh lebih luas, memungkinkan Pyongyang mengirimkan kapal perang sekaligus munisinya ke wilayah laut lepas yang lebih jauh.

Namun, ambisi besar ini menyisakan satu tantangan, Korea Utara saat ini membutuhkan pangkalan laut baru yang mampu menampung kapal sebesar Choe Hyon. Menanggapi hal tersebut, Kim Jong Un mengungkapkan bahwa Komite Pusat Partai telah membahas rencana pembangunan pangkalan-pangkalan angkatan laut multi-fungsi yang besar modern, yang nantinya akan berfungsi sebagai pusat komando operasi maritim sekaligus pusat kebudayaan naval.

Kapal perusak kedua di kelas ini, yang diberi nama Kang Kon (52), dijadwalkan akan dioperasikan dalam waktu dekat. Kang Kon sempat mengalami kegagalan saat peluncuran pertama pada Mei 2025 sebelum akhirnya berhasil diluncurkan kembali pada Juni 2025. Tidak berhenti di situ, dua kapal lain dari kelas yang sama saat ini sedang dalam proses konstruksi, di mana kapal ketiga ditargetkan selesai pada 10 Oktober mendatang, bertepatan dengan hari jadi berdirinya Partai Buruh Korea.

Setelah proyek Choe Hyon class selesai, Korea Utara berencana melakukan lompatan yang jauh lebih radikal. Berdasarkan rencana pembangunan angkatan laut periode 2026-2030, Pyongyang menargetkan pembangunan dua kapal permukaan setiap tahunnya. Target utamanya adalah meluncurkan kapal penjelajah strategis (strategic cruiser) berbobot 10.000 ton secara berturut-turut. Penggunaan istilah “strategis” oleh Pyongyang mengonfirmasi bahwa kapal penjelajah raksasa masa depan tersebut akan dibekali dengan kemampuan hulu ledak nuklir.

ROKS Gwanggaeto The Great (DDH-971) Sandar di Jakarta, Kapal Perusak Era 90an dari Korea Selatan

Meskipun Korea Utara masih menutup rapat detail teknis mengenai calon kapal penjelajah 10.000 ton mereka, angka tersebut secara langsung menempatkan ambisi maritim Pyongyang sejajar dengan bobot kapal-kapal perusak utama kawasan saat ini.

Sebagai perbandingan, kapal perusak kelas KDX-II milik Angkatan Laut Korea Selatan berada di kisaran 10.000 ton, sementara kapal perusak Aegis terbaru yang tengah dibangun Jepang memiliki bobot kosong 12.000 ton hingga mencapai 14.000 ton saat muatan penuh. Langkah agresif ini memastikan bahwa ketegangan geopolitik dan perlombaan senjata di perairan Semenanjung Korea akan semakin memanas di tahun-tahun mendatang. (Gilang Perdana)

Korea Selatan Resmikan ROKS Jeongjo the Great: Kapal Perusak Pertama dari KDX-III Batch II Class dengan Sistem Tempur Aegis Generasi Terbaru

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *