Pertama di Luar Amerika Utara, Australia Gandeng Rheinmetall Nioa Produksi Massal Proyektil Artileri 155mm M795

Upaya mengatasi kelangkaan amunisi artileri berat akibat tingginya intensitas palagan di Ukraina kembali mencatat babak baru. Pemerintah Australia secara resmi mengumumkan kontrak senilai 72 juta dolar Australia (sekitar US$51 juta) dengan Rheinmetall Nioa Munitions (RNM) untuk membangun lini produksi proyektil artileri kaliber 155mm varian M795.
Baca juga: Rheinmetall Bangun Joint Venture di Ukraina, Produksi 100 Ribu Amunisi 155mm Per Tahun
Pengumuman yang dirilis pada pertengahan Juni 2026 ini menandai tonggak sejarah baru dalam industri pertahanan global, sebab ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah cangkang proyektil maut M795 diizinkan untuk ditempa dan diproduksi di luar kawasan Amerika Utara.
Lini produksi baru ini akan ditempatkan di fasilitas canggih milik RNM yang berlokasi di Maryborough, Queensland, Australia. RNM sendiri merupakan sebuah perusahaan patungan (joint venture) kakap yang menggabungkan kepakaran raksasa militer Jerman, Rheinmetall AG—salah satu produsen sistem artileri dan amunisi terbesar di Eropa—dengan NIOA, perusahaan pemasok senjata serta amunisi swasta terbesar di Australia.
Aliansi strategis itu didirikan khusus untuk menyuntikkan transfer teknologi pertahanan tingkat tinggi dari Jerman, guna membangun kemampuan manufaktur amunisi berkaliber besar secara mandiri di dalam negeri Australia tanpa harus mendikte kesiapan tempur mereka pada rantai pasok global.
Angkatan Darat Australia Uji Tembak Self Tracked Propelled Howitzer AS9 Huntsman
Melalui kontrak ini, RNM akan menempa ribuan selongsong logam 155mm yang nantinya tidak hanya dialokasikan untuk memperkuat stok Angkatan Darat Australia (Australian Defence Force / ADF), melainkan juga ditujukan untuk pasar ekspor global guna memenuhi kebutuhan militer Amerika Serikat serta sekutu-sekutu Barat lainnya yang pasokannya tengah terkuras habis.
Langkah Canberra memilih RNM ini sekaligus menganulir keputusan kontroversial mereka pada tahun 2024 lalu. Kala itu, Pemerintah Australia sempat meminta Thales Australia untuk membangun kemampuan penempaan 155mm dari nol di Benalla. Keputusan masa lalu tersebut dinilai aneh oleh para analis, karena fasilitas Maryborough milik RNM sebenarnya sudah sukses menempa cangkang 155mm keluarga DM-family sejak Juni 2022 untuk diekspor ke Jerman, sebelum akhirnya diisi bahan peledak dan dikirim ke Ukraina.
Sistem Jamming Rusia Pole-21 ‘Ganggu’ Akurasi Munisi Howitzer M982 Excalibur 155mm
Menyadari bahwa memanfaatkan fasilitas yang sudah eksis jauh lebih rasional dan hemat waktu daripada membangun lini baru dari nol, Pemerintah Australia akhirnya membatalkan proyek Thales pada Juni 2025 dan mengalihkan fokus produksi M795 sepenuhnya kepada RNM. Kendati demikian, Thales tetap kecipratan dana segar sebesar 9,2 juta dolar Australia untuk modernisasi lini proyektil meriam naval 5 inci di Benalla. Secara teknis, amunisi 155mm M795 merupakan komponen vital yang sangat diandalkan oleh militer modern, termasuk digunakan langsung oleh alutsista kelas berat Australia seperti meriam tarik M777A2 dan Self-Propelled Howitzer (SPH) terbaru mereka, AS9 Huntsman.
Berdasarkan lini masa proyek, pabrik di Maryborough ditargetkan memulai produksi massal M795 pada akhir tahun 2028 dengan kapasitas reguler sebanyak 15.000 butir proyektil per tahun. Menariknya, pabrik yang diklaim Nioa sebagai fasilitas tercanggih di dunia ini dirancang memiliki kemampuan produksi darurat (surge capacity) yang masif hingga mencapai 100.000 butir proyektil per tahun jika sewaktu-waktu terjadi eskalasi konflik global skala besar. Saat ini, fasilitas tersebut bahkan sudah berhasil menggenjot operasional hingga tiga sif per hari untuk menghasilkan 3.500 badan proyektil per bulan.
Proyektil M795 kaliber 155mm merupakan amunisi artileri standar NATO yang memiliki keunggulan utama pada aspek daya hancur dan tingkat presisi yang jauh lebih mematikan dibanding pendahulunya, M107. Selongsong logamnya didesain menggunakan material baja fragmentasi tinggi (high-fragmentation steel) yang diisi dengan sekitar 10,8 kilogram bahan peledak TNT atau IMX-101, sehingga mampu menghasilkan sebaran pecahan tajam (lethal fragmentation) yang jauh lebih luas dan destruktif saat menghantam target.
Selain itu, dengan konfigurasi aerodinamis yang lebih ramping serta bobot total mencapai 47 kilogram, M795 menawarkan stabilitas terbang yang sangat baik untuk menjangkau target dengan akurasi tinggi hingga radius maksimal 22,5 kilometer—atau bisa melonjak hingga melampaui 30 kilometer jika dipadukan dengan modul pemandu khusus berteknologi GPS seperti Precision Guidance Kit (PGK). (Gilang Perdana)
KH-179 Howitzer 155mm: Meriam Tarik Kaliber Terbesar Armed TNI AD
Related Posts
-
‘Turun Gunung’, Rusia Kerahkan Pansam BTR-50 dalam Perang Ukraina
6 Comments | Mar 16, 2023 -
EDGE Group UEA Rilis Drone Kamikaze Shadow Versi Kontainer Berjarak Jangkau 250 Km
No Comments | May 17, 2026 -
Gantikan A330-200, Airbus Kembangkan Pesawat Tanker (MRTT) Baru dari Platform A330neo
No Comments | Nov 22, 2023 -
VDV K-4386 4×4 “Typhoon Airborne” – Ranpur MRAP Spesialis Pasukan Lintas Udara Rusia Beraksi di Ukraina
1 Comment | Mar 18, 2023


